Akun
guest@beritabali.com

Beritabali ID:


Langganan
logo
Beritabali Premium Aktif

Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium




Mengungkap Sisi Gelap Pulau Dewata

Marburg

Minggu, 3 Agustus 2008, 14:39 WITA Follow
Beritabali.com

Beritabali.com

IKUTI BERITABALI.COM DI GOOGLE NEWS

BERITABALI.COM, DENPASAR.

Menyibak sebuah tabir di dalam gelapnya sisi pulau dewata bagi sejumlah penyandang gangguan mental dihadirkan melalui sebuah pameran photo hitam putih yang bertajuk "Dark Side of Paradiese" di Bruder Grimm Hall, Marburg, German, yang berlangsung hingga Minggu (10/9) mendatang.



"Setiap makhluk berhak hidup bahagia di dunia ini, demikian juga terhadap masyarakat yang menderita ganguan mental. Namun sering kali kita tidak bisa mendefinisikan arti sebuah kebahagiaan. Sering kali kehidupan yang kita jalani, terselubung dan tenggelam dalam kehidupan materi, tanpa ada rasa empati," jelasnya.

"Dengan pameran photo yang bertajuk "'Dark Side of Paradiese", kita mencoba "mengetuk" hati nurani manusia " melihat sisi lain kehidupan yang paling dalam di Pulau Bali ini," ungkap I Gusti Ngurah Alit Kertarahardja, yang hasil karya fotonya dipajang dalam pemeran tersebut.

Pameran yang dilakukan selama sepekan di Marburg " German itu sebagai upaya penyadaran semua pihak, bagaimana pahitnya kehidupan yang dijalani oleh masyarakat " khususnya penderita gangguan mental.

"Kondisi ini tidak hanya dialami oleh penderita gangguan mental tetapi juga dialami pihak keluarga. Mereka hidup dalam keterasingan dan tekanan mental yang sangat keras. Pameran ini juga mengungkap berbagai persitiwa yang sebelumnya tidak terjawab, dan akhirnya menemukan sebuah kesimpulan yang sangat mengiris hati," ujar Alit.

Sebagaimana foto yang berjudul "Fight" atau Perjuangan, dimana dalam foto wanita tersebut berusaha berjuang melepaskan diri dari penderitaannya. Wanita ini pernah menjadi korban pemerkosaan. Karena keluarga wanita ini sangat lemah " baik dalam hal ekonomi ataupun pendidikan, serta posisi lemah dalam kehidupannya, wanita ini memendam segala penderitaannya.



Pemerkosa tanpa tersentuh hukum, sementara korban terus merasakan penderitaan akibat pemerkosaan itu. Tekanan kejiwaan yang demikian hebat inilah akhirnya wanita ini menjadi kehilangan ingatan. Bila penyakitnya datang, wanita berusia 20 tahun ini bisa menggigit, memukul dan berlari tanpa tujuan



Karena itu juga, keluarganya mengambil inisiatif untuk mengikat anaknya dengan rantai anjing. Keluarga wanita ini hanya pasrah dan berharap anaknya bisa sembuh.

Lain lagi permasalahan yang dialami Putu Antasa dalam judul "Siapa Dia". Pria berusia 50 tahun ini pernah beberapa kali berobat di RS JIwa Bangli. Suatu hari, lelaki ini harus meninggalkan RS Jiwa Bangli secara terpaksa, karena tidak punya uang untuk membayar pengobatan.

Ironisnya pihak RS Jiwa Bangli datang ke rumah keluarga Antasa menagih sisa hutang yang ditinggalkan selama pengobatan. Sampai saat ini lelaki paruh baya ini harus tetap dirumah menggunakan rantai kapal. Wajahnya dicat dengan arang, ngomong ngalur ngidul dan merokok secara terus menerus.

Hal senada juga dialami Budiasa, dalam photo "Mau Kita Apakan? atau dibalik $". foto ini mengisahkan pahitnya hidup menanggung anak dalam kondisi sakit mental. Seperti makan buah simalakama, bila dilepas akan merugikan semua orang, kalau dipasung hati mereka menangis. Akhirnya dengan terpaksa keluarganya memasung anaknya dekat kandang babi dan anjing.

Dalam pameran ini juga menampilkan sisi exotic Bali" yang terwujud dalam "Penari Bungkulan", ataupun foto "Di atas Bukit'', serta harmonisasi atmosfer Bali dalam judul "Melasti di Pantai". (ayu/*)

Beritabali.com

Berlangganan BeritaBali
untuk membaca cerita lengkapnya

Lanjutkan

Reporter: bbn/rob



Simak berita terkini dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Ikuti saluran Beritabali.com di WhatsApp Channel untuk informasi terbaru seputar Bali.
Ikuti kami