Akun
guest@beritabali.com
Beritabali ID: —
Langganan
Beritabali Premium Aktif
Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium
- Senin, 17 Agustus 2026
Presiden & Kabinet
Denpasar
BERITABALI.COM, DENPASAR.
Sedikitnya 1000 orang petani, nelayan, seniman, aktivis lingkungan, tokoh agama, komunitas muda, dan kelompok masyarakat lainnya akan berkumpul dalam Parade Budaya untuk Keadilan Iklim pada 8 Desember 2007 ini di Lapangan Renon Denpasar.
Kelompok masyarakat ini akan menyuarakan seruan untuk kebijakan perubahan iklim yang menyelamatkan lingkungan, masyarakat adat, dan semua masyarakat yang terdampak langsung oleh pemanasan global. Mereka akan mendeklarasikan sebuah gagasan kearifan lokal untuk penyelamatan bumi di kantor DPRD Bali.
Parade Budaya untuk Keadilan Iklim ini akan berlangsung seharian. Diisi dengan rembug publik, parade budaya, panggung rakyat, dan pasar rakyat (pameran).
Rembug rakyat akan dimulai pukul 09.00 pagi di Wantilan DPRD Bali pada 8 Desember. Setiap perwakilan kelompok nelayan, petani, seniman, remaja, perempuan, perajin, dan lainnya akan menyuarakan seruannya masing-masing. Semua suara-suara untuk kebijakan perubahan ilim yang berkeadilan ini kemudian dideklarasikan.
Setelah itu, peserta bergerak ke Kantor Gubernur dan mengelilingi Lapangan Renon dalam aksi parade budaya, sebelum berkumpul di tengah lapangan Renon. Acara yang berlangsung sampai malam ini akan diisi orasi, kampanye, dan diskusi oleh seluruh elemen yang mendukung parade budaya ini.
Presiden, Wakil Presiden, dan kabinet Republik Mimpi juga akan bergabung bersama rakyat untuk kampanye keadilan iklim ini. Si Butet Yogya (SBY) dan wakil presidennya dari Tim Newsdot.com, sebuah tayangan televisi yang mengupas persoalan sosial politik secara bernas akan menyumbangkan gagasannya. Selain itu ada juga Rieke Dyah Pitaloka, Franky Sahilatua, Tantowi Yahya, dan lainnya.
Tak hanya aktivis lingkungan nasional, sejumlah komunitas internasional pun menyatakan kesertaannya dalam parade ini. Panitia juga mengantisipasi sampah yang dihasilkan dari acara besar ini dengan melakukan pengolahan sampah dengan memilahnya menjadi sampai organik dan anorganik. Lapangan Renon juga dibersihkan dari kendaraan karena pusat parkir disediakan di kantor DPRD Bali.
Parade Budaya ini adalah salah satu bagian kampanye yang digagas Kolaborasi Bali untuk Climate Change. Program lain yang telah ditawarkan dan diapresiasi di UNFCCC Nusa Dua adalah Nyepi International untuk Dunia.
Kolaborasi Bali ini terdiri dari sejumlah LSM lingkungan dan tokoh masyarakat seperti Yayasan Wisnu, Walhi Bali, PPLH Bali, Bali Organic Asociation, Pedanda Tianyar Arimbawa, Bhagawan Dwija, Nyoman Sadra, dan lainnya.
Selain itu sejumlah komunitas dan LSM non lingkungan pun terlibat seperti komunitas sepeda, green student environment, Kita Sayang Remaja (Kisara), seniman rakyat joged bumbung, anak band, dan lainnya.
Momentum ini penting karena mengambil tempat di Bali, bisa jadi sejarah Bali. Ini peluang bersuara untuk masyarakat Bali yang terkena dampak perubahan iklim. Suara-suara mereka selama ini tenggelam di riuhnya konferensi Nusa,†ujar Nyoman Sri Widhiyanti, Direktur Walhi Bali. (gus)
Reporter: bbn/ctg
Berita Terpopuler
Suami Tusuk Istri dan Mertua di Penatih
Dibaca: 4562 Kali
Siswi SMP di Sidakarya Diduga Diperkosa Karyawan Ayahnya
Dibaca: 2364 Kali
Pria 28 Tahun Diduga Tewas Gantung Diri di Belakang Rumah Payangan
Dibaca: 2019 Kali
Pelajar 14 Tahun Tewas Kecelakaan di Manggis Karangasem
Dibaca: 1629 Kali
Sterilisasi Pelabuhan Gilimanuk Mulai 5 Agustus
Dibaca: 1068 Kali
ABOUT BALI
Riset BRIN Ungkap Alasan Masyarakat Bali Mulai Memilih Krematorium untuk Ngaben
Tradisi Mepatung di Bangli, Penampahan Galungan yang Pererat Persaudaraan
Video Langka Calonarang dan Janger Pegok 1937 Ditemukan di Jerman
Tradisi Wadak di Mengani Tetap Lestari, Desa Batasi Satu Godel Setahun