Akun
guest@beritabali.com
Beritabali ID: —
Langganan
Beritabali Premium Aktif
Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium
- Rabu, 15 Juli 2026
NFT Disebut Punya Masalah Besar, Gelembungnya Pecah
BERITABALI.COM, NASIONAL.
Gelembung (bubble) Non-Fungible token atau NFT dinilai mulai pecah. Hal tersebut diungkap oleh Penulis buku terlaris New York Times 2010 The Black Swan, Nassim Nicholas Taleb.
Nassim Nicholas Taleb salah satu dari sedikit orang yang melihat krisis keuangan 2007-2008 datang dalam sebuah buku yang dianggap oleh beberapa orang sebagai salah satu yang paling berpengaruh sejak Perang Dunia II.
"Masalah NFT mulai meledak," kata Taleb dalam tweet nya, dikutip dari Yahoo Finance, Selasa (19/4/2022). "Yang Anda butuhkan hanyalah suku bunga yang lebih tinggi untuk hal-hal yang tidak masuk akal untuk mulai tidak masuk akal."
Gelembung atau bubble adalah istilah ekonomi yang menunjukkan naik tajamnya harga suatu aset termasuk kripto dari harga wajarnya kemudian dengan cepat harga aset tersebut turun drastis yang membuat banyak pihak mengalami kerugian yang besar.
Taleb mengutip kisah baru-baru ini tentang salah satu pendiri Twitter Jack Dorsey, yang tweet pertamanya terjual sebagai NFT tahun lalu dengan harga hampir US$ 3 juta atau sekitar Rp 43,04 miliar. Sekarang hanya bernilai ribuan dolar, menurut laporan CNBC Internasional yang diterbitkan minggu ini.
Pembeli tweet tersebut adalah pengusaha crypto Sina Estavi, yang mengumumkan Rabu pekan lalu bahwa ia akan menjual NFT di OpeanSea dan akan menyumbangkan setengah dari hasilnya untuk amal. Namun pada Sabtu tawaran tertinggi NFT tersebut hanya lebih dari US$ 18 ribu sekitar Rp 258,29 juta.
Kemudian, Teori Taleb tentang Black Swan adalah tentang munculnya peristiwa yang sangat langka di mana pasar tidak siap. Pada 2007, harga rumah turun, dan pada tahun 2020-an itu adalah akhir dari suku bunga rendah dan dana murah.
The Federal Reserve diperkirakan menaikkan suku bunga 50 basis pin pada Mei, bagian dari upaya yang lebih agresif untuk mengendalikan kenaikan inflasi. Harga konsumen AS naik hampir 9 persen year on year bulan lalu, kenaikan terbesar sejak 1981.
Bahkan, pasar telah bersiap untuk akhir dari suku bunga sangat rendah dan dana murah. Suku bunga rendah merupakan kebijakan moneter dalam pandemi Covid-19.
Taleb tampaknya berargumen banyak dari dana murah ini telah dituangkan ke dalam investasi spekulatif seperti NFT dan aktivitas itu akan segera berakhir.
Changpeng Zhao, miliarder pendiri Binance, platform perdagangan cryptocurrency terbesar di dunia, mengungkapkan sentimen yang mirip dengan Taleb dalam wawancara baru-baru ini dengan Fortune. Ia menanggapi penjualan karya seni NFT tahun 2021 seharga US$69 juta dan mengatakan bahwa "Orang-orang telah kehilangan pikiran."
Zhao juga melihat kerapuhan pasar tetapi dengan cepat menunjukkan dia bukan kolektor seni.
"Tidak ada yang begitu berharga, kan?" kata dia, merujuk pada penjualan yang menakjubkan dari Beeple. "Tetapi jika Anda memiliki satu orang yang bersedia membayarnya, jika orang itu tiba-tiba berubah pikiran, maka itu tidak lagi bernilai sebanyak itu." ungkapnya.
Pemilik karya itu adalah seorang seniman yang dikenal sebagai Beeple Mike Winkelmann. Namun ia tetap optimistis meski banyak yang menyatakan kekhawatiran akan pecahnya gelembung itu.
"Tapi itu tidak menghapus kehadiran internet. Jadi teknologinya sendiri cukup kuat, di mana saya pikir itu akan bertahan lebih lama dari itu," ujar dia. (Sumber: CNBC Indonesia)
Reporter: bbn/net
Berita Terpopuler
Pemuda di Kintamani Ditemukan Tewas Tergantung di Kebun
Dibaca: 3687 Kali
Positif Ekstasi, Kanit Reskrim Polsek Kuta Ditahan Propam Polda Bali
Dibaca: 1363 Kali
Risiko terhadap Momentum Digital Indonesia
Dibaca: 1240 Kali
Menhub Setuju Bandara Letkol Wisnu Dikembangkan di Bali Utara
Dibaca: 1168 Kali
The Greatest Showcase Jadi Event Mermaid Pertama Terbesar di Indonesia
Dibaca: 1078 Kali
ABOUT BALI
Tradisi Mepatung di Bangli, Penampahan Galungan yang Pererat Persaudaraan
Video Langka Calonarang dan Janger Pegok 1937 Ditemukan di Jerman
Tradisi Wadak di Mengani Tetap Lestari, Desa Batasi Satu Godel Setahun