Akun
guest@beritabali.com
Beritabali ID: —
Langganan
Beritabali Premium Aktif
Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium
- Rabu, 29 Juli 2026
Kera Lereng Gunung Agung Rusak Kebun Warga Akibat Kelaparan
Pasca Erupsi Gunung Agung
BERITABALI.COM, KARANGASEM.
Beritabali.com, Karangasem. Kera di kawasan lereng Gunung Agung mulai memasuki pemukiman warga dan merusak tanaman warga. Kera kawasan lereng Gunung Agung tersebut masuk ke pemukiman warga untuk mencari makanan, akibat kehabisan sumber makanan di hutan.
Akibat serangan kera yang kelaparan menyebabkan warga enggan untuk untuk bercocok tanam. "Ya Kera Kera sudah mulai turun memakan buah buahan dikebun," kata Ni Wayan Widia (49 tahun) warga Dusun Sogra, Sebudi, Selat, Karangasem saat ditemui di Karangasem pada Jumat (9/3).
Hal yang sama juga diungkapkan oleh Kepala Wilayah Dusun Sogra, I Nyoman Muliarta. Ia mengakui bahwa belakangan ini banyak kera mulai masuk ke wilayah pemukiman penduduk. "Ya kera-kera mulai merusak tanaman dikebun milik warga," ungkap Muliarta.
Ketua Pasebaya Agung, I Gede Pawana mengatakan relawan Pasebaya hingga detik ini masih mengupayakan untuk memberikan makanan terhadap kera-kera tersebut sehingga tidak semakin masuk kepemukiman warga. Pasokan makanan berupa buah-buahan akan dikumpulkan untuk dibawa kehutan habitat kera-kera tersebut pada hari Minggu (11/03) mendatang.[bbn/igs/mul]
Reporter: -
Berita Terpopuler
Pemuda di Kintamani Ditemukan Tewas Tergantung di Kebun
Dibaca: 3895 Kali
Anggota DPRD Gianyar Wayan Gede Sudarta Meninggal di Malaysia
Dibaca: 2934 Kali
Guru SD di Singaraja Dilaporkan atas Dugaan Pencabulan Siswi
Dibaca: 2051 Kali
Klinik Polres Jembrana Raih FKTP Terbaik I di Bidokkes Award 2026
Dibaca: 2012 Kali
Polisi Tangkap Terduga Pelaku Pelecehan Siswi SD di Payangan
Dibaca: 1810 Kali
ABOUT BALI
Riset BRIN Ungkap Alasan Masyarakat Bali Mulai Memilih Krematorium untuk Ngaben
Tradisi Mepatung di Bangli, Penampahan Galungan yang Pererat Persaudaraan
Video Langka Calonarang dan Janger Pegok 1937 Ditemukan di Jerman
Tradisi Wadak di Mengani Tetap Lestari, Desa Batasi Satu Godel Setahun