Akun
guest@beritabali.com
Beritabali ID: —
Langganan
Beritabali Premium Aktif
Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium
- Selasa, 28 Juli 2026
Sensasi Nyeruput Kopi di Tengah Sawah, Bayarnya Barter Gabah
BERITABALI.COM, NASIONAL.
Namanya kopi ethek khas Ponorogo, Jawa Timur. Ini semacam starling atau penjual kopi keliling. Bedanya, kopi ethek dijual keliling di tengah sawah. Pelanggannya para petani atau siapa saja yang ada di sawah.
Kemudian, yang unik dari kopi di Desa Pijeran Kecamatan Siman ini adalah alat membayarnya. Umumnya orang beli kopi pakai uang. Tapi kalau kopi ethek khas Ponorogo ini bayarnya pakai gabah.
Ciri khas lain, pedagang kopi ini keling dengan memikul barang dagangannya lalu menjajakan kepada para petani di sawah hanya saat musim panen padi. Karena itu mereka melayani pembelian menggunakan gabah.
Salah satu penjual kopi ethek, Suraji, mengaku dirinya jual kopi ethek sudah dilakoninya lebih dari 10 tahun. Selama itu pula ia selalu bertransaksi secara barter dengan hasil panen padi, yakni berupa gabah. Besaran gabah yang diberikan pun terserah pemilik lahan.
"Saya tidak mematok harus berapa kilo, semua tergantung pemilik lahan dan orang yang ada di sawah mau memberikan gabah seberapa," kata Suraji, seperti dikutip dari jatimnet.com, jejaring media suara.com, Rabu (17/03/2021).
Selain menjajakan kopi, Suraji juga menawarkan minuman lain seperti teh dan susu panas. Jajanan berupa gorengan seperti pisang goreng, gandos, ketela goreng selalu ia bawa karena memang menjadi favorit para pemanen padi.
Sedangkan air panas sendiri sudah ia masukkan ke dalam kotak besi yang selalu dipanasi menggunakan kayu bakar. Kakek tiga cucu ini menuturkan jika sekali jalan ia mampu menjual 50 gelas minuman dan puluhan gorengan selalu habis saat ia pulang kerumah.
Sedangkan hasil barter gabah yang ia dapatkan tidak menentu, namun rata-rata dalam sehari ia mampu mendapatkan 40 sampai 60 kilo gabah dari hasil ia berkeliling.
"Saya berangkat pukul enam pagi sampai habis, kadang kalau ramai jam sembilan sudah habis, kalau sepi ya sampai setengah hari," ungkap pria paru baya berusia 65 tahun tersebut.
Suraji nenuturkan jika diusia senjanya ia bersyukur masih diberi kesehatan untuk bisa memikul ethek yang beratnya mencapai 80an kilo saat awal berangkat. Bahkan jika kondisi usai hujan jalan untuk menuju sawah satu ke sawah lainnya tak jarang sangat licin dan becek.
"Kalau terpelset sudah tidak terhitung, tapi alhamdulillah tidak sampai dagangan tumpah," kata Suraji.(sumber: suara.com)
Reporter: bbn/net
Berita Terpopuler
Pemuda di Kintamani Ditemukan Tewas Tergantung di Kebun
Dibaca: 3883 Kali
Anggota DPRD Gianyar Wayan Gede Sudarta Meninggal di Malaysia
Dibaca: 2788 Kali
Guru SD di Singaraja Dilaporkan atas Dugaan Pencabulan Siswi
Dibaca: 2027 Kali
Klinik Polres Jembrana Raih FKTP Terbaik I di Bidokkes Award 2026
Dibaca: 1968 Kali
Polisi Tangkap Terduga Pelaku Pelecehan Siswi SD di Payangan
Dibaca: 1800 Kali
ABOUT BALI
Riset BRIN Ungkap Alasan Masyarakat Bali Mulai Memilih Krematorium untuk Ngaben
Tradisi Mepatung di Bangli, Penampahan Galungan yang Pererat Persaudaraan
Video Langka Calonarang dan Janger Pegok 1937 Ditemukan di Jerman
Tradisi Wadak di Mengani Tetap Lestari, Desa Batasi Satu Godel Setahun