Akun
guest@beritabali.com
Beritabali ID: —
Langganan
Beritabali Premium Aktif
Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium
- Minggu, 23 Agustus 2026
Dampak Negatif Kendaraan Listrik, Jarang yang Tahu
BERITABALI.COM, NASIONAL.
Kehadiran kendaraan listrik kerap dikaitkan dengan isu lingkungan. Baik motor listrik ataupun mobil listrik, keduanya dianggap sebagai alternatif di masa depan yang mampu mengendalikan lonjakan emisi karbon yang menjadi pemicu pemanasan global. Namun, kendaraan listrik juga memicu dampak negatif. Adapun dampak negatif kendaraan listrik yakni sebagai berikut.
Tak butuh waktu lama bagi sejumlah produsen otomotif untuk perlahan menghentikan produksi kendaraan yang mengusung mesin pembakaran internal dan sebagai gantinya, produsen otomotif akan melansir berbagai jenis kendaraan listrik.
Meski terdengar mudah namun peralihan kendaraan dengan mesin pembakaran internal ke baterai disebut-sebut akan memicu sejumlah dampak negatif.
Di Indonesia dampak negatif tersebut termasuk dampak negatif terhadap lingkungan. Pasalnya, percepatan implementasi kebijakan kendaraan listrik menjadi tantangan baru bagi Indonesia.
Hal ini dikarenakan lebih dari 60% pembangkit listrik di Indonesia adalah berbasis batubara dengan faktor emisi Jaringan Listrik Nasional di atas 780 gram CO2eq/kWh.
Berdasarkan data faktor emisi dari Jaringan Listrik Nasional tahun 2017 di sejumlah negara-negara Asia, Indonesia menempati posisi ketujuh. Penggunaan kendaraan listrik di masa depan tentu akan diikuti dengan meningkatnya konsumsi listrik.
Dikutip dari Brin.go.id, menurut Nugroho Adi Sasongko selaku Perekayasa Madya di Pusat Pengkajian Industri Proses dan Energi Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), menyampaikan bahwa terdapat beberapa dampak negatif kendaraan listrik, antara lain:
Pertama, ancaman terpapar bahan berbahaya dan beracun (B3)
Menurut penelitian-penelitian terbaru yang dilakukan Nugroho di tahun 2021 menunjukkan eksploitasi masif lithium dan nikel dunia dapat meningkatkan rasio paparan material bahan berbahaya dan beracun (B3).
Penelitian beban lingkungan dilakukan dengan Metode Penilaian Dampak Daur Hidup (Life Cycle Impact Assessment atau LCIA) ini menunjukkan vegetasi, hewan bahkan manusia akan kena imbas paparan bahan berbahaya dan beracun (B3) ini.
Kedua, peningkatan konsumsi energi
Pada berbagai tingkatan pembuatan baterai dan maupun produksi kendaraan listrik baik pada tahap ekstraksi, pemurnian, hingga manufaktur akan meningkatkan konsumsi energi dan air bersih yang sangat besar.
Eksploitasi material-material ini akan membawa dampak buruk bagi ekosistem dan terlepasnya sejumlah besar lmbah tailing berbahaya ke lingkungan.
Demikian ulasan perihal dampak negatif kendaraan listrik yang penting untuk diketahui. Selain dua dampak yang disebutkan di atas, ada juga dampak lainnya yang ditimbulkan kendaraan listrik yaitu jejak air (water footprint) yang luar biasa besar dan kerusakan ekosistem.
Reporter: bbn/net
Berita Terpopuler
Suami Tusuk Istri dan Mertua di Penatih
Dibaca: 4633 Kali
Siswi SMP di Sidakarya Diduga Diperkosa Karyawan Ayahnya
Dibaca: 2436 Kali
Pria 28 Tahun Diduga Tewas Gantung Diri di Belakang Rumah Payangan
Dibaca: 2086 Kali
Pelajar 14 Tahun Tewas Kecelakaan di Manggis Karangasem
Dibaca: 1689 Kali
Sterilisasi Pelabuhan Gilimanuk Mulai 5 Agustus
Dibaca: 1128 Kali
ABOUT BALI
Riset BRIN Ungkap Alasan Masyarakat Bali Mulai Memilih Krematorium untuk Ngaben
Tradisi Mepatung di Bangli, Penampahan Galungan yang Pererat Persaudaraan
Video Langka Calonarang dan Janger Pegok 1937 Ditemukan di Jerman
Tradisi Wadak di Mengani Tetap Lestari, Desa Batasi Satu Godel Setahun