Akun
guest@beritabali.com
Beritabali ID: —
Langganan
Beritabali Premium Aktif
Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium
- Selasa, 27 Oktober 2026
Semua Laki-Laki Dibunuh, Merta Sari Jadi Desa Janda
Sejarah Kelam G30S 1965 di Bali (15)
BERITABALI.COM, JEMBRANA.
Hampir setiap jengkal daerah di Negara, Ibukota Kabupaten Jembrana terjadi pembantaian. Selain Tegalbadeng, Jembrana, sebagai pemicu awal pembantaian, satu daerah lain yang menarik adalah Desa Merta Sari di daerah Loloan.
Desa ini adalah Desa Hindu yang berada di tengah kampung muslim Loloan Barat dan Timur yang dibelah oleh Sungai Ijogading. Saat 1965, Desa Mertasari adalah basis dari anggota PKI, khususnya Barisan Tani Indonesia (BTI).
Saat terjadi pembantaian, desa-desa sekitarnya yaitu Loloan Barat dan Loloan Timur, dikomandani oleh Tameng PNI didukung satuan Pemuda Ansor melakukan pembantaian terhadap laki-laki yang berasal dari Desa Merta Sari.
Semua laki-laki habis dibunuh dan di Desa Merta Sari akhirnya hanya tersisa kaum perempuan saja. Desa Merta Sari kemudian dijuluki Desa Janda.
Kuburan massal adalah hal lain yang menarik ditemui di setiap jengkal tanah di Jembrana. Selain Tegalbadeng, Toko Wong dan tempat pembantaian serta kuburan massal, menurut laporan sejumlah penulis, ada dua tempat yang menarik.
Pertama adalah sebuah sumur yang kemudian dinamakan Lubang Buaya di Desa Melaya. Sumur ini saat pembantaian PKI adalah tempat pembuangan mayat-mayat yang kemudian ditanami bambu-bambu. Masyarakat Melaya yang tahu akhirnya percaya bahwa sumur ini angker.
Kedua adalah sebuah pantai yang apabila masuk di jalan tanah terdapat papan nama bertulis Tempat Wisata Pantai Candikesuma. Di depan pantai terdapat dua bukit tinggi yang di atasnya berdiri pura.
Di atas bukit itulah dulu para anggota dan simpatisan PKI dijejer dan ditembak sehingga jatuh ke pantai dan mayatnya langsung hanyut ditelan ombak.
Sebagian besar penduduk di Kabupaten Jembrana yang telah berusia 60 tahun ke atas sangat tahu dan mengerti peristiwa pembantaian di Jembrana tahun 1965. Namun menurut sejumlah penulis, baik dari dalam maupun luar negeri, mereka memilih menutup mulut rapat-rapat, karena masih trauma.
Sejumlah anggota PKI yang dinyatakan hilang setelah dijemput aparat keamanan diantaranya I Nyoman Puger (Denpasar), Tiaga (Denpasar), Sutaja, Ketut Kandi (Klungkung), Anom Dade (Denpasar).
Tidak kurang dari 27 orang sarjana yang menjadi pengurus inti PKI atau organisasi sayap kiri PKI di tingkat propinsi dan kabupaten di Bali sudah tidak diketahui lagi nasibnya setelah dijemput aparat keamanan dan milisi.
Pada saat itu ada yang dinamakan Komandan Anti G30S PKI. Siapa saja yang dilaporkan ke komando ini, maka terlapor akan hilang dan dibunuh. Memang banjar dilibatkan, karena ketua Koordinasi Kesatuan Aksi Pengganyangan (KOKAP) adalah kelian (pemimpin/ketua/kepala) Banjar. Jadi Kelian banjar otomatis bertindak sebagai penanggungjawab algojo.
Hanya Gereja Katolik di Bali yang mengambil inisiatif memberikan perlindungan bagi PKI. Pimpinan Gereja Katolik di tingkat paroki se-keuskupan Denpasar, menyediakan ruangan khusus bagi pengungsi yang dikategorikan PKI, karena ada instruksi dari Kardinal Justinus Darmowujono dari Jakarta.
Reporter: bbn/tim
Berita Terpopuler
Mess di Panjer Diserang 19 Orang, Empat Pemuda Luka
Dibaca: 5918 Kali
Perempuan 36 Tahun Akhiri Hidup di Kamar Kos Tulikup Gianyar
Dibaca: 4639 Kali
Rem Blong, Dua Pria Tewas Kecelakaan di Sukasada
Dibaca: 2608 Kali
Telkom Resmi Spin-Off Infrastruktur Fiber ke InfraNexia
Dibaca: 2265 Kali
Menkum Dorong WIPO Buat Standar Global Royalti, Karya AI Tak Dilindungi
Dibaca: 2215 Kali
ABOUT BALI
Misteri Lontar Lombok yang Tersimpan di Museum Dukuh Penaban Karangasem
Nyenuk Ngingkup di Tampaksiring Kembali Digelar Setelah 48 Tahun
Guruh Sudah Meramal Overtourism Bali pada Lagu "Chopin Larung" 1975
Ban Truk Meledak, Sopir Tewas di Rest Area Pekutatan