Akun
guest@beritabali.com
Beritabali ID: —
Langganan
Beritabali Premium Aktif
Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium
- Rabu, 29 Juli 2026
-
Amlapura
BERITABALI.COM, NASIONAL.
Sebelum kasus pembunuhan Aiptu Komang Alit Srinata dan 3 anggota keluarganya terkuak karena diracun seorang dukun, warga setempat sempat menghubungkannya dengan 'cetik'. Bagi masyarakat Bali, kata cetik berkonotasi mengerikan dan sangat negatif, seperti halnya santet. Kini misteri itu terkuak. Cetik itu dipastikan racun Potasium.
Bila menyebut kata 'cetik' di Bali, maka orang akan langsung membayangkan hal-hal negatif sekaligus mengerikan. Cetik itu selalu identik dengan sifat menyakiti sesama dengan mengunakan ilmu hitam atau black magic.
Nah, ketika jenazah Aiptu Alit Srinata dan 3 keluarganya ditemukan tewas di rumahnya, warga sekitar langsung mengkaitkannya dengan kata cetik. Dugaan yang belakangan terbukti ngawur ini berasal dari kondisi tubuh para korban yang nihil kekerasan fisik dan sebelumnya sempat dikunjungi balian atau dukun.
Namun semua praduga ini kini berakhir. Dari hasil otopsi dan uji labforensik, cetik yang mengerikan itu sudah diketahui jenisnya yakni berupa racun potasium.Tersangka yang dukun atau tabib ini meracun para korban dengan Potasium atau portas yang biasa untuk meracun ikan, jelas Kapolres Karangasem AKBP Istiyono kepada wartawan hari ini. (ctg)
Reporter: bbn/ctg
Berita Terpopuler
Pemuda di Kintamani Ditemukan Tewas Tergantung di Kebun
Dibaca: 3883 Kali
Anggota DPRD Gianyar Wayan Gede Sudarta Meninggal di Malaysia
Dibaca: 2802 Kali
Guru SD di Singaraja Dilaporkan atas Dugaan Pencabulan Siswi
Dibaca: 2030 Kali
Klinik Polres Jembrana Raih FKTP Terbaik I di Bidokkes Award 2026
Dibaca: 1975 Kali
Polisi Tangkap Terduga Pelaku Pelecehan Siswi SD di Payangan
Dibaca: 1802 Kali
ABOUT BALI
Riset BRIN Ungkap Alasan Masyarakat Bali Mulai Memilih Krematorium untuk Ngaben
Tradisi Mepatung di Bangli, Penampahan Galungan yang Pererat Persaudaraan
Video Langka Calonarang dan Janger Pegok 1937 Ditemukan di Jerman
Tradisi Wadak di Mengani Tetap Lestari, Desa Batasi Satu Godel Setahun