Akun
guest@beritabali.com
Beritabali ID: —
Langganan
Beritabali Premium Aktif
Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium
- Jumat, 11 September 2026
Pasar Tua di Kota Negara, Ada Nilai yang Tak Termakan Zaman
BERITABALI.COM, JEMBRANA.
Pasar Tua yang dulu dikenal dengan nama Pasar Toko Muda di Kelurahan Banjar Tengah, di pusat kota Negara dari zaman kerajaan Puri Negara hingga kini masih lestari.
Meski hanya beberapa puluh pedagang yang menjual beragam jenis dagangan yang bertahan mulai jajanan, sayur, buah, daging, ikan laut, dan juga kebutuhan banten serta bunga sarana sembahyangan.
Salah satunya, Ni Kadek Sutarmi (56) asal Lingkungan Ketapang, Kelurahan Lelateng, Kecamatan Negara berjualan jajanan khas Bali khusus upakara. Ia berjualan dari 06.00 WITA hingga tutup pukul 20.00 WITA. Hasilnya, bisa dikatakan cukup menghidupi keluarga dan membantu menambah penghasilan suami.
"Walau baru berjualan 7 tahun tapi pelanggan cukup lumayan banyak. Dengan penghasilan rata-rata perhari Rp200 ribu. Tetapi jelang hari raya sepeti Galungan bisa lebih hingga mencapai Rp1 juta. Dan tidak hanya itu saja saat purnama dan tilem di hari persembahyangan umat Hindu," jelasnya.
Sutarmi juga mengutarakan, untuk jajanannya dibuat sendiri dan ada juga yang nitip jajanan kampung olahan dari warga sekitar pasar. Meski ada petugas kebersihan untuk menata pasar agar tidak kumuh, untuk toiletnya dinilai yang perlu sedikit perbaikan.
"Walau luang lingkup kecil, pasar ini tetap menjadi daya tarik para pembeli dan pedagang. Sementara tanah milik Puri terjaga dengan baik serta terpelihara, sebagai pasar tua yang sangat tradisional. Saat ini usia sudah 56 tahun, saat kecil pasar tua ini sudah ada di zaman kerajaan Puri Negara," katanya.
Kemungkinan besar saat itu, katanya, sistem niaga dilakukan dengan cara barter (bertukar barang-red). Dimana para nelayan pesisir membawa hasil tangkapan di bawa ke pasar bertukar barang dengan para petani sawah ataupun kebun. Hingga kini nilai-nilai tradisional pasar rakyat bertahan di era zaman serba instan.
Sementara, salah satu pembeli, Sinta mengatakan, semaraknya toko berjaringan tak membuat masyarakat di sekitar beralih. Kelebihannya tentu ada sistem tawar menawar saat transaksi. Nilai inilah yang perlu dijaga agar tetap lestari.
"Peran masyarakat dan pemerintah lah yang pegang peran agar kelestarian dan keamanan serta ruang lingkup yang asri tetap di jaga. Jangan hanya di asal ubah, akan tetapi malah konsumen enggan berbelanja. Mari sama-sama menjaga serta lestarikan nilai pasar tradisional. Apalagi ini pasar tua yang penuh dinamika dari zaman ke zaman," pungkasnya.
Reporter: bbn/jbr
Berita Terpopuler
Habib Diciduk di Vila Dalung, 152 Gram Ganja Disita Polisi
Dibaca: 3313 Kali
Anak-anak Bakar Tisu, Rumah di Banyuning Buleleng Ludes Terbakar
Dibaca: 782 Kali
Desil Warga Jehem Bangli Lompat dari 2 ke 7, Ini Masalahnya
Dibaca: 724 Kali
ABOUT BALI
Turis Australia Ditangkap Bawa 37 Paket Ganja di Denpasar
Kronologi Gudang Rongsokan di Jalan Nakula Denpasar Terbakar
Riset BRIN Ungkap Alasan Masyarakat Bali Mulai Memilih Krematorium untuk Ngaben
Tradisi Mepatung di Bangli, Penampahan Galungan yang Pererat Persaudaraan