Akun
guest@beritabali.com
Beritabali ID: —
Langganan
Beritabali Premium Aktif
Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium
Trending:
- Kamis, 29 Oktober 2026
Gurita Raksasa, Ikon Panggung dan Simbol Marahnya Alam Dasar Laut
Kamis, 23 Mei 2019,
13:50 WITA
Follow
IKUTI BERITABALI.COM DI
GOOGLE NEWS
BERITABALI.COM, BADUNG.
Beritabali.com, Badung. Mengusung konsep tema Pasisi Lango: ”Deep Blue Spirit” di Berawa Beach Arts Festival 2019, Segara (laut), Gunung atau Hulu, dan Teben, (Pasir-Wukir oleh Dang Hyang Nirartha) di Bali, telah menjadi konsep penyatuan yang tidak terpisahkan dari kehidupan religi dan budaya, serta tercermin dalam kehidupan sosial masyarakat.
[pilihan-redaksi]
Konsep Nyegara-Gunung adalah bagian penting dalam prosesi penyempurnaan penyatuan Panca Maha Bhuta, dalam alam Mikrokosmos (manusia) dengan alam Makrokosmos. Segara-Gunung merupakan dualitas konseptual yang saling terkait dalam kosmologi religi Hindu Bali.
Konsep Nyegara-Gunung adalah bagian penting dalam prosesi penyempurnaan penyatuan Panca Maha Bhuta, dalam alam Mikrokosmos (manusia) dengan alam Makrokosmos. Segara-Gunung merupakan dualitas konseptual yang saling terkait dalam kosmologi religi Hindu Bali.
Dalam konsep masyarakat pesisir laut adalah bagian yang tidak dapat terpisahkan dari keseharian dan telah melingkupi kerangka kesadaran secara kosmologis. Laut adalah tumpuan kehidupan masyarakat, mempengaruhi kesadaran masyarakat. Singkat kata laut adalah bagian integral penyangga seluruh entitas kehidupan masyarakat pesisir. Sejalan dengan program Brawa Beach Arts Festival tahun 2019 mengangkat tema Pasisi Lango: ”Deep Blue Spirit”, yang memposisikan laut sebagai sumber energi kesadaran.
Konsep tema ini diterjemahkan ke dalam kehadiran Gurita Raksasa yang memenuhi areal Pura Perancak yang menjadi lokasi pelaksanaan festival. Kehadiran Gurita gigantik yang mengisi keseluruhan areal pantai Perancak, bagian kepalanya akan menjadi bagian dari panggung utama, tentakel-tentakelnya menjadi bagian dari stand-stand boot festival, dan sebagai petunjuk titik dari keseluruhan area festival termasuk area parkiran dan lainnya.
Gurita menjadi brand simbolik dari even dan sekaligus akan menjadi pengajuan untuk perolehan Rekor Muri mengambil kategori karya seni unik untuk panggung tematik gigantik/terbesar. Brawa Beach Arts Festival juga akan menampilkan seni pertunjukkan (Performing arts & Music) berupa: garapan tari dan komposisi musik yang mengangkat nilai-nilai pesisir Kuta Utara. Juga akan diangkat berbagai jenis panganan lokal yang telah mulai terlupakan di dalam Food & Beverage corner. Gelaran kebudayaan ini adalah Festival Kesenian Masyarakat Pesisir (Pasisi Lango) khusus daerah Kuta Utara.
Gelaran ini bertujuan mengangkat nilai-nilai kearifan kebudayaan masyarakat pesisir Bali Selatan terutama di desa Tibubeneng dan sekitarnya. Kehidupan masyarakat pesisir sebagai nelayan, telah lama menjadi penyangga konsumsi ikan masyarakat Bali, tentunya memiliki kearifan tersendiri. Kegiatan ini tidak hanya menjadi ajang kreativitas para seniman, tetapi juga ruang kreativitas kolektif yang melibatkan masyarakat sekitar.
