Akun
guest@beritabali.com
Beritabali ID: —
Langganan
Beritabali Premium Aktif
Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium
Trending:
- Selasa, 5 Mei 2026
Janger Massal Tuai Pujian, Namun Dominasi Bondres Jadi Catatan
Senin, 9 April 2018,
12:20 WITA
Follow
IKUTI BERITABALI.COM DI
GOOGLE NEWS
BERITABALI.COM, DENPASAR.
Beritabali.com.Denpasar, Tampilan anak-anak hingga remaja dari Nusa Lembongan dan Pegok dengan konsep Janger massal menuai pujian, namun yang menjadi catatan pengamat seni adalah unsur Bondres yang terlihat dominan dalam panggung sehingga dinilai kurang menyatu dengan alur janger dan ceritanya.
[pilihan-redaksi]
Dr. I Nyoman Astita, M.A selaku pengamat seni menilai cukup mengesankan, karena janger massal merupakan visi yang baru tentang janger. Menurutnya, secara umum pementasannya sudah tertata dengan baik, tetapi yang perlu dikritisi adalah penambahan unsur bondres. "Jadi bondres sering mencuri panggung, penampilan bondres biasanya kurang menyatu dengan alur janger dan juga alur cerita. Ini perlu hati-hati kalau kita berkolaborasi dengan bondres, apalagi tidak disutradarai dengan baik,” pesan Astita.
Dr. I Nyoman Astita, M.A selaku pengamat seni menilai cukup mengesankan, karena janger massal merupakan visi yang baru tentang janger. Menurutnya, secara umum pementasannya sudah tertata dengan baik, tetapi yang perlu dikritisi adalah penambahan unsur bondres. "Jadi bondres sering mencuri panggung, penampilan bondres biasanya kurang menyatu dengan alur janger dan juga alur cerita. Ini perlu hati-hati kalau kita berkolaborasi dengan bondres, apalagi tidak disutradarai dengan baik,” pesan Astita.
Alasan Astita, karena penampilan bondres selalu menjadi sub dari alur pementasan tetapi dia terlalu dominan. Dominasi itu terjadi, pertama karena egoism-nya bondres. Yang kedua karena dia tidak mau luluh dengan alur janger yang ada.”Jadi di sini kita kelihatan tidak menata dengan baik,” kritiknya. Menurut Astita, saat pembinaan mereka tidak menampilkan bagian bondres. Sehingga tim pembinaan tidak dapat memberikan arahan.
Menurut Astita, kalau pementasan bukan di Ardha Candra dan acara sejenis Nawanatya, pementasan itu sih baik-baik saja karena masyarakat juga menikmati. Tetapi secara alur pementasan itu perlu ada batasan-batasan supaya masing-masing dari unsur pementasan itu menyatu.
“Jadikan tidak ditata seluruhnya itu sehingga kesatuan pementasan agak tergganggu dan ada kesan waktunya berkepanjangan. Terlepas dari kelemahan itu pementasan tadi sudah dapat dinikmati penonton,” ulas Astita.
Itu juga yang dirasakan seorang penonton malam itu. “Luar biasa!” seru penggemar janger, I Made Rudiasa (45) yang malam itu datang mengajak keluarganya untuk menonton janger yang dipersembahkan Sanggar Ratu Kinasih dan Sanggar Kekeran Budaya.
Sanggar Ratu Kinasih yang mempersembahkan janger bertajuk Tari Janger Indonesia Indah menceritakan sebuah cara untuk tetap mempersatukan bangsa dengan diselingi gending-gending bertemakan cinta tanah air. Sebanyak 200 orang penari terlibat dalam pementasan ini.
[pilihan-redaksi2]
Kelihaian penari dalam memadukan gerakan dengan gending mampus menghipnotis khalayak yang hadir. Meski dinilai mempersembahkan janger dengan maksimal, namun selaku pengempu sanggar, I.A.A Yuliaswathi Manuaba menuturkan sanggarnya tak hanya bergerak pada tari janger saja, “Tidak khusus janger, kami juga bergerak di tari sakral topeng, tari kekebyaran dan lainnya,”ungkapnya. Wanita yang gemar berkesenian ini menuturkan untuk janger sendiri, sanggar yang berdomisili di Nusa Lembongan, Klungkung ini pun telah 4 tahun bergelut dalam jejangeran.
Kelihaian penari dalam memadukan gerakan dengan gending mampus menghipnotis khalayak yang hadir. Meski dinilai mempersembahkan janger dengan maksimal, namun selaku pengempu sanggar, I.A.A Yuliaswathi Manuaba menuturkan sanggarnya tak hanya bergerak pada tari janger saja, “Tidak khusus janger, kami juga bergerak di tari sakral topeng, tari kekebyaran dan lainnya,”ungkapnya. Wanita yang gemar berkesenian ini menuturkan untuk janger sendiri, sanggar yang berdomisili di Nusa Lembongan, Klungkung ini pun telah 4 tahun bergelut dalam jejangeran.
Penampil kedua, yakni Sanggar Kekeran Budaya, Denpasar Selatan. Sanggar ini memadukan janger dengan dolanan, yang bertajuk Kedis Sangsiah. Sesekali tawa penonton mengisi penampilan Sanggar dari Br, Pegok, Sesetan ini. “Konsep ini sengaja kami gunakan agar anak-anak yang tampil dapat menikmati pementasan dan lebih akrab dengan penonton,” tutur Putu Vinka Paramaditya.
Dirinya yang turut melatih anak-anak Sanggar Kekeran Budaya pun merasa bahagia, akhirnya anak didiknya dapat menampilkan janger yang maksimal. “Senang lihat anak-anak tampil, sebab ini bagian dari pelestarian budaya dan mereka sudah menjadi kader pelestari khususnya dalam jejangeran,” ujarnya. (bbn/rls/rob)
Berita Premium
Reporter: bbn/rls
Berita Terpopuler
01
Isu Duet dengan AWK di Pilgub 2030, Ini Respons De Gadjah
Dibaca: 434 Kali
02
Polisi Bongkar Praktik LC di Bawah Umur di Kafe Gianyar
Dibaca: 372 Kali
03
Pemerintah Dorong KEK Kura Kura Bali Jadi Pusat Keuangan Global
Dibaca: 363 Kali
04
05
ABOUT BALI
Perang Tipat Sayan, Tradisi Syukur Petani Jaga Kesuburan Sawah
Senin, 30 Maret 2026
Sakralnya Bale Gajah Pura Besakih, Tak Sembarangan Orang Bisa Naik
Kamis, 26 Maret 2026
Menyambut Energi Baru Imlek Lewat Ritual Rupang
Kamis, 12 Februari 2026
Tradisi Imlek Unik di Singaraja, Patung Dewa Disucikan Tirta Tiga Pura
Rabu, 11 Februari 2026