Akun
guest@beritabali.com
Beritabali ID: —
Langganan
Beritabali Premium Aktif
Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium
Subak Jaka Desa Kukuh Tabanan Panen Padi Organik Seluas 2,5 Hektar
BERITABALI.COM, TABANAN.
Subak Jaka di Desa Kukuh, Kecamatan Marga pada Senin, (21/10) melakukan panen padi organik di lahan seluas 2,5 hektare dilaksanakan oleh Balai Penerapan Standar Instrumen Pertanian (BPSIP) Bali bekerja sama dengan Badan Riset dan Inovasi Daerah (Brida) Provinsi Bali.
Tampak pada panen perdana ini Kadis Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi Bali Wayan Sunada. Saat panen padi ini, turut mendampingi Kadis Pertanian Tabanan Made Subagia Kepala Brida Provinsi Bali, Kepala Brida Kabupaten Tabanan, BPSIP Bali, dan praktisi pertanian organik.
Usai panen secara simbolis dilanjutkan dengan temu lapang dan penandatanganan kesepakatan jual beli hasil panen dari Pekaseh Subak Jaka, Ir I Wayan Yusa dengan pimpinan Somya Pertiwi I Nengah Suarsana.
Baca juga:
Dibayangi Tanah Retak Akibat Kemarau, Petani Desa Petak Berhasil Panen Padi Organik 15 Hektare
Dalam kesepakatan itu, Somya Pertiwi membeli gabah Rp 8.500 per-kilogram. Kegiatan pengembangan pertanian organik melalui inovasi teknologi dan dampak penerapan pertanian organik terhadap produksi tanaman padi dan pendapatan petani di Subak Jaka dengan menanam varietas padi beras merah inpari Arumba dan Baroma.
“Hasilnya nasi merah beraroma wangi,” kata Jro Mangku Yusa sapaan akrab Wayan Yusa.
Jro Mangku Yusa mengatakan, baru pertama kali menanam varietas padi beras merah inpari Arumba. Panen di lahan seluas 2,5 hektare juga belum selesai sehingga belum bisa menyampaikan rata-rata hasil panen per hektare.
Ia menegaskan, pertanian organik di Subak Jaka Kukuh sudah mendapatkan sertifikat organik dari Lesos sejak tahun 2019. Hasil panen padi organik varietas Inpari 32 rata-rata 6 ton per hektare. Untuk pemasaran, Jro Mangku Yusa menjalin kerja sama dengan Perpadi dan pengusaha lainnya, salah satunya pemerhati pertanian organik dari India dan Jerman. Kerja sama seluas 2 hektare dengan perjanjian gabah kering panen dibeli Rp 8.500 per-kilogram.
“Kemarin sudah dibayar secara transfer Rp 80,9 juta. Dari luas 2 hektare menghasilkan gabah 9,5 ton. Varietas padi yang kami tanam, bibitnya dari India,” terang Jro Mangku Yusa.
Terkait program bersama BSIP Bali dan Brida Provinsi Bali, Subak Jaka mendapatkan bibit, pupuk, dan pendampingan. Hasil panen dibeli oleh Somya Pertiwi dengan harga Rp 8.500 per kilogram gabah kering panen.
“Dengan harga lebih tinggi dari padi konvensional, semoga petani konsisten menerapkan pertanian organik,” ujarnya.
Kadis Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi Bali, Dr Wayan Sunada, siap menjembatani petani agar konsisten menerapkan pertanian organik. Dia mendorong kelompok tani mengajukan proposal untuk mendapatkan alat mesin pertanian (alsintan).
“Proposal paling lambat diajukan pada bulan Maret,” ujar Sunada.
Sunada mengapresiasi petani Subak Jaka yang menerapkan pertanian organik. Pejabat asal Banjar Lodalang, Desa Kukuh, Marga ini mengatakan, pendampingan kepada petani tak hanya dilakukan saat penanaman saja. Para petani juga diajarkan membuat pupuk cair maupun padat memanfaatkan bahan di lingkungan sekitar.
“Kami edukasi petani membuat pupuk nabati dan hayati,” ungkap Sunada.
Editor: Redaksi
Reporter: bbn/tab
Berita Terpopuler
Mess di Panjer Diserang 19 Orang, Empat Pemuda Luka
Dibaca: 5941 Kali
Perempuan 36 Tahun Akhiri Hidup di Kamar Kos Tulikup Gianyar
Dibaca: 4656 Kali
Rem Blong, Dua Pria Tewas Kecelakaan di Sukasada
Dibaca: 2626 Kali
Telkom Resmi Spin-Off Infrastruktur Fiber ke InfraNexia
Dibaca: 2281 Kali
Menkum Dorong WIPO Buat Standar Global Royalti, Karya AI Tak Dilindungi
Dibaca: 2222 Kali
ABOUT BALI
Misteri Lontar Lombok yang Tersimpan di Museum Dukuh Penaban Karangasem
Nyenuk Ngingkup di Tampaksiring Kembali Digelar Setelah 48 Tahun
Guruh Sudah Meramal Overtourism Bali pada Lagu "Chopin Larung" 1975
Ban Truk Meledak, Sopir Tewas di Rest Area Pekutatan