Akun
guest@beritabali.com

Beritabali ID:


Langganan
logo
Beritabali Premium Aktif

Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium




Kolaborasi Puisi dengan Spirit Blues

Jumat, 2 Juli 2010, 06:04 WITA Follow
Beritabali.com

image.google.com

IKUTI BERITABALI.COM DI GOOGLE NEWS

BERITABALI.COM, DENPASAR.

Setelah sekian lama berproses, karya itu kelar juga dan diluncurkan Minggu (27/6) malam lalu, di halaman Warung Tresni, Jalan Drupadi 54, Renon, Denpasar. Album grup musik 'Bali' bertajuk Exorcism itu akhirnya selesai. 

Nomor nomor puisi musik itu mengalir lancar. Sembilan puisi itu sudah melebur dengan komposisi musik, yang dominan blues. "Malam Cahaya Lampion", "Negeri Apung", "Co Kong Tik", "Exorcism", "Siapakah Kau", "Abad yang Luka", "Alam Kanak-kanak", "Malam di Pantai Candi Dasa" dan "Kunang Kunang Musim Gugur"."Kami berusaha melebur puisi dengan musik," tutur Tan Lioe Ie, yang akrab dipanggil Yoi, ini, kepada wartawan.

Exorcism sendiri sejatinya sudah digarap sejak setahun lalu, sebagian lagu sudah ditampilkan di sejumlah pertunjukan.Selain Yoi, personel band ini adalah dua mantan Harley Angels, yakni pembetot bas Putu Indrawan dan Kabe Gariyasa pada drum.

Secara umum musikalitas kami memang dominan blues. Tapi, dalam beberapa lagu juga cukup ngerock, papar Indrawan, tentang album ini.Pada nomor Negeri Apung misalnya, ada warna progresif di situ. Aksen rock juga kental pada Abad yang Luka misalnya, yang intro pembukanya terkesan mistis, ditingkahi warna vokal Yoi yang berkarakter khas.

Ada juga "Malam di Pantai Candi Dasa" yang bernuansa pentatonis.Dalam urusan aransemen, keberadaan Yande di album ini terbilang cukup mencerahkan, dengan khasanah musiknya.Meski demikian, warna blues akhirnya cukup kental, karena memang empat di antara mereka, yakni Tan Lioe Ie, Putu Indrawan, Kabe Gariyasa dan Yande memang lebih akrab dengan genre musik ini.

Harley Angels adalah band rock andalan Bali era 1980-an, yang tahun 1984 lalu tampil sebagai jawara festival rock nasional versi Log Zhelebour, sebagai grup terbaik dan pemain bas terbaik.

Pendukung lainnya adalah Yande Subawa, gitaris yang selama ini sudah kenyang jam terbang sekaligus sebagai aranjer.Sedangkan Made Dibya Suanjaya pada posisi bilah-bilah keyboard.

Meski pada awalnya mereka memang sempat kesulitan untuk menemukan irama yang tepat dan padu, namun dengan intensitas pertemuan dan kesediaan untuk saling menyesuaikan diri dan jadi komposisi.Kekuatan grup ini selain pada puisi Yoi, yang juga akrab dipanggil Abang Tan adalah pada kemampuan improvisasi musisinya.

 

Sudah pasti selesainya album ini sangat disyukuri mereka. Karena menyatukan musisi senior dalam satu grup bukan perkara mudah. Lantaran masing-masing sudah berkeluarga, dengan kesibukan sendiri.Terus terang kami sangat bersyukur album ini selesai, pungkas Indrawan.

Beritabali.com

Berlangganan BeritaBali
untuk membaca cerita lengkapnya

Lanjutkan

Reporter: bbn/net



Simak berita terkini dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Ikuti saluran Beritabali.com di WhatsApp Channel untuk informasi terbaru seputar Bali.
Ikuti kami