Akun
guest@beritabali.com
Beritabali ID: —
Langganan
Beritabali Premium Aktif
Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium
- Selasa, 27 Oktober 2026
Jumlah Emisi Gas Metana Semburan Lumpur Lapindo Sangat Besar
BERITABALI.COM, NASIONAL.
Penelitian ilmiah terkait semburan Lumpur Lapindo di Sidoarjo, Jawa Timur, kembali terkuak ke publik. Laporan studi ini diterbitkan oleh jurnal Scientfic Reports pada 18 Februari 2021.
Dalam jurnal itu dijelaskan kalau jumlah emisi gas metana dari semburan lumpur lapindo ternyata sangat besar. Bahkan disebut-sebut yang terbesar dari sebuah gas alam di bumi.
Metana sendiri adalah gas rumah kaca yang 18 kali lebih kuat dari karbondioksida. Gas ini keluar dari pusat kawah lumpur Lapindo Sidoarjo seluas 7,5 kilometer tersebut.
Lumpur Lapindo sendiri menyembur sejak 2006. Semburan lumpur ini merupakan bekas pengeboran minyak PT Lapindo Brantas di Sidoarjo.
Sejak 16 tahu lalu sampai sekarang Lumpur Lapindo tak henti-hentinya menyemburkan gas, air bercampur lumpur dan minyak--laporan Nationalgeographic.
Sebuah penelitian kolaborasi dari pihak internasional yang dipimpin Adriano Mazzimi dari Centre for Earth Evolution and Dynamics di Univesity of Oslo dilakukan dalam rangka memantau dan menganalisis Lumpur Lapindo selama beberapa tahun.
Hasil penelitian, bencana ini adalah fenomena geologi yang dipicu tekanan fluida yang tinggi akibat interaksi dengan gunung api magmatik yang dekat lokasi tersebut.
Oleh karena itu Lumpur Lapindo dianggap manifestasi permukaan dari sistem sedimen/hidrotermal hibrida. Karbondioksida (CO2) dan metana (CH4) ini adalah kandungan yang terdapat dalam lumpur.
Para peneliti mengukur gas ke atmosfer menggunakan pengukuran berbasis darat dan satelit (TROPOMI). Kedua teknik tersebut menunjukan total kandungan di lumpur lapindo sekitar 100.000 ton per tahun.
Jumlah ini adalah tertinggi dan terbesar yang pernah tercatat secara eksperimen maupun secara penelitian untuk manifestasi gas alam.
Studi baru terhadap emisi Lumpur Lapindo ini juga menunjukan kalau pengukuran emisi gas dengan bantuan satelit dapat menjadi cara ampuh mengetahui cara gas metana di darat dan meningkatkan estimasi jumlah geometana secara global.(sumber: suara.com)
Reporter: bbn/net
Berita Terpopuler
Mess di Panjer Diserang 19 Orang, Empat Pemuda Luka
Dibaca: 5918 Kali
Perempuan 36 Tahun Akhiri Hidup di Kamar Kos Tulikup Gianyar
Dibaca: 4639 Kali
Rem Blong, Dua Pria Tewas Kecelakaan di Sukasada
Dibaca: 2608 Kali
Telkom Resmi Spin-Off Infrastruktur Fiber ke InfraNexia
Dibaca: 2265 Kali
Menkum Dorong WIPO Buat Standar Global Royalti, Karya AI Tak Dilindungi
Dibaca: 2215 Kali
ABOUT BALI
Misteri Lontar Lombok yang Tersimpan di Museum Dukuh Penaban Karangasem
Nyenuk Ngingkup di Tampaksiring Kembali Digelar Setelah 48 Tahun
Guruh Sudah Meramal Overtourism Bali pada Lagu "Chopin Larung" 1975
Ban Truk Meledak, Sopir Tewas di Rest Area Pekutatan