Akun
guest@beritabali.com
Beritabali ID: —
Langganan
Beritabali Premium Aktif
Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium
- Minggu, 20 September 2026
Populasi dan Harga Babi di Bali Stabil Jelang Akhir Tahun
BERITABALI.COM, BADUNG.
Menjelang akhir tahun, populasi dan harga daging babi di Bali umumnya masih cukup stabil bahkan cenderung terjadi penurunan harga dibandingkan saat menjelang Hari Raya Galungan lalu.
Hal ini disampaikan Wakil Dekan 2 Fakultas Peternakan Unud, Ketua Persepsi Komda Bali yang juga Ketua PII Cabang Karangsem, Dr. Ir. Budi Rahayu Tanama Putri,S.Pt,.MM.,IPU.,ASEAN.Eng. Ia mengatakan, hal ini disebabkan karena populasi Babi di Bali perlahan-lahan mulai meningkat.
"Seiring dengan meningkatnya kesadaran peternak dalam penerapan biosecurity, serta berbagai program pemerintah dalam menanggulangi virus ASF," jelasnya, Rabu (29/12) di Badung.
Berdasarkan data BPS (2021) populasi Babi terbanyak ada di Kabupaten Buleleng, yakni sebanyak 105.130 ekor, diikuti Kabupten Karangasem dengan populasi babi sebanyak 100.598 ekor.
"Peternakan Babi di Buleleng dan Karangasem masih bertahan pascabadai kasus ASF ini, disebabkan karena mayoritas masyarakat di kabupaten tersebut melakukan usaha peternakan Babi skala rakyat dengan jumlah ternak kurang dari 10 ekor, dengan pekerja adalah pemilik atau anggota keluarga sendiri sehingga, pemulihan kondisi dan penanganan serta pencegahan penyakit dapat dilakukan dengan lebih cepat," paparnya.
Sedangkan jika dilihat dari kondisi penyebaran virus ASF di Bali saat ini perlahan-lahan mulai mereda. Faktor utama memiliki peran penting bagi kesehatan ternak adalah manajemen pemeliharaan ternak yang baik.
"Diawali dari pemilihan bibit yang berasal dari induk yang baik dan sehat, pemberian pakan yang memiliki kandungan nutrisi yang baik, pemberian vaksinasi dan vitamin atau mineral yang dibutuhkan, manajemen perkandangan, serta penerapan biosecurty yang baik. Keseluruhan faktor tersebut memegang peranan yang sama penting dan saling terkait dalam upaya untuk menjamin kesehatan ternak," bebernya.
Sebagai akademisi, ia berharap kedepan usaha peternakan khususnya peternakan Babi di Bali harus terus dikembangkan, jika tidak, maka harga daging babi akan meningkat yang diiringi dengan masuknya Babi dagingnya dari luar Bali.
Karena permintaan daging Babi di Bali akan tetap tinggi, mengingat kondisi sosial dan budaya di Bali tidak bisa terlepas dari konsumsi daging babi, baik untuk konsumsi sehari-hari maupun sebagai sarana upacara.
Selain itu, upaya perbaikan manajemen usaha peternakan babi harus terus dilakukan, yang didukung dengan berbagai program dan pendampingan dari dinas dan instansi terkait, termasuk dari perguruan tinggi.
"Diharapakan kepada peternak yang selama ini sudah menjalankan usahanya dengan baik, selalu melakukan koordinasi dengan dinas peternakan dimana lokasi usahanya berada. Dengan demikian kontrol secara kontinyu dapat dilakukan," tutupnya.
Reporter: bbn/aga
Berita Terpopuler
Sopir Truk di Muncan Karangasem Dibakar Hidup-hidup, Diduga Soal Setoran
Dibaca: 7837 Kali
Tiga WNA Australia Ditemukan Tewas di Kontrakan Legian
Dibaca: 5635 Kali
Habib Diciduk di Vila Dalung, 152 Gram Ganja Disita Polisi
Dibaca: 3532 Kali
Bentrok di Mess Buruh Tunas Jaya Sanur di Benoa, Satu Orang Tewas
Dibaca: 2388 Kali
ABOUT BALI
Turis Australia Ditangkap Bawa 37 Paket Ganja di Denpasar
Kronologi Gudang Rongsokan di Jalan Nakula Denpasar Terbakar
Riset BRIN Ungkap Alasan Masyarakat Bali Mulai Memilih Krematorium untuk Ngaben
Tradisi Mepatung di Bangli, Penampahan Galungan yang Pererat Persaudaraan