Akun
guest@beritabali.com
Beritabali ID: —
Langganan
Beritabali Premium Aktif
Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium
- Rabu, 10 Juni 2026
Alasan Desa Adat Kapal Memilih Ngaben Daripada Kremasi
BERITABALI.COM, BADUNG.
Di tengah terbangunnya pola pikir warga adat Bali yang saat ini lebih memilih upacara kremasi dibandingkan Ngaben untuk prosesi kematian, Desa Adat Kapal masih konsisten untuk melaksanakan ngaben.
Bendesa Adat Kapal, I Ketut Sudarsana mengatakan Desa Adat Kapal telah merintis prosesi pelaksanaan ngaben berbiaya rendah, terutama pada biaya banten yang harus dikeluarkan oleh krama.
Adapun cara dilakukan Desa Adat Kapal yaitu, dengan sistem hampir sama dengan pelaksanaan arisan. Dana dipungut dari masing-masing krama banjar. Sehingga setiap ada krama banjar meninggal biaya ngaben cukup Rp6 juta saja dengan pemilihan tingkat upakara madya.
Dengan telah berjalannya sistem tersebut, tentu krama banjar adat sampai saat ini enggan melakukan prosesi kremasi karena, biaya pelaksanaan ngaben lebih rendah dari biaya kremasi.
"Sistem ini telah kami rintis sejak 2017 sampai saat ini masih kami jalankan," jelasnya.
Dalam pelaksanaan upakara ngaben di Desa Adat Kapal cukup dengan biaya Rp6 juta sudah dapat melaksanakan prosesi ngaben Karena dalam proses pembuatan banten telah ada serati (tukang banten) yang sebelumnya telah dilatih dalam proses pembuat banten ngaben.
"Adapun sistem model pengumpulan dana seperti arisan. Dengan masing-masing krama banjar mengeluarkan total dana Rp50 ribu per orang per KK. Akan tetapi, sebelum sistem tersebut berjalan krama banjar telah memiliki modal dasar atau modal abadi terlebih dahulu," katanya.
"Dengan iuran disetor untuk mengumpulkan modal abadi tersebut, masing-masing krama mengeluarkan biaya sebesar Rp100 ribu per orang per KK. Dan itu hanya dikeluarkan cukup sekali saja, untuk seterusnya krama warga hanya mengeluarkan Rp 50 ribu saja setiap ada krama melaksanakan kegiatan ngaben," paparnya.
Ia menyebut jika seandainya ada krama banjar memilih kremasi, nantinya dananya ditanggung sendiri tanpa dibantu dana dari krama Banjar. Ia mengungkap pada awal pelaksanaan penerapan hal tersebut, mindset masyarakat terlebih dahulu diubah dengan melakukan penyuluhan di masing-masing Banjar di wewidangan desa adat Kapal.
"Mindset krama diubah terlebih dahulu, pengertian penyadaran. Setelah dapat diterima dengan akal sehat baru dimulai penerapan sistem tersebut," ucapnya.
Menurutnya, jika dibiarkan krama melakukan kremasi, tentu sedikit demi sedikit akan bisa merongrong serta menipiskan nilai-nilai budaya desa.
"Jika krama di desa lain dapat menerapkan apa telah kami lakukan, tentunya tidak mungkin krama banjar akan melakukan kremasi. Dengan tidak mengurangi rasa hormat pada semeton-semeton yang telah membuat tempat kremasi, tentu tidak ada salahnya mencoba terlebih dahulu sistem tersebut di desa masing-masing," pungkasnya.
Reporter: bbn/aga
Berita Terpopuler
ABOUT BALI
Video Langka Calonarang dan Janger Pegok 1937 Ditemukan di Jerman
Tradisi Wadak di Mengani Tetap Lestari, Desa Batasi Satu Godel Setahun
Wali Panguangan, Tradisi Sakral Syukuran Panen di Desa Mengani Bangli