Akun
guest@beritabali.com

Beritabali ID:


Langganan
logo
Beritabali Premium Aktif

Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium




Mesuryak, Simbolisasi Upacara Antar Leluhur Ke Surga

Sabtu, 18 Desember 2010, 14:52 WITA Follow
Beritabali.com

Beritabali.com

IKUTI BERITABALI.COM DI GOOGLE NEWS

BERITABALI.COM, TABANAN.

Hari Raya Kuningan yang merupakan salah satu rangkaian Hari Raya Galungan Umat Hindu di Bali jatuh setiap enam bulan sekali. Perayaan hari raya Kuningan di Banjar Bongan Gede, Kecamatan Tabanan memang agak menarik dari daerah lainya di Bali.

Setiap hari raya Kuningan atau sepuluh hari setelah hari Raya Galungan di Banjar Bongan Gede, selalu digelar tradisi mesuryak. Tradisi ini kembali digelar saat hari Raya Kuningan, Sabtu (18/12) ini.

Tradisi yang sudah turun temurun dilakukan oleh warga setempat hingga kini masih tetap dilestarikan dan dilaksanakan.

Menurut Kelihan Adat Banjar Bongan Gede, I Made Wardana, tradisi mesuryak memiliki tujuan yakni mengantar kembali leluhur pulang ke sorga. Karena sejak sepuluh hari para leluhur berada di tengah-tengah keluarga yakni tepatnya pada hari raya Galungan.

“Hari raya Kuningan ini lah, kita antar kembali para leluhur kembali ke soarga loka. Saat mengantar itu disimboliskan dengan memberikan bekal kepada leluhur berupa sejumlah uang. Uang itu kemudian diperebutkan oleh krama banjar,” jelasnya.

Ia pun tidak mengetahui kapan tradisi ini ada, namun diyakininya tradisi ini ada sejak nenek moyangnya ada.

Sebelum dilangsungkanya tradisi mesuryak, krama (warga) seperti biasa melaksanakan upacara di rumah-masing masing mulai pukul 06.00 Wita. Yang diawali dengan ngejot jerimpen ke rumah sanak saudara.

Setelah itu nunas tirta di Pura Kayangan Dalem dan Kayangan Puseh. Kemudian dilanjutkan dengan upacara pesembahyangan di merajannya masing-masing. Setelah upacara pesembahyangan usai di masing-masing merajan, maka seluruh sarana upacara seperti banten sesajen kemudian dibawa ke kori (pintu masuk halaman rumah).

Sesajen yang disimbolisasi, para leluhur itu kemudian diaturkan oleh para tetua atau pemangku. Intinya sesajen yang dibawa ke luar pintu masuk halaman rumah atau di jalan adalah simbolisasi mengantar para roh leluhur untuk pulang lagi ke sorga.

Acara pamungkas adalah bagi sanak saudara, tak lupa memberikan bekal kepada para leluhurnya berupa uang semampunya. Uang itu kemudian dilembarkan ke atas. Yang disambut dan diperebutkan oleh krama (warga) setempat.

Suasana mesuryak pun menjadi, ramai. Karena tua, muda, laki dan perempuan berebut mendapatkan uang yang disimbolisasikan untuk bekal para leluhur kembali ke sorga. (nod)

Beritabali.com

Berlangganan BeritaBali
untuk membaca cerita lengkapnya

Lanjutkan

Reporter: bbn/nod



Simak berita terkini dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Ikuti saluran Beritabali.com di WhatsApp Channel untuk informasi terbaru seputar Bali.
Ikuti kami