Akun
guest@beritabali.com
Beritabali ID: —
Langganan
Beritabali Premium Aktif
Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium
- Sabtu, 9 Mei 2026
Ternyata Ini Rahasia Yang Bikin Ekonomi RI Kebal Resesi
BERITABALI.COM, NASIONAL.
Dunia tengah diliputi kekhawatiran akan terjadinya resesi. Kekhawatiran di tingkat global meningkat setelah sejumlah survei serta proyeksi lembaga mengingatkan besarnya potensi resesi.
Tidak hanