Akun
guest@beritabali.com
Beritabali ID: —
Langganan
Beritabali Premium Aktif
Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium
Trending:
- Sabtu, 31 Oktober 2026
PVMBG: Gunung Agung Bisa Jadi Tidak Meletus
Sabtu, 21 Oktober 2017,
13:00 WITA
Follow
IKUTI BERITABALI.COM DI
GOOGLE NEWS
BERITABALI.COM, KARANGASEM.
Beritabali.com, Karangasem. Kepala Sub Bidang Mitigasi Gunung Api Wilayah Timur Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Geologi (PVMBG), Devy Kamil Syahbana menyatakan ada dua tipe gunung api.
Devi mengaku dua tipe gunung api itu yaitu ada yang terbuka, ada yang tertutup. Tipe gunung api terbuka ditandai dengan banyaknya gas yang telah keluar.
[pilihan-redaksi]
"Kalau gunung tipe terbuka gasnya keluar. Misalnya gas CO2-nya sudah keluar, itu tanaman juga bisa mati, apalagi kalau konsentrasinya tinggi. Pertanyaannya sekarang, ada tidak gas itu di kawah?," kata Devy, Jumat (20/10/2017).
Devy mengungkapkan Gunung api dengan tipe tertutup, gas dari dalam tidak keluar. Gunung dengan tipe terbuka contohnya yakni Gunung Papandayan, Gunung Merapi dan Gunung Bromo.
Kalau sistemnya tertutup, lanjut Devy, bisa jadi tidak keluar gasnya. Kalau open system itu aktif, gasnya keluar. Dengan aktivitas yang sedikit, gempa sedikit saja gasnya keluar. Gunung Agung mengaku bertipe tertutup.
"Pasti dia gasnya banyak keluar. Merapi pun termasuk open system. Open system itu menghambat kemungkinan terakumulasinya tekanan yang besar. Makanya untuk gunung tipe open system ini letusannya relatif lebih kecil dari Gunung Agung," jelas Devy.
"Gunung Agung ini tipe gunung api tertutup. Tapi bukan berarti Gunung Agung itu letusannya pasti akan lebih besar. Ada contoh di mana Gunung Agung itu meletus di bawah VEI V, VEI II atau bahkan tidak meletus," imbuhnya.
Devy berharap Gunung Agung tak meletus. Ia juga berharap gas di perut Gunung Agung habis, pada saat sama magma tak mendapat suplai lagi.
"Gasnya habis, lalu magma tidak dapat suplai lagi. Jika itu yang terjadi, magma itu makin mengental. Kalau dia makin mengental, mobilitasnya itu rendah. Dia akhirnya tidak bisa bergerak dan akhirnya membeku lagi. Ini terkristalisasi dalam bentuk gempa-gempa akan berkurang, deformasi juga akan stabil. Kita bisa berhitung normal lagi," harap dia.
Hanya saja, sambung Devy, sementara ini aktivitas Gunung Agung masih tetap tinggi. "Tapi sementara ini aktivitasnya masih bergejolak, kita dipaksa untuk bersabar. Kita harus melatih diri bersabar," tutupnya.[bbn/idc/wrt]
Berita Premium
Reporter: -
Berita Terpopuler
01
Mess di Panjer Diserang 19 Orang, Empat Pemuda Luka
Dibaca: 6040 Kali
02
Perempuan 36 Tahun Akhiri Hidup di Kamar Kos Tulikup Gianyar
Dibaca: 4707 Kali
03
Rem Blong, Dua Pria Tewas Kecelakaan di Sukasada
Dibaca: 2672 Kali
04
Telkom Resmi Spin-Off Infrastruktur Fiber ke InfraNexia
Dibaca: 2366 Kali
05
Menkum Dorong WIPO Buat Standar Global Royalti, Karya AI Tak Dilindungi
Dibaca: 2253 Kali
ABOUT BALI
Misteri Lontar Lombok yang Tersimpan di Museum Dukuh Penaban Karangasem
Kamis, 8 Oktober 2026
Nyenuk Ngingkup di Tampaksiring Kembali Digelar Setelah 48 Tahun
Sabtu, 3 Oktober 2026
Guruh Sudah Meramal Overtourism Bali pada Lagu "Chopin Larung" 1975
Sabtu, 26 September 2026
Ban Truk Meledak, Sopir Tewas di Rest Area Pekutatan
Senin, 21 September 2026
Menelusuri Jejak Arsitektur Taman Soekasada Ujung
Senin, 21 September 2026