Akun
guest@beritabali.com
Beritabali ID: —
Langganan
Beritabali Premium Aktif
Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium
- Sabtu, 16 Mei 2026
Seni Pereret, Riwayatmu Kini
Beritabali.com, Negara
BERITABALI.COM, JEMBRANA.
Mungkin generasi muda sekarang ini tidak banyak yang tahu tentang seni pereret. Sebagai salah satu seni yang terbilang berusia cukup tua, keberadaan seni pereret sudah semakin terpinggirkan di tengah-tengah euphoria pelestarian seni dan budaya Bali. Bagaimanakah nasib seni pereret di Jembrana ?
Seni pereret merupakan salah satu seni yang dimainkan dengan meniup perangkatnya yang dibuat dari bambu mirip suling. Cara memainkannyapun mirip suling dengan menekan tujuh lubang yang terdapat dalam satu bilah alat musik pereret.
Baca juga:
Pameran Badung UMKM Week 2022
Perbedaannya, jika suling ditiup dengan melintangkan perangkatnya sedangkan pereret ditiup seperti layaknya memainkan saxophone. Perbedaan lainnya dengan suling, salah satu ujungnya dilengkapi dengan sejenis corong yang terbuat dari kayu. Biasanya, pencinta seni pereret memainkan nada-nada sejenis kidung, pupuh, sewagati, dan tamtam.
Konon, lantaran merdunya suara pereret ini mampu memikat perempuan yang mendengarkannya. Asal muasal seni pereret di Jembrana tidak bisa diketahui pasti karena tidak banyak catatan maupun sumber yang mengetahui pasti keberadaannya.
Sekaa pereret Swara Wanagitha di Desa Batuagung, Jembrana merupakan salah satu sekaa pereret yang masih eksis hingga saat ini di tengah derasnya arus modernisasi.
Saat dibentuk tahun 1990, sekaa pimpinan Ida Bagus Kade Tama ini beranggotakan 25 orang namun kini anggota yang tersisa hanya 15 orang yang tersebar pada sembilan dusun yang ada di Batuagung. Kebanyakan anggota kami sudah sepuh sehingga satu persatu meninggal, ujar Tama ketika ditemui, Sabtu (23/1).
Oleh anggotanya, perangkat pereret yang mudah lapuk itu masih terpelihara dengan baik. “Jika ada yang tidak bisa digunakan, ada anggota kami yang bisa membuatnya, terang Tama.
Masa-masa awal ketika sekaa ini dibentuk diakui Tama sebagai masa keemasan. “Kami sering ikut PKB dan malah pernah diundang untuk ikut festival Istiqlal di Jakarta tahun 1995 lalu.
Selain itu kami juga sering diundang untuk menyambut tamu-tamu pemerintah, terangnya. Namun masa keemasan itu kian lama kian surut seiring dengan penurunan jumlah anggotanya. Namun sekarang kami sudah jarang terima undangan, keluhnya.
Tama juga mengakui pihaknya sangat sulit merekrut anggota baru untuk alih generasi lantaran jarang sekali anak-anak muda berminat terhadap kesenian langka ini.
Sebenarnya pemerintah bisa mengambil peran untuk membantu melestarikan kesenian-kesenian langka seperti pereret ini agar tidak keburu punah, tambahnya.
Reporter: bbn/ctg
Berita Terpopuler
Remaja di Karangasem Ditemukan Tewas Tergantung di Pohon Jati
Dibaca: 1406 Kali
Isu Duet dengan AWK di Pilgub 2030, Ini Respons De Gadjah
Dibaca: 1068 Kali
Pemerintah Dorong KEK Kura Kura Bali Jadi Pusat Keuangan Global
Dibaca: 910 Kali
Polisi Bongkar Praktik LC di Bawah Umur di Kafe Gianyar
Dibaca: 810 Kali
ABOUT BALI
Wali Panguangan, Tradisi Sakral Syukuran Panen di Desa Mengani Bangli
Perang Tipat Sayan, Tradisi Syukur Petani Jaga Kesuburan Sawah
Sakralnya Bale Gajah Pura Besakih, Tak Sembarangan Orang Bisa Naik