Akun
guest@beritabali.com
Beritabali ID: —
Langganan
Beritabali Premium Aktif
Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium
- Senin, 3 Agustus 2026
Bau Belerang Di Kawah Sikijang
BERITABALI.COM, JEMBRANA.
Selain menyimpan potensi sejarah, Dieng juga menyimpan misteri geologis yang menakjubkan. Setidaknya ada empat kawah yang masih aktih menyemburkan bau belerang yang cukup menyengat.
Salah satu kawah tersebut bernama kawah Sikijang. Ketika beritabali.com berkunjung ke kawah berukuran sekitar 5x5 meter itu, tampak air yang ada di kawah tersebut mendidih layaknya air yang dipanaskan. Bau belerangpun cukup menyengat.
Baca juga:
Produk RI Bebas Biaya Masuk ke UEA
Di beberapa kawah malah dilarang untuk dikunjungi lantaran meyemburkan gas CO2 dalam konsentrasi tinggi sehingga kalau dihrup bisa menimbulkan kematian. Selain menjadi obyek wisata, kawah-kawah yang masih aktif ini juga pernah menimbulkan petaka.
Tahun 1974, kawah Sinila meletus dan menimbulkan rekahan pada tanah yang cukup panjang. Selain menimbulkan gempa, dari dalam rekahan tersebut menyembur gas CO2 dalam konsentrasi pekat. Masyarakat yang panik diguncang gempa kebingungan menyelamatkan diri.
Beberapa diantaranya malah berlari menuju rekahan tersebut dan menghirup gas beracun, CO2. Ratusan warga Dieng tewas dalam peristiwa tersebut. Kejadian tersebut membuat, masih ada sejumlah kawah yang terlarang untuk dikunjungi oleh wisatawan karena masih menyemburkan gas CO2 konsentrasi tinggi.
Laporan Kontributor Jembrana dalam "Pers Tour Jembrana Go To Dieng Yogyakarta"
Reporter: bbn/dey
Berita Terpopuler
Harga Pertamax Series Turun Mulai 1 Agustus, Ini Rinciannya
Dibaca: 338 Kali
Bali Siaga Kekeringan, Buleleng-Jembrana Diprediksi Terdampak
Dibaca: 267 Kali
KPU Bali Temukan Ribuan Data Pemilih Belum Sinkron
Dibaca: 216 Kali
ABOUT BALI
Riset BRIN Ungkap Alasan Masyarakat Bali Mulai Memilih Krematorium untuk Ngaben
Tradisi Mepatung di Bangli, Penampahan Galungan yang Pererat Persaudaraan
Video Langka Calonarang dan Janger Pegok 1937 Ditemukan di Jerman
Tradisi Wadak di Mengani Tetap Lestari, Desa Batasi Satu Godel Setahun