Akun
guest@beritabali.com

Beritabali ID:


Langganan
logo
Beritabali Premium Aktif

Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium




Membangun Hubungan Kebudayaan Indonesia-Australia Melalui Film

Corridor Film Festival

Minggu, 14 Januari 2018, 05:24 WITA Follow
Beritabali.com

Beritabali.com/ist

IKUTI BERITABALI.COM DI GOOGLE NEWS

BERITABALI.COM, DENPASAR.

Corridor Film Festival  diharapkan menjadi jalan dalam upaya membangun kebudayaan dua negara yaitu Indonesia dan Australia melalui film. Secara khusus Corridor Film Festival juga dapat menjadi bentuk persahabatan antara mahasiswa ISI Denpasar dengan University of Western Australia (UWA)  School of Design. Harapan tersebut disampaikan satu pengajar Program Studi Fakultas Film dan Televisi (FTV) ISI Denpasar Nyoman Arba Wirawan di sela-sela pemutaran Corridor Film Festival edisi pertama di Taman Baca Kesiman pada Sabtu, (13/1/2018)

 

Corridor Film Festival  merupakan sebuah perayaan kolaborasi dua institusi pendidikan, University of Western Australia (UWA) School of Design dan Institut Seni Indonesia (ISI) Denpasar. Pada tahun ini penyelenggaraan Corridor Film Festival  bekerjasama dengan Taman Baca Kesiman, dan didukung oleh Australian Consulate-General Bali dan Department of Foreign Affairs and Trade, Australian Government. 

Inisiator Corridor Film Festival  yang juga dosen UWA Paul Trinidad menambahkan bahwa meskipun karya-karya mahasiswa yang ditampilkan dalam festival ini masih terbilang pemula, namun itu tidak menyurutkan semangat dari festival ini.  “Kami datang ke Bali untuk belajar mengenai kebudayaan, sekaligus berusaha untuk melakukan hal-hal bermanfaat selama kami di sini. Kami berharap dapat belajar banyak dari pertukaran budaya ini dan semoga bermanfaat pula bagi semua orang”, ujar Paul. 

Corridor Film Festival  menghadirkan 15 film pendek pilihan, 9 film dari UWA dan 6 film dari ISI Denpasar. Film-film dari kedua institusi hadir dengan karakternya masing-masing. Film-film pendek dari UWA School of Design yang dikemas dengan durasi yang cukup pendek, kurang dari 10 menit, mengedepankan pendekatan eksperimental, melalui eksplorasi bentuk yang variatif dengan cerita-cerita personal tentang keseharian yang dekat dengan para pembuat filmnya. 

Film-film dari UWA School of Design yang berpartisipasi dalam festival ini, yakni Ah Ma, Bohram, Do You Sense What I Sense, En Route, Would You Like That Rare, Medium Or Well Done?, Shape of An Idea, The Surveyors, Blueprints For Rabbit Tales, dan Place In Space And Time.

Sementara film-film dari ISI Denpasar yang dikurasi oleh Nyoman Arba Wirawan sebagian adalah film-film tugas akhir mahasiswa yang merekam lokalitas masyarakat Bali dengan berbagai problematikanya, mulai dari pernikahan beda kewarganegaraan, fenomena ilmu hitam, hingga persaudaraan antara warga Hindu dan Muslim.

Film-film dari ISI Denpasar yang diputar dalam festival ini adalah Kiwa Tengen, Misteri Giri Tolangkir, Nganten, Lintang Ayu, Bersaudara, dan Siap Selem. Acara malam itu ditutup dengan pemberian kenang-kenang berupa buket bunga dan buku dari ISI Denpasar pada UWA School of Design dan foto bersama dosen dan mahasiswa dari kedua institusi.

Beritabali.com

Berlangganan BeritaBali
untuk membaca cerita lengkapnya

Lanjutkan

Reporter: bbn/rob



Simak berita terkini dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Ikuti saluran Beritabali.com di WhatsApp Channel untuk informasi terbaru seputar Bali.
Ikuti kami