Akun
guest@beritabali.com
Beritabali ID: —
Langganan
Beritabali Premium Aktif
Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium
Trending:
- Kamis, 29 Oktober 2026
Tradisi Macaru Mejaga-Jaga, Darah Sapi Diyakini Hindari Malapetaka Warga Desa
Sabtu, 11 Agustus 2018,
14:35 WITA
Follow
IKUTI BERITABALI.COM DI
GOOGLE NEWS
BERITABALI.COM, KLUNGKUNG.
Beritabali.com,Klungkung. Bertepatan dengan tilem sasih karo, Kelurahan Semarapura Kaja, Klungkung menggelar tradisi mecaru mejaga-jaga di Desa Pakraman Besang Kawan Tohjiwa, Sabtu (11/8) kemarin. Tradisi mengarak sapi berdarah yang sebelumnya telah ditebas ini digelar tiap tahun dengan tujuan untuk menghindari terjadinya malapetaka bagi warga desa.
[pilihan-redaksi]
Dipusatkan di catus pata desa setempat, upacara diawali sekitar pukul 07.00 Wita, sapi pilihan yang sudah dimandikan itu mulai diarak oleh warga yang didominasi anak anak muda tersebut. Sapi yang diikat dengan tujuh tali itu pertama kali diarak ke arah utara sampai di ujung desa sebelah utara. Persisnya di depan Pura Puseh desa setempat. Di sana, digelar proses upacara. Sapi ditebas pada pantat sebelah kanan oleh pemangku catus pata. Sapi tersebut ditebas menggunakan blakas sudamala yang disakralkan. Darahnya pun berceceran.
Dipusatkan di catus pata desa setempat, upacara diawali sekitar pukul 07.00 Wita, sapi pilihan yang sudah dimandikan itu mulai diarak oleh warga yang didominasi anak anak muda tersebut. Sapi yang diikat dengan tujuh tali itu pertama kali diarak ke arah utara sampai di ujung desa sebelah utara. Persisnya di depan Pura Puseh desa setempat. Di sana, digelar proses upacara. Sapi ditebas pada pantat sebelah kanan oleh pemangku catus pata. Sapi tersebut ditebas menggunakan blakas sudamala yang disakralkan. Darahnya pun berceceran.
Kemudian, sapi tersebut kembali diarak krama (warga) menuju arah selatan hingga di batas desa. Persis di depan Pura Dalem, dilakukan proses upacara yang tak jauh beda dengan upacara di perbatasan desa sebelah utara. Sapi ditebas pada pantat bagian kiri. Selanjutnya diarak kembali ke catus pata, sebelum akhirnya diarak lagi ke arah timur sampai di perbatasan desa sebelah timur. Di sana, sapi yang tampak kelelahan itu kembali ditebas pada pantat sebalah kanan.
“Diarak ke barat sampai di depan Pura Prajapati. Kaki belakang mana yang lebih agak ke belakang, itu ditebas. Kemudian kembali ke catus pata untuk upacara selanjutnya,” jelas pegawai di Kelurahan Semarapura Kaja itu.
Ditambahkan, ceceran darah sapi itu diyakini sebagai darah kurban untuk menjaga desa setempat. Baik skala maupun niskala. “Intinya menetralkan atau membersihkan alam. Baik parhyangan, pawongan dan pelemahan,” bebernya.
Melihat banyaknya darah yang sudah keluar dari tubuh sapi tersebut, warga setempat pun berebut mengambil darah untuk dioleskan dibagian tubuh mereka masing masing. Sebagian malah mengusapkan darah sapi ke wajah mereka. Darah sapi itu dipercaya dapat mengobati penyakit.
[pilihan-redaksi2]
Upacara mecaru mejaga-jaga ini menggunakan seekor sapi pilihan. Tidak boleh cacat, sudah dikebiri dan hanya bisa dipilih oleh keturunan pemangku prajapati, pemangku catus pata, serta pamong dalem. Warga desa sepakat tidak berani mengubah rentetan tradisi yang sudah diwariskan secara turun-menurun itu. Konon, tradisi itu pernah ditiadakan dengan alasan kesibukan krama melaksanakan upacara ngaben. Ternyata, beberapa orang meninggal di sana. Petani juga gagal panen.
Upacara mecaru mejaga-jaga ini menggunakan seekor sapi pilihan. Tidak boleh cacat, sudah dikebiri dan hanya bisa dipilih oleh keturunan pemangku prajapati, pemangku catus pata, serta pamong dalem. Warga desa sepakat tidak berani mengubah rentetan tradisi yang sudah diwariskan secara turun-menurun itu. Konon, tradisi itu pernah ditiadakan dengan alasan kesibukan krama melaksanakan upacara ngaben. Ternyata, beberapa orang meninggal di sana. Petani juga gagal panen.
“Sampai sekarang kami tidak berani tak menggelarnya. Ketika tidak dilaksanakan prosesi upacara ini, maka akan terjadi malapetaka,” ujar Bendesa Desa Pakraman Besang Kawan Tohjiwa, Wayan Sulendra didampingi Petajuh, Komang Karyawan. Upacara tersebut juga dihadiri Wakil Bupati Klungkung Made Kasta didampingi Ny. Sri Kasta. (bbn/rlsklk/rob)
Berita Klungkung Terbaru
Berita Premium
Reporter: -
Berita Terpopuler
01
Mess di Panjer Diserang 19 Orang, Empat Pemuda Luka
Dibaca: 5957 Kali
02
Perempuan 36 Tahun Akhiri Hidup di Kamar Kos Tulikup Gianyar
Dibaca: 4661 Kali
03
Rem Blong, Dua Pria Tewas Kecelakaan di Sukasada
Dibaca: 2647 Kali
04
Telkom Resmi Spin-Off Infrastruktur Fiber ke InfraNexia
Dibaca: 2297 Kali
05
Menkum Dorong WIPO Buat Standar Global Royalti, Karya AI Tak Dilindungi
Dibaca: 2230 Kali
ABOUT BALI
Misteri Lontar Lombok yang Tersimpan di Museum Dukuh Penaban Karangasem
Kamis, 8 Oktober 2026
Nyenuk Ngingkup di Tampaksiring Kembali Digelar Setelah 48 Tahun
Sabtu, 3 Oktober 2026
Guruh Sudah Meramal Overtourism Bali pada Lagu "Chopin Larung" 1975
Sabtu, 26 September 2026
Ban Truk Meledak, Sopir Tewas di Rest Area Pekutatan
Senin, 21 September 2026
Menelusuri Jejak Arsitektur Taman Soekasada Ujung
Senin, 21 September 2026