Akun
guest@beritabali.com
Beritabali ID: —
Langganan
Beritabali Premium Aktif
Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium
- Minggu, 25 Oktober 2026
Petani Adukan Kekerasan ke Mabes Polri
Jakarta
BERITABALI.COM, NASIONAL.
Beritabali.com, Jakarta. Mabes Polri kedatangan tamu dari koalisi Nasional Reforma Agraria Anti Kriminalisasi Pejuang Agraria, Senin, (9/9/2013). Kedatangan Koalisi ini adalah terkait aksi tindak kekerasan yang dilakukan oleh sejumlah aparat kepolisian Polres Indramayu dan Preman terhadap puluhan Petani (Serikat Tani Indramayu) pada minggu, 25 Agustus lalu.
Dalam audiensi dan pelaporan ini, koalisi diterima oleh Kepala Bagian Analisa dan Evaluasi Mabes Polri Kombes Pol Rusli Hedyaman, di Kantor Divisi Humas Mabes Polri. Dalam pertemuan di Mabes Polri Jl. Trunojoyo, Jaksel ini Rusli mengatakan akan meneruskan laporan para petani yang tergabung dalam koalisi kepada Bareskrim Polri, Propam dan Kapolri langsung.
Petani yang menyampaikan langsung tindak kekerasan dan intimidasi juga melaporkan adanya upaya pembubaran dan pelemahan organisasi STI. Para petani mengatakan bahwa masih terjadi pemaksaan kepada para anggota STI untuk keluar dari organisasi. Hal ini adalah wujud pelanggaran kebebasan berkumpul dan berserikat yang diamanatkanoleh UUD 1945 Pasal pasal 28 yaitu “kemerdekaan berserikat dan berkumpul mengeluarkan pikiran dengan lisan dan tulisan dan sebagainya ditetapkan dengan undang-undang”.
Upaya pelaporan tindak kekerasan aparat terhadap petani Indramayu ini adalah bagian dari tahapan advokasi para korban perampasan tanah akibat rencana pembangunan waduk Bubur Gadung di Indramayu. Dalam keterangan yang disampaikan, koalisi juga mendesak agar polisi segera membebaskan 5 pejuanga agraria STI yang masih ditahan di Polda Jabar. Kedua, Hentikan intimidasi dan teror kepada Serikat Tani Indramayu. Ketiga, Tinjau ulang MoU TNI – Polri tentang Kamnas dan Cabut MoU BPN-POLRI-TNI tentang penanggulangan konflik agraria.
Pada kesempatan yang sama Fadil Kirom mewakili Aliansi Petani Indonesia mengatakan bahwa dalam konteks kriminalisasi STI, adalah wujud konkret kegagalan negara dalam melindungi hak warga negara terutama hak atas tanah.
Sementara itu Kent Yusriansyah mewakili Konsorsium Pembaruan Agraria mengatakan “Kami melihat modus umum yang dilakukan oleh aparat kepolisian dalam penanganan kasus/konflik agraria selama ini sangat barbar”, tegas Kent.
Kent menjelaskan bahwa, pasca kasus Ogan Ilir (Sumsel) dan sejumlah kejadian yang melibatkan kepolisian dalam penanganan konflik lahan (agraria) adalah: Kriminaliasai dan penangkapan kepada pimpinan organisasi rakyat (tani) oleh aparat kepolisian yang sering mengunakan jerat pidana dengan pasal-pasal 160, 170, 187, 365 dan 406 KUHP (Pasal-pasal karet yang sering digunakan pemerintah Kolonial Belanda waktu itu dalam menghabisi perjuangan rakyat).
“Modus susulannya adalah intimidasi kepada warga/basis agar segera mengakhiri perjuangan dan sudah barang tentu jika perjuangan tani semakin mengeras maka politik bumi hangus kerap dilakukan dengan diiringi tindakan brutal dalam bentuk penembakan, penganiayaan kepada petani”. Tutup Kent.
Dalam Catatan KPA sepanjang 2004-2012 sedikitnya 941 orang ditahan, 396 mengalami luka-luka, 63 orang diantaranya mengalami luka serius akibat peluru aparat, serta meninggalnya 54 petani/warga di seluruh wilayah RI. (ctg/*)
Reporter: -
Berita Terpopuler
Mess di Panjer Diserang 19 Orang, Empat Pemuda Luka
Dibaca: 5698 Kali
Perempuan 36 Tahun Akhiri Hidup di Kamar Kos Tulikup Gianyar
Dibaca: 4587 Kali
Rem Blong, Dua Pria Tewas Kecelakaan di Sukasada
Dibaca: 2536 Kali
Telkom Resmi Spin-Off Infrastruktur Fiber ke InfraNexia
Dibaca: 2192 Kali
Menkum Dorong WIPO Buat Standar Global Royalti, Karya AI Tak Dilindungi
Dibaca: 2183 Kali
ABOUT BALI
Misteri Lontar Lombok yang Tersimpan di Museum Dukuh Penaban Karangasem
Nyenuk Ngingkup di Tampaksiring Kembali Digelar Setelah 48 Tahun
Guruh Sudah Meramal Overtourism Bali pada Lagu "Chopin Larung" 1975
Ban Truk Meledak, Sopir Tewas di Rest Area Pekutatan