Akun
guest@beritabali.com
Beritabali ID: —
Langganan
Beritabali Premium Aktif
Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium
- Rabu, 29 Juli 2026
‘Aci Keburan’, Sabung Ayam 35 Hari di Kelusa
Gianyar
BERITABALI.COM, GIANYAR.
Beritabali.com, Payangan, Warga Desa Kelusa, Payangan, Kabupaten Gianyar, Bali, memiliki sebuah tradisi unik yang disebut 'Aci Keburan'', yakni tajen atau sabung ayam selama satu bulan lebih (35 hari). Bagi warga setempat, tradisi unik dipercaya dapat mendatangkan keselamatan bagi warga desa itu sendiri, tumbuhan, serta hewan peliharaan.
Tradisi Aci Keburan atau adu ayam jago ini digelar di 'jaba' atau halaman luar Pura Hyang Api yang terletak di Desa Adat Kelusa, Kecamatan Payangan, Kabupaten Gianyar, Bali.
Sejak pukul 6 pagi waktu setempat, areal jaba pura sudah ramai didatangi ribuan warga. Selain dari Gianyar, warga yang datang ke pura ini beraasal dari beberapa kabupaten lainnya di Bali seperti Bangli dan Singaraja.
Sebagian besar warga yang datang ke acara ini membawa ayam jantan aduan masing-masing lengkap dengan pisau tajinya. Beberapa orang warga bahkan membawa lebih dari satu ayam aduan.
Ayam aduan yang sudah dipasangi taji kemudian diadu dalam 'kalangan' atau arena tajen. Dalam tradisi aci keburan ini, warga saling mengadu ayam jagonya pada beberapa arena aduan dadakan yang ada di jaba pura.
Meski disertai taruhan uang layaknya tajen atau adu ayam pada umumnya di Bali, namun warga setempat menolak tradisi ini disebut judi. Alasannya, tradisi ini sudah diwarisi turun temurun dari para leluhur mereka sejak ratusan tahun yang lalu.
“Dulu ada polisi membubarkan tajen di Pura Hyang Api dengan menembakkan pistol ke udara. Setelah membubarkan tajen Aci Keburan, polisi tersebut mengalami luka ringan di bagian kaki akibat kena benda tajam di areal pura. Meski lukanya kecil, namun beberapa hari kemudian kaki polisi itu diamputasi. Nah, setelah itu tidak ada polisi yang berani membubarkan tajen di pura Hyang Api selama Aci Keburan berlangsung,” ujar seorang warga Desa Kelusa.
“Ayam aduan yang mati pada arena Aci Keburan diyakini warga sebagai wujud sesangi (persembahan) kepada Ida Sanghyang Widhi Wasa. Lewat tradisi ini warga yakin akan diberi keselamatan, juga tanaman dan hewan ternak mereka, dijauhkan dari wabah penyakit,” jelas Made Lanus, Wakil Bendesa Desa Adat Kelusa.
Selain mengadu ayam jantan aduan di arena tajen, warga yang datang juga melakukan persembahyangan guna memohon keselamatan kepada Sang Pencipta.
“Tradisi Aci Keburan ini digelar setiap enam bulan sekali, mulainya setiap hari raya Kuningan. Ini akan berlangsung selama satu bulan lebih, tepatnya 35 hari,” ujar Lanus.
Reporter: bbn/net
Berita Terpopuler
Pemuda di Kintamani Ditemukan Tewas Tergantung di Kebun
Dibaca: 3895 Kali
Anggota DPRD Gianyar Wayan Gede Sudarta Meninggal di Malaysia
Dibaca: 2955 Kali
Guru SD di Singaraja Dilaporkan atas Dugaan Pencabulan Siswi
Dibaca: 2051 Kali
Klinik Polres Jembrana Raih FKTP Terbaik I di Bidokkes Award 2026
Dibaca: 2019 Kali
Polisi Tangkap Terduga Pelaku Pelecehan Siswi SD di Payangan
Dibaca: 1810 Kali
ABOUT BALI
Riset BRIN Ungkap Alasan Masyarakat Bali Mulai Memilih Krematorium untuk Ngaben
Tradisi Mepatung di Bangli, Penampahan Galungan yang Pererat Persaudaraan
Video Langka Calonarang dan Janger Pegok 1937 Ditemukan di Jerman
Tradisi Wadak di Mengani Tetap Lestari, Desa Batasi Satu Godel Setahun