Akun
guest@beritabali.com
Beritabali ID: —
Langganan
Beritabali Premium Aktif
Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium
- Minggu, 25 Oktober 2026
Perajin Wayang di Buleleng Makin Langka, Regenerasi Didorong
BERITABALI.COM, BULELENG.
Keberadaan perajin wayang tradisional di Kabupaten Buleleng semakin terbatas. Kondisi ini menjadi tantangan dalam menjaga keberlanjutan seni pewayangan sekaligus mendorong lahirnya seniman dan perajin muda.
Pemerintah Kabupaten Buleleng melalui Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) berupaya mendorong regenerasi dengan menggelar lomba membuat wayang dan prasi di Gedung Sasana Budaya, Rabu (16/9/2026).
Lomba tersebut diikuti perwakilan dari sembilan kecamatan. Setiap kecamatan mengirimkan satu peserta untuk lomba membuat wayang dan satu peserta untuk lomba prasi.
Baca juga:
Gerabah Tradisional di Kapal Tetap Bertahan, KUR BRI Perkuat Perajin Menjaga Tradisi Pengabenan Bali
Peserta yang mengikuti lomba berada pada rentang usia 15 hingga 25 tahun. Mereka diberikan waktu lima jam untuk menyelesaikan karya masing-masing.
Kepala Disbudpar Buleleng, Nyoman Wisandika, mengatakan pelaksanaan lomba tahun ini dibuat lebih sederhana dengan hanya mempertandingkan dua jenis lomba, yakni membuat wayang dan prasi.
Pada lomba membuat wayang, peserta mendapat tema tokoh Sahadewa. Tokoh tersebut menjadi bagian terakhir dari rangkaian Pandawa yang sebelumnya telah digunakan sebagai tema lomba, mulai dari Yudistira, Bima, Arjuna hingga Nakula.
Sementara itu, lomba prasi mengangkat tema Sutasoma. Menurut Wisandika, kegiatan tersebut tidak hanya ditujukan untuk mencari pemenang, tetapi juga menjadi sarana mengenalkan kembali seni tradisi kepada generasi muda.
"Salah satunya memang untuk regenerasinya, terutama prasi itu. Karena prasi itu kan cerita bergambar. Cerita di atas daun lontar, itu memang agak susah. Termasuk wayangnya," kata Wisandika.
Ia berharap peserta yang memiliki ketertarikan terhadap seni wayang dan prasi dapat terus memperoleh pembinaan. Dengan demikian, kegiatan tersebut dapat menjadi pintu masuk untuk menumbuhkan seniman dan pengrajin baru.
"Tentu ini juga sebagai upaya-upaya dari Dinas Kebudayaan dan Pariwisata, kemudian Gedong Kirtya untuk terus melakukan pelestarian, perlindungan pelestarian adat budaya yang kita miliki, khususnya di Buleleng," ujarnya.
Sementara itu, tim juri sekaligus pengrajin wayang, Ketut Reka, mengatakan karakter khas wayang Buleleng menjadi salah satu aspek yang diperhatikan dalam penilaian.
Penilaian tidak hanya melihat hasil akhir karya, tetapi juga mencakup gaya wayang Buleleng, estetika bentuk, ukiran hingga pewarnaan.
Reka menjelaskan, wayang Buleleng memiliki karakter berbeda dengan wayang dari daerah lain di Bali. Bahkan, gaya wayang di Buleleng juga terbagi antara karakter Buleleng Barat dan Buleleng Timur.
"Di Bali itu ada banyak style (wayang), termasuk Bali Selatan pun mereka punya style masing-masing. Jadi, Buleleng itu ada juga terbagi dua, di bagian Buleleng Barat sama Buleleng Timur. Beda juga jenis style wayang, dari bentuk dan ukirannya juga beda," katanya.
Menurut Reka, karakter klasik menjadi salah satu ciri yang melekat pada wayang Buleleng. Kekhasan tersebut perlu terus dikenalkan kepada generasi muda agar keberlangsungannya tidak terputus di tengah perkembangan zaman.
Namun, ia mengakui regenerasi menjadi tantangan karena jumlah pengrajin yang masih memiliki keterampilan membuat wayang secara tradisional semakin sedikit.
"Wayang ini sebenarnya semakin tertinggal, terutama pengrajin. Saat ini pengrajin wayangnya sudah jarang-jarang," ujarnya.
Menurutnya, lomba dapat menjadi salah satu cara membuka ketertarikan generasi muda terhadap dunia pewayangan. Pengenalan tidak hanya dilakukan melalui tokoh dan cerita, tetapi juga melalui proses kreatif di balik pembuatan wayang.
"Dengan lomba ini selain pengenalan tokoh-tokoh atau karakter wayang. Kita harap sekaligus bisa memancing ketertarikan juga untuk seni ukirannya, seni ringgitannya," ucapnya.
Editor: Redaksi
Reporter: bbn/rat
Berita Terpopuler
Mess di Panjer Diserang 19 Orang, Empat Pemuda Luka
Dibaca: 5686 Kali
Perempuan 36 Tahun Akhiri Hidup di Kamar Kos Tulikup Gianyar
Dibaca: 4587 Kali
Rem Blong, Dua Pria Tewas Kecelakaan di Sukasada
Dibaca: 2530 Kali
Telkom Resmi Spin-Off Infrastruktur Fiber ke InfraNexia
Dibaca: 2191 Kali
Menkum Dorong WIPO Buat Standar Global Royalti, Karya AI Tak Dilindungi
Dibaca: 2183 Kali
ABOUT BALI
Misteri Lontar Lombok yang Tersimpan di Museum Dukuh Penaban Karangasem
Nyenuk Ngingkup di Tampaksiring Kembali Digelar Setelah 48 Tahun
Guruh Sudah Meramal Overtourism Bali pada Lagu "Chopin Larung" 1975
Ban Truk Meledak, Sopir Tewas di Rest Area Pekutatan