Akun
guest@beritabali.com
Beritabali ID: —
Langganan
Beritabali Premium Aktif
Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium
- Kamis, 8 Oktober 2026
Hal yang Sebabkan Banjir Rob di Pantura Jawa Tengah
BERITABALI.COM, NASIONAL.
Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral menyatakan kombinasi perubahan iklim dan penurunan permukaan tanah menjadi faktor pemicu banjir rob di kawasan pesisir Pantai Utara Jawa Tengah, beberapa waktu lalu.
Kepala Pusat Air Tanah dan Geologi Tata Lingkungan Rita Susilawati dalam konferensi pers yang dipantau di Jakarta, Selasa (31/5/2022) menjelaskan penurunan muka tanah tersebut lebih disebabkan karena karakteristik tanah maupun bebatuan akibat konsolidasi alamiah.
Mengenai pengaruh penurunan muka tanah, menurut dia, karena pengambilan air tanah secara kasus per kasus berbeda-beda, sehingga masih membutuhkan studi komprehensif.
Berdasarkan data Badan Geologi, karakteristik geologi di daerah Pekalongan, Semarang dan Demak, sebagian besar disusun oleh endapan tanah lunak yang biasanya memang berpotensi terjadinya penurunan muka tanah.
"Dari 30 titik lokasi banjir rob itu tanah lunak bebatuan aluvial berumur muda, sehingga belum terkonsolidasi," ujar Rita.
Banjir rob atau air pasang yang merendam daratan dengan ketinggian dua meter lebih melanda kawasan pesisir di Jawa Tengah, seperti Semarang, Rembang, Pati, Demak, Pekalongan hingga Tegal.
Peristiwa bencana alam itu merendam ribuan rumah dan sempat melumpuhkan aktivitas perekonomian masyarakat.
Sekretaris Badan Geologi Ediar Usman menyampaikan pembangunan dan pemanfaatan lahan di Pantai Utara Jawa Tengah saat ini terletak pada sedimen-sedimen yang belum terkonsolidasi.
Namun, katanya, pada kawasan tersebut, seperti permukiman, maka penurunan muka tanah akan lebih cepat karena ada beban di atas tanah tersebut yang menyebabkan terjadinya pemadatan yang lebih cepat.
"Apabila mengalami sedimentasi, maka akan terjadi konsolidasi pemadatan. Apabila ada beban di atasnya, maka tentu saja ini akan mempercepat pemadatan dan terjadi penurunan tanah. Setelah terjadi penurunan, maka air laut saat pasang atau gelombang tinggi naik ke lahan tersebut," kata Ediar.
Lebih lanjut ia berpesan agar pembangunan kota yang berada di kawasan pesisir harus dilakukan dengan sistem rekayasa atau desain pembangunan yang lebih teliti, lantaran tanah yang belum terkonsolidasi, terutama endapan aluvium, rawa, danau dan lain sebagainya. [Antara]
Reporter: bbn/net
Berita Terpopuler
Telkom Resmi Spin-Off Infrastruktur Fiber ke InfraNexia
Dibaca: 1513 Kali
Rem Blong, Truk Bermuatan Batu Terjun ke Jurang di Sidemen
Dibaca: 1267 Kali
Konsensus Politik Tanpa Musuh Era Prabowo Subianto
Dibaca: 727 Kali
Desa Batuan Gianyar Raih Juara I Learning Village Dunia
Dibaca: 652 Kali
Anggota Polsek Manggis Dianiaya, Pinggul Patah
Dibaca: 639 Kali
ABOUT BALI
Nyenuk Ngingkup di Tampaksiring Kembali Digelar Setelah 48 Tahun
Guruh Sudah Meramal Overtourism Bali pada Lagu "Chopin Larung" 1975
Ban Truk Meledak, Sopir Tewas di Rest Area Pekutatan
Menelusuri Jejak Arsitektur Taman Soekasada Ujung