Akun
guest@beritabali.com
Beritabali ID: —
Langganan
Beritabali Premium Aktif
Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium
- Rabu, 14 Oktober 2026
Permintaan Tebusan Ransomware Naik Tajam di 2021
BERITABALI.COM, NASIONAL.
Rata-rata permintaan tebusan para penjahat siber dalam serangan ransomware pada 2021 naik tajam hingga lebih dari 2,2 juta dolar AS atau sekira Rp 31 miliar, sementara rata-rata transaksi naik 78 persen menjadi 541.010 dolar AS atau sekitar Rp 7,7 miliar.
Sektor industri yang paling terpengaruh oleh serangan ransomware itu antara lain jasa profesional dan hukum, konstruksi, grosir dan eceran, kesehatan, dan manufaktur, demikian temuan dalam laporan bertajuk 2022 Unit 42 Ransomware Threat Report dari Palo Alto Network, dikutip Rabu (20/4/2022).
Deputi Direktur Unit 42 Threat Intelligence, Jen Miller-Osborn, mengatakan serangan ransomware pada 2021 telah mengganggu aktivitas sehari-hari yang di seluruh dunia- mulai dari membeli bahan makanan, bahan bakar untuk kendaraan, bahkan saat menghubungi nomor darurat seperti 911.
Grup ransomware yang paling bertanggung jawab atas sebagian besar serangan tahun lalu adalah Conti. Terhitung lebih dari 1 dari 5 kasus yang dikerjakan para konsultan Unit 42 pada 2021 adalah berasal dari Conti.
REvil, yang juga dikenal sebagai Sodinokibi, berada di posisi kedua (7,1%), disusul oleh Hello Kitty dan Phobos (masing-masing 4,8%). Conti juga mengunggah nama 511 organisasi di situs kebocoran Dark Web-nya, terbanyak dari grup mana pun.
Sementara itu, Conti 2.0 adalah ancaman yang paling berpengaruh pada tahun 2021 di wilayah Asia Pasifik. Dalam perihal industri, organisasi yang paling banyak menjadi target serangan adalah bidang jasa profesional dan hukum serta industri manufaktur.
Laporan ini menjelaskan pesatnya perkembangan ekosistem pemerasan siber di 2021, dengan munculnya 35 grup ransomware baru. Laporan tersebut memaparkan bagaimana perusahaan kriminal menginvestasikan keuntungan tak terduga untuk menciptakan alat yang mudah digunakan dalam serangan yang memanfaatkan kerentanan zero-day.
Jumlah korban yang datanya muncul di situs-situs kebocoran data meningkat drastis (85%) pada 2021, menjadi 2.566 organisasi, berdasarkan analisa Unit 42. Sebanyak 60 persen dari korban kebocoran data berlokasi di Amerika, kemudian Eropa, Timur Tengah, dan Afrika 31 persen, dan juga 9 persen di wilayah Asia Pasifik.
"Ransomware menjadi penyebab utama keprihatinan keamanan sistem bagi organisasi di seluruh dunia, termasuk Indonesia. Bisnis-bisnis di berbagai sektor harus lebih berhati-hati lagi dalam menyikapi risiko dari pemerasan siber dan menilai kemampuan mereka dalam memerangi risiko ini," jelas Adi Rusli, Country Manager Indonesia, Palo Alto Networks. [Antara]
Reporter: bbn/net
Berita Terpopuler
Perempuan 36 Tahun Akhiri Hidup di Kamar Kos Tulikup Gianyar
Dibaca: 4319 Kali
Menkum Dorong WIPO Buat Standar Global Royalti, Karya AI Tak Dilindungi
Dibaca: 2015 Kali
Telkom Resmi Spin-Off Infrastruktur Fiber ke InfraNexia
Dibaca: 1873 Kali
Rem Blong, Truk Bermuatan Batu Terjun ke Jurang di Sidemen
Dibaca: 1552 Kali
Sidak Cafe di Payangan, Polisi dan BNN Gianyar Tes Urine 21 Orang
Dibaca: 1368 Kali
ABOUT BALI
Misteri Lontar Lombok yang Tersimpan di Museum Dukuh Penaban Karangasem
Nyenuk Ngingkup di Tampaksiring Kembali Digelar Setelah 48 Tahun
Guruh Sudah Meramal Overtourism Bali pada Lagu "Chopin Larung" 1975
Ban Truk Meledak, Sopir Tewas di Rest Area Pekutatan