Akun
guest@beritabali.com
Beritabali ID: —
Langganan
Beritabali Premium Aktif
Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium
Trending:
- Rabu, 29 Juli 2026
I Wayan Konolan, Seniman Kerawitan yang Lahir dari Institusi Banjar
Minggu, 30 September 2018,
08:25 WITA
Follow
IKUTI BERITABALI.COM DI
GOOGLE NEWS
BERITABALI.COM, DENPASAR.
Beritabali.com,Denpasar. Lamat-lamat sayub suara gender itu bagai hendak menyeka bising kendaraan yang lalu lalang. Di bilangan jalan Hayam Wuruk, Banjar Kayu Mas Kaja, seorang seniman sepuh bernama I Wayan Konolan juga seperti hendak meredam bara kota, mengantar Matahari dengan sekar Sungsang, entah apalagi nama tabuh itu. Namun gender lah kian hari mendekatkan sang tokoh bernama I Wayan Konolan menyatu dengan nada muasal, dawai pribadinya seperti turut terpetik dengan ilahi.
[pilihan-redaksi]
I Wayan Konolan, lebih dikenal dengan panggilan Pan Weca, lahir pada tahun 1930. Anak paling tua pasangan I Made Rengkeng dengan Ni Made Ceblek ini, mengaku telah belajar megender sejak zaman Belanda. Sang guru bernama I Made Regog, seniman tabuh terkenal zaman itu. Konolan mengaku tidak mempunyai pengalaman menarik untuk dituturkan, selain kesehariannya yang sangat sederhana. Pendidikan formalnya hanya sampai SR (Sekolah Rakyat) di zaman penjajahan Belanda. Banjar adalah institusinya, pusat dimana ia “diwisuda” sebagai seniman dalam proses sosialisasi yang sangat egaliter. Dan dalam sebuah komune banjar lah I Wayan Konolan merasa dikondisikan bakat alaminya.
I Wayan Konolan, lebih dikenal dengan panggilan Pan Weca, lahir pada tahun 1930. Anak paling tua pasangan I Made Rengkeng dengan Ni Made Ceblek ini, mengaku telah belajar megender sejak zaman Belanda. Sang guru bernama I Made Regog, seniman tabuh terkenal zaman itu. Konolan mengaku tidak mempunyai pengalaman menarik untuk dituturkan, selain kesehariannya yang sangat sederhana. Pendidikan formalnya hanya sampai SR (Sekolah Rakyat) di zaman penjajahan Belanda. Banjar adalah institusinya, pusat dimana ia “diwisuda” sebagai seniman dalam proses sosialisasi yang sangat egaliter. Dan dalam sebuah komune banjar lah I Wayan Konolan merasa dikondisikan bakat alaminya.
Sebagai pengrawit yang hampir sepenuhnya menenggelamkan hidupnya pada gambelan, I Wayan Konolan juga dipercaya sebagai pengajar dan guru tabuh di sejumlah banjar. Beberapa diantaranya masih ia ingat, yakni : Banjar Titih, Banjar Tatasan, Banjar Sesetan Kaja, Banjar Antab Panjer, Banjar Yangbatu, Banjar Kayu Mas Klod, Desa Padang Sumbu, Banjar Bengkuri, Kesiman, Banjar Yangbatu Kangin, Banjar Oongan, Banjar Poh Gading, Ubung, dan Banjar Kayu Mas Kaja.
Di samping sebagai guru karawitan, kerap dalam kesehariannya Konolan juga sering mengiringi dalang-dalang terkenal di Kabupaten Badung. Sebagai penabuh gender terbaik, beberapa kali ia sempat mengiringi dalang Ida Bagus Tegal dari Geria Tegal, dalang Ida Bagus Bindu dari Kesiman, dalang Ida Bagus Buduk dari Geria Buduk. Konolan juga aktif dan beberapa kali terlihat mengikuti Festival Wayang dan serasehan wayang Bali bersama dengan tokoh-tokoh pewayangan di Bali.
Konolan juga memiliki peranan yang sangat penting dalam menggali kembali tabuh-tabuh kuna yang nyaris punah. Sebagai contoh ia mampu “merestorasi” kembali gending panangkilan bapang. Tabuh kuna dan langka ini hanya ada pada beberapa sekaa yang masih patuh pada tradisi gambelan.
[pilihan-redaksi2]
Kendati hanya mampu menempuh pendidikan formal setingkat SD, Konolan ternyata memiliki dedikasi yang tinggi dalam pendidikan. Terbukti 6 dari anaknya semua lulusan perguruan tinggi dan sebagian besar mengikuti jejak sang ayah. Perkawinan dengan Ni Ketut Ririt tahun 1947 melahirkan : I Wayan Suweca SS Kar, Ir Ni Made Sudarmi, I Nyoman Sudana, BA, Ni Ketut Suryatini, BA, I Wayan Sujana SS Kar dan Ni Made Budiati SH.
Kendati hanya mampu menempuh pendidikan formal setingkat SD, Konolan ternyata memiliki dedikasi yang tinggi dalam pendidikan. Terbukti 6 dari anaknya semua lulusan perguruan tinggi dan sebagian besar mengikuti jejak sang ayah. Perkawinan dengan Ni Ketut Ririt tahun 1947 melahirkan : I Wayan Suweca SS Kar, Ir Ni Made Sudarmi, I Nyoman Sudana, BA, Ni Ketut Suryatini, BA, I Wayan Sujana SS Kar dan Ni Made Budiati SH.
Konolan yang beberapa kali sempat mengiringi pementasan wayang kulit ke luar negeri ; Belanda dan Australia, sebelumnya telah mendapat piagam penghargaan Dharma Kusuma Prop. Bali dari Prof. Dr. Ida Bagus Mantra (Almarhum), piagam Upakarti dari Bupati Badung Pande Made Latra. (bbn/rls/rob)
Berita Denpasar Terbaru
Berita Premium
Reporter: bbn/rls
Berita Terpopuler
01
Pemuda di Kintamani Ditemukan Tewas Tergantung di Kebun
Dibaca: 3895 Kali
02
Anggota DPRD Gianyar Wayan Gede Sudarta Meninggal di Malaysia
Dibaca: 2940 Kali
03
Guru SD di Singaraja Dilaporkan atas Dugaan Pencabulan Siswi
Dibaca: 2051 Kali
04
Klinik Polres Jembrana Raih FKTP Terbaik I di Bidokkes Award 2026
Dibaca: 2014 Kali
05
Polisi Tangkap Terduga Pelaku Pelecehan Siswi SD di Payangan
Dibaca: 1810 Kali
ABOUT BALI
Riset BRIN Ungkap Alasan Masyarakat Bali Mulai Memilih Krematorium untuk Ngaben
Sabtu, 18 Juli 2026
Tradisi Mepatung di Bangli, Penampahan Galungan yang Pererat Persaudaraan
Selasa, 16 Juni 2026
Video Langka Calonarang dan Janger Pegok 1937 Ditemukan di Jerman
Senin, 25 Mei 2026
Tradisi Wadak di Mengani Tetap Lestari, Desa Batasi Satu Godel Setahun
Senin, 18 Mei 2026
Wali Panguangan, Tradisi Sakral Syukuran Panen di Desa Mengani Bangli
Selasa, 5 Mei 2026