Akun
guest@beritabali.com
Beritabali ID: —
Langganan
Beritabali Premium Aktif
Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium
- Rabu, 28 Oktober 2026
Perang Bali-Jepang, Pasokan Senjata dari Jawa Dikirim dengan Kapal Geisha
BERITABALI.COM, DENPASAR.
Beritabali.com, Denpasar. Hebatnya perang melawan kolonialisme juga begitu terasa di Bali. Salah satu perang terhebat di Bali yakni perang Jepang.
Dalam kisah Bali Tempo Dulu karya Adrian Vickers subab Bali Jaman Jepang oleh K'tut Tantri, dijelaskan cara senjata masuk ke Bali.
[pilihan-redaksi]
Diceritakan, pada masa perang, segala akses termasuk senjata begitu sulit untuk Bali. Hingga cara-cara tipu daya pun dilakukan, salah satunya oleh K'tut Tantri, wanita Eropa penyandang nama Bali yang juga dikenal dengan Muriel Pearson, Venneen Walker, Miss Manx, atau Surabaya Sue.
Ia begitu jatuh cinta dengan Bali. Demi Bali pula, Ia rela memasok senjata keperluan perang. Bersama temannya, Frisco Filip, Ia memasukkan senjata dalam sebuah peti dan menumpuknya dengan buku. Kedoknya, peti itu merupakan buku-buku untuk teman swissnya yang berdiam di Bali.
Tak hanya sampai disitu, Ia pun berlayar menggunakan kapal yang berisikan gadis-gadis geisha, penghibur personil angkatan laut Jepang.
Dengan bantuan seorang teman, K'tut Tantri berhasil naik ke kapal tersebut.
Pilihan begitu sulit saat itu. Sebab, jika menggunakan kapal biasa, peti berisi senjata itu bisa saja akan ketahuan para informan Jepang. Begitu pula jika menggunakan mobil, sebab mobil sulit ditemukan. Semua alat transportasi pribadi telah banyak ditahan.
Maka, pilihan kapal pengangkut geisha menjadi yang paling sesuai. Sebab, Jepang tak akan curiga, dengan muatan kapalnya sendiri.
Suasana Gilimanuk saat itu sudah gelap ketika kapal sampai. Bergegaslah K'tut Tantri menemui Pangeran bangli, Agung Nura di suatu tempat persembunyian. Segara, peti itu diambil senjatanya dan kembali digantikan dengan buku.
Selanjutnya, K'tut Tantri pun menginap di rumah teman Swissnya, seperti yang Ia katakan pada tentara Jepang saat pemriksaan di pelabuhan.
Besoknya, tentara Jepang datang dan memeriksa peti itu. Curiga jika peti itu berisi benda berbahaya bagi mereka. Namun yang dilihat hanyalah buku-buku.
Sebenarnya, K'tut Tantri sendiri begitu disambut baik oleh angkatan laut Jepang. Namun, dalam benaknya tetap saja ketakutan. Sebab, Jepang sangatlah membenci orang kulit putih. Selama di Bali pula Ia berjuang melawan ketakutannya itu. [wrt]
Reporter: -
Berita Terpopuler
Mess di Panjer Diserang 19 Orang, Empat Pemuda Luka
Dibaca: 5934 Kali
Perempuan 36 Tahun Akhiri Hidup di Kamar Kos Tulikup Gianyar
Dibaca: 4649 Kali
Rem Blong, Dua Pria Tewas Kecelakaan di Sukasada
Dibaca: 2618 Kali
Telkom Resmi Spin-Off Infrastruktur Fiber ke InfraNexia
Dibaca: 2274 Kali
Menkum Dorong WIPO Buat Standar Global Royalti, Karya AI Tak Dilindungi
Dibaca: 2218 Kali
ABOUT BALI
Misteri Lontar Lombok yang Tersimpan di Museum Dukuh Penaban Karangasem
Nyenuk Ngingkup di Tampaksiring Kembali Digelar Setelah 48 Tahun
Guruh Sudah Meramal Overtourism Bali pada Lagu "Chopin Larung" 1975
Ban Truk Meledak, Sopir Tewas di Rest Area Pekutatan