Seperti even pertama, festival juga menghadirkan pameran seni rupa seni lukis dan patung, sajian pertunjukan tari tradisi dan kontemporer serta dimeriahkan dengan band-band lokal. Adapun kegiatan yang akan ditampilkan antara lain:
Karya Intalasi Bambu ”Gurita Raksasa” Rekor Muri
Berbeda dengan even pertama yang memecahkan rekor Muri dengan sajian Cak Konser Kolosal 5.555 siswa SMU dan SMK sekabupaten Badung, yang telah menuai kesuksesan dan astungkara berjalan dengan baik.
Dipilihnya gurita karena keunikannya, di satu sisi lekat dengan binatang yang ringkih tidak terlalu kuat, namun pada sisi lain juga merepresentasikan binatang sebagai monster laut yang menyeramkan. Dalam makna lainnya yang ingin di tampilkan bagaimana spirit dasar laut di bawa untuk menggaungkan kepedulian kita kedepannya terhadap potensi laut kita yang semakin hari semakin tercemarkan dan semakin hari semakin polutan jangan sampai dasar laut marah sehingga membawa kesengsaraan buat umat manusia.
[pilihan-redaksi2]
Dengan datangnya gurita raksasa ke pesisir yang tujuannya untuk mengingatkan kita akan pentingnya menjaga kelestarian laut. Dengan keunikannya itulah yang menjadikan festival yang ke-2 ini mengangkat Gurita sebagai simbol untuk merepresentasikan spirit kesadaran dari dalam lautan (Deep Blue Spirit). Konsep tema ini diterjemahkan ke dalam kehadiran Gurita Raksasa yang memenuhi areal Pura Perancak yang menjadi lokasi pelaksanaan festival.
Dengan datangnya gurita raksasa ke pesisir yang tujuannya untuk mengingatkan kita akan pentingnya menjaga kelestarian laut. Dengan keunikannya itulah yang menjadikan festival yang ke-2 ini mengangkat Gurita sebagai simbol untuk merepresentasikan spirit kesadaran dari dalam lautan (Deep Blue Spirit). Konsep tema ini diterjemahkan ke dalam kehadiran Gurita Raksasa yang memenuhi areal Pura Perancak yang menjadi lokasi pelaksanaan festival.
Kehadiran Gurita gigantik pada bagian kepalanya akan menjadi bagian dari panggung utama, tentakel-tentakelnya menjadi bagian dari stand-stand boot festival, area parkir dan lainnya. Gurita menjadi brand simbolik dari even dan sekaligus akan menjadi pengajuan untuk perolehan rekor Muri mengambil kategori karya seni unik dan gigantik/terbesar.
Karya seni instalasi gurita Gigantik memakai bambu dengan berat kurang lebih 5 ton dengan rangka dari bahan besi, dibuat oleh pematung dari putra daerah asal Br. Tandeg I Ketut Putrayasa. (bbn/rls/rob)
Berita Badung Terbaru
Berita Premium
Reporter: bbn/rls
Berita Terpopuler
01
Mess di Panjer Diserang 19 Orang, Empat Pemuda Luka
Dibaca: 5961 Kali
02
Perempuan 36 Tahun Akhiri Hidup di Kamar Kos Tulikup Gianyar
Dibaca: 4661 Kali
03
Rem Blong, Dua Pria Tewas Kecelakaan di Sukasada
Dibaca: 2648 Kali
04
Telkom Resmi Spin-Off Infrastruktur Fiber ke InfraNexia
Dibaca: 2298 Kali
05
Menkum Dorong WIPO Buat Standar Global Royalti, Karya AI Tak Dilindungi
Dibaca: 2230 Kali
ABOUT BALI
Misteri Lontar Lombok yang Tersimpan di Museum Dukuh Penaban Karangasem
Kamis, 8 Oktober 2026
Nyenuk Ngingkup di Tampaksiring Kembali Digelar Setelah 48 Tahun
Sabtu, 3 Oktober 2026
Guruh Sudah Meramal Overtourism Bali pada Lagu "Chopin Larung" 1975
Sabtu, 26 September 2026
Ban Truk Meledak, Sopir Tewas di Rest Area Pekutatan
Senin, 21 September 2026
Menelusuri Jejak Arsitektur Taman Soekasada Ujung
Senin, 21 September 2026