Akun
guest@beritabali.com
Beritabali ID: —
Langganan
Beritabali Premium Aktif
Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium
- Rabu, 22 Juli 2026
Trauma hingga Kekerasan Fisik Bisa Pengaruhi Perkembangan Otak Anak
BERITABALI.COM, NASIONAL.
Kepala psikiatri di Rumah Sakit Anak Texas, Profesor Bruce Perry berbagi gambar dalam sebuah makalah tentang bagaimana kekerasan fisik, pengabaian, trauma hingga pelecehan emosional saat kanak-kanak bisa mempengaruhi perkembangan kognitif anak di kemudian hari.
Dalam gambar CT scan yang dibagikan, terlihat pemindaian otak pada dua anak berusia 3 tahun.
Di sebelah kiri adalah gambar otak anak yang sehat, tumbuh dalam kehidupan rumah tangga yang bahagia. Ia ukuran kepala rata-rata, memiliki struktur yang jauh lebih sedikit dan jauh lebih besar daripada yang di sebelah kanan.
Sedangkan pemindaian di sebelah kanan, yang jauh lebih kecil dan memiliki struktur yang jauh lebih kabur, adalah otak anak yang telah mengalami trauma dan pengabaian emosional yang ekstrem.
"Anak ini menderita 'pengabaian kekurangan sensorik yang parah'," tulis Profesor Bruce Perry, dikutip dari NY Post.
"Otak anak ini secara signifikan lebih kecil dari rata-rata dan memiliki ventrikel yang membesar dan atrofi kortikal," tambahnya.
Artinya, anak dengan otak yang jauh lebih kecil ini akan mengalami keterlambatan perkembangan dan masalah dengan memori. Atrofi kortikal adalah sesuatu yang lebih sering terlihat pada orang tua yang menderita penyakit Alzheimer.
Telah diketahui dengan baik bahwa kekerasan fisik dapat merusak otak anak dan menyebabkan komplikasi seumur hidup, kadang-kadang bahkan kematian.
Efek dari pelecehan emosional kurang sering dipikirkan, tetapi tidak kurang merugikan kesehatan anak. Pelecehan emosional sendiri bisa berbentuk kritikan, mempermalukan, menyalahkan, atau memanipulasi.
Perry menjelaskan bahwa anak-anak, dan orang dewasa yang telah mengalami pengabaian emosional dapat merasa sangat sulit untuk membentuk hubungan yang sehat.
Mereka mungkin berakhir dengan masalah keterikatan, di mana mereka menjadi terlalu bergantung atau bergantung pada satu orang, atau mereka mungkin berakhir terisolasi secara sosial di kemudian hari.
Beberapa penelitian menemukan bahwa anak-anak yang mengalami tekanan emosional sejak usia muda memiliki masalah dengan emosi dan memori.
Sebuah studi tahun 2009 dari Rumah Sakit Anak Stanford misalnya, menemukan bahwa anak-anak dengan gangguan stres pasca-trauma dan tingkat tinggi hormon stres kortisol lebih mungkin mengalami penurunan ukuran hippocampus, bagian dari otak yang bertanggung jawab untuk memproses memori dan emosi. (Sumber : Suara.com)
Reporter: bbn/tim
Berita Terpopuler
Pemuda di Kintamani Ditemukan Tewas Tergantung di Kebun
Dibaca: 3771 Kali
Positif Ekstasi, Kanit Reskrim Polsek Kuta Ditahan Propam Polda Bali
Dibaca: 1438 Kali
Penembakan di Klub Malam Canggu, Dua Orang Terluka, Pelaku Diburu
Dibaca: 1422 Kali
Menhub Setuju Bandara Letkol Wisnu Dikembangkan di Bali Utara
Dibaca: 1378 Kali
Risiko terhadap Momentum Digital Indonesia
Dibaca: 1289 Kali
ABOUT BALI
Riset BRIN Ungkap Alasan Masyarakat Bali Mulai Memilih Krematorium untuk Ngaben
Tradisi Mepatung di Bangli, Penampahan Galungan yang Pererat Persaudaraan
Video Langka Calonarang dan Janger Pegok 1937 Ditemukan di Jerman
Tradisi Wadak di Mengani Tetap Lestari, Desa Batasi Satu Godel Setahun