Akun
guest@beritabali.com
Beritabali ID: —
Langganan
Beritabali Premium Aktif
Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium
- Kamis, 30 Juli 2026
Tahun 2008, 14 Ekor Satwa Lahir
BERITABALI.COM, GIANYAR.
Bali Safari dan Marine Park (BSMP), Gianyar sampai saat ini telah melahirkan 14 ekor satwa sejak dibuka pada tanggal 9 Oktober 2007. Demikian yang disampaikan oleh Dita Cahyani, Curator of Education and Conservation. "Koleksi satwa yang dimiliki adalah 80 spesies dengan total 400 ekor satwa. Dan sekarang setelah hampir 7 bulan dibuka, BSMP memiliki tambahan sekitar 14 ekor satwa," ungkapnya.
Terus satwa-satwa apa saja yang lahir tersebut, ditanya seperti ini, Cahyani didampingi Theresia Dewi, Sales Marketing BSMP menjelaskan sampai saat ini, di BSMP lahir anak Singa Afrika (Panthera leo) sebanyak 2 ekor, Blackbuck (Antilope cervicapra) 3 ekor, Nilgai (Boselaphus tragocamelus) 2 ekor, Banteng (Bos javanicus) 1 ekor, Harimau Benggala (Panthera tigris tigris) 2 ekor, GNU (Connochaetes taurinus) 1 ekor, Waterbuck (Kobus ellipsyprymnus) 2 ekor, Watusi (Watussi watussi) 1 ekor.
Sementara itu, pada bulan Oktober 2007, 4 ekor satwa dilahirkan dari jenis Blackbuck, Waterbuck dan Watusi, sedangkan yang terakhir lahir adalah Nilgai 1 ekor, pada bulan Maret 2008. "Ya, sampai kini satwa disini terus mengalami perkembangan," kata wanita kelahiran Denpasar ini.
Reporter: bbn/sin
Berita Terpopuler
Pemuda di Kintamani Ditemukan Tewas Tergantung di Kebun
Dibaca: 3896 Kali
Anggota DPRD Gianyar Wayan Gede Sudarta Meninggal di Malaysia
Dibaca: 2962 Kali
Guru SD di Singaraja Dilaporkan atas Dugaan Pencabulan Siswi
Dibaca: 2053 Kali
Klinik Polres Jembrana Raih FKTP Terbaik I di Bidokkes Award 2026
Dibaca: 2025 Kali
Polisi Tangkap Terduga Pelaku Pelecehan Siswi SD di Payangan
Dibaca: 1812 Kali
ABOUT BALI
Riset BRIN Ungkap Alasan Masyarakat Bali Mulai Memilih Krematorium untuk Ngaben
Tradisi Mepatung di Bangli, Penampahan Galungan yang Pererat Persaudaraan
Video Langka Calonarang dan Janger Pegok 1937 Ditemukan di Jerman
Tradisi Wadak di Mengani Tetap Lestari, Desa Batasi Satu Godel Setahun