Akun
guest@beritabali.com
Beritabali ID: —
Langganan
Beritabali Premium Aktif
Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium
- Rabu, 29 Juli 2026
Jukung Terbalik, Nelayan Asal Abang Menghilang
BERITABALI.COM, KARANGASEM.
Seorang nelayan bernama Nyoman Cenik (45) asal Desa Bunutan, Abang, Kabupaten Karangasem dikabarkan menghilang saat melaut.
Pasalnya, jukung yang dipergunakan oleh Cenik melaut ditemukan dalam kondisi terbalik oleh seorang nelayan setempat di kawasan perairan utara Desa Bunutan, Abang, Karangasem pada Kamis (09/07/2020) pagi.
Berdasarkan informasi yang diperoleh, jukung milik Nyoman Cenik ditemukan oleh seorang nelayan sekitar pukul 06.30 WITA pagi ini. Saat itu, yang ditemukan hanya jukungnya saja sementara Cenik tidak ditemukan. Cuaca di wilayah perairan tersebut sedang turun hujan dan gelombang juga dikatakan cukup tinggi.
Dikonfirmasi secara terpisah, Kordinator Pos SAR Kabupaten Karangasem, I Gusti Ngurah Eka Wyadnyana membenarkan hilangnya seorang nelayan tersebut. Menurutnya, pos SAR Karangasem menerima informasi sekitar pukul 11.40 WITA dari seorang warga setempat.
Pihaknya langsung beserta anggota langsung terjun melakukan pencarian di kawasan perairan tempat jukung itu ditemukan. Hanya saja, sejauh ini tim SAR belum berhasil menemukan target yang dicari.
"Ya benar, untuk pencarian hari ini belum membuahkan hasil," ujar Ngurah Eka.
Reporter: bbn/krs
Berita Terpopuler
Pemuda di Kintamani Ditemukan Tewas Tergantung di Kebun
Dibaca: 3884 Kali
Anggota DPRD Gianyar Wayan Gede Sudarta Meninggal di Malaysia
Dibaca: 2817 Kali
Guru SD di Singaraja Dilaporkan atas Dugaan Pencabulan Siswi
Dibaca: 2036 Kali
Klinik Polres Jembrana Raih FKTP Terbaik I di Bidokkes Award 2026
Dibaca: 1986 Kali
Polisi Tangkap Terduga Pelaku Pelecehan Siswi SD di Payangan
Dibaca: 1804 Kali
ABOUT BALI
Riset BRIN Ungkap Alasan Masyarakat Bali Mulai Memilih Krematorium untuk Ngaben
Tradisi Mepatung di Bangli, Penampahan Galungan yang Pererat Persaudaraan
Video Langka Calonarang dan Janger Pegok 1937 Ditemukan di Jerman
Tradisi Wadak di Mengani Tetap Lestari, Desa Batasi Satu Godel Setahun