Akun
guest@beritabali.com
Beritabali ID: —
Langganan
Beritabali Premium Aktif
Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium
- Selasa, 20 Oktober 2026
Dampak Invasi Rusia Terhadap Keselamatan Perempuan Ukraina
BERITABALI.COM, DUNIA.
Invasi yang dilakukan Rusia ke Ukraina tidak hanya melibatkan pemboman atau serangan senjata api saja, tetapi juga pemerkosaan serta kekerasan seksual terhadap perempuan.
Human Rights Watch (HRW) mengklaim telah mendokumentasikan banyak kasus tentara Rusia melakukan kejahatan perang terhadap warga sipil di wilayah Chernihiv, Kharkiv dan Kyiv.
Dalam laporan Minggu (3/4/2022), HRW menemukan kasus pemerkosaan berulang, eksekusi ringan, kekerasan dan ancaman yang melanggar hukum antara 27 Februari hingga 14 Maret.
Dilansir Newsweek, seorang wanita mengatakan kepada HRW bahwa salah seorang tentara Rusia berulang kali memperkosanya di sebuah sekolah di wilayah Kharkiv, tempat sang wanita berlindung.
Tentara tersebut juga telah memukul dan menyayat wajah, leher, serta memotong rambutnya dengan pisau sebelum sang wanita bisa melarikan diri dan mendapat perawatan medis.
Skala kekerasan seksual juga meningkat, lapor The Guardian. Para perempuan telah melaporkan pengalaman buruknya atas kejahatan tentara Rusia kepada polisi, media, dan organisasi hak asasi manusia.
Sejauh ini, penyelidik telah mengumpulkan banyak laporan yang berisi pemerkosaan beramai-ramai, penyerangan dengan todongan senjata, dan pemerkosaan yang dilakukan di depan anak-anak.
“Kami telah menerima beberapa panggilan ke hotline darurat dari wanita dan para gadis yang mencari bantuan, tetapi banyak kasus tidak mungkin dibantu secara fisik. Kami belum bisa menjangkau mereka karena perang," jelas presiden La Strada Ukraina, Kateryna Cherepakha.
La Strada Ukraina merupakan sebuah badan amal yang mendukung para penyintas peradangan manusia, kekerasan dalam rumah tangga, dan kekerasan seksual.
"Pemerkosaan adalah kejahatan yang tidak dilaporkan dan masalah yang distigmatisasi bahkan di masa damai. Saya khawatir apa yang kita pelajari hanya akan menjadi puncak gunung es," sambungnya.
Organisasi seperti La Strada Ukraina dan kelompok seperti Feminist Workshop yang mencakup wilayah luas telah bekerja sama secara online dengan pemerintah setempat untuk mendistribusikan informasi dukungan medis, hukum, dan psikologis yang tersedia bagi para korban kekersan seksual.
Mereka juga berusaha membantu menemukan tempat perlindungan yang aman bagi perempuan di segala usia yang melarikan diri, baik dari perang maupun kekerasan rumah tangga.
Namun, mereka tetap takut trauma akibat kekerasan seksual dan pemerkosaan akan menjadi penderitaan mendalam bagi seluruh masyarakat Ukraina selama bertahun-tahun mendatang.
“Ketika seorang wanita melarikan diri, sepertinya dia aman, dia jauh dari senjata dan pria yang memperkosanya. Tapi traumanya adalah bom di dalam dirinya, yang mengikutinya. Tingkat dari apa yang terjadi sekarang sangat memilukan," tandas manajer urusan eksternal Feminist Workshop cabang Lviv, Sasha Kantser. (Sumber: Suara.com)
Reporter: bbn/net
Berita Terpopuler
Perempuan 36 Tahun Akhiri Hidup di Kamar Kos Tulikup Gianyar
Dibaca: 4499 Kali
Menkum Dorong WIPO Buat Standar Global Royalti, Karya AI Tak Dilindungi
Dibaca: 2122 Kali
Telkom Resmi Spin-Off Infrastruktur Fiber ke InfraNexia
Dibaca: 2064 Kali
Rem Blong, Truk Bermuatan Batu Terjun ke Jurang di Sidemen
Dibaca: 1651 Kali
Sidak Cafe di Payangan, Polisi dan BNN Gianyar Tes Urine 21 Orang
Dibaca: 1500 Kali
ABOUT BALI
Misteri Lontar Lombok yang Tersimpan di Museum Dukuh Penaban Karangasem
Nyenuk Ngingkup di Tampaksiring Kembali Digelar Setelah 48 Tahun
Guruh Sudah Meramal Overtourism Bali pada Lagu "Chopin Larung" 1975
Ban Truk Meledak, Sopir Tewas di Rest Area Pekutatan