Akun
guest@beritabali.com
Beritabali ID: —
Langganan
Beritabali Premium Aktif
Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium
Trending:
- Selasa, 22 September 2026
Teknologi Satake Jadi Solusi Tingkatkan Harga Gabah
Jumat, 7 Juli 2017,
13:19 WITA
Follow
IKUTI BERITABALI.COM DI
GOOGLE NEWS
BERITABALI.COM, DENPASAR.
Beritabali.com, Denpasar. Gubernur Bali Made Mangku Pastika menyambut baik dan menyampaikan dukungannya atas rencana pembangunan tempat pengolahan padi pasca panen yang akan dikemas secara modern dengan menggunakan teknologi Satake Jepang.
Pastika menyampaikan sesuai fakta di lapangan pada saat panen raya harga gabah para petani mengalami penurunan yang sangat drastis (anjlok) meskipun sesungguhnya patokan harga gabah minimum sudah ditetapkan. Anjloknya harga gabah khususnya pada saat panen berdampak pada menurunnya pendapatan para petani bahkan tak jarang anjloknya harga tersebut memberi kerugian bagi para petani. Untuk itu dengan kehadiran teknologi Satake diharapkan dapat membantu menjaga kestabilan harga gabah dan dengan demikian penghasilan petani dapat meningkat.
[pilihan-redaksi]
“Kita mengekspor gabah, dan di lain sisi kita mengimpor beras. Harga gabah dijual murah dan harga beli beras jadi tinggi. Saya harap hadirnya teknologi ini bisa menjadi sebuah solusi bagi sektor pertanian kita khususnya dalam upaya meningkatkan kesejahteraan para petani," imbuhnya.
Direktur Perusahaan Satake Shoichi Tanaka menyampaikan mesin teknologi yang digunakan dalam pengolahan gabah ini memilki kapasitas untuk mengeringkan gabah basah sampai dengan 150 ton per harinya. Tidak hanya itu gabah yang sudah kering dapat disimpan selama enam sampai delapan bulan dengan menggunakan teknologi ini. Sehingga dengan demikian tidak akan terjadi penumpukan gabah yang berimbas pada rendahnya harga beli gabah.
Lebih jauh Tanaka menyampaikan dengan menggunakan teknologi ini beras yang dihasilkan akan utuh dan tidak pecah dan kemungkinan rusak hanya mencapai 10-15 %, jauh berbeda dengan kondisi jika menggunakan sistem tradisional yang hanya menghasilkan 60 % beras dari padi kering dan kondisi beras banyak yang tidak sempurna.
“Teknologi ini akan membantu dalam menjaga kestabilan harga gabah di pasaran. Tidak hanya itu, tidak ada debu yang dihasilkan sehingga teknologi ini benar benar ramah lingkungan," tuturnya. [rls/prov/wrt]
Berita Denpasar Terbaru
Berita Premium
Reporter: -
Berita Terpopuler
01
Sopir Truk di Muncan Karangasem Dibakar Hidup-hidup, Diduga Soal Setoran
Dibaca: 8249 Kali
02
Tiga WNA Australia Ditemukan Tewas di Kontrakan Legian
Dibaca: 5700 Kali
03
Habib Diciduk di Vila Dalung, 152 Gram Ganja Disita Polisi
Dibaca: 3562 Kali
04
Bentrok di Mess Buruh Tunas Jaya Sanur di Benoa, Satu Orang Tewas
Dibaca: 2407 Kali
05
ABOUT BALI
Ban Truk Meledak, Sopir Tewas di Rest Area Pekutatan
Senin, 21 September 2026
Menelusuri Jejak Arsitektur Taman Soekasada Ujung
Senin, 21 September 2026
Turis Australia Ditangkap Bawa 37 Paket Ganja di Denpasar
Jumat, 11 September 2026
Kronologi Gudang Rongsokan di Jalan Nakula Denpasar Terbakar
Selasa, 1 September 2026
Riset BRIN Ungkap Alasan Masyarakat Bali Mulai Memilih Krematorium untuk Ngaben
Sabtu, 18 Juli 2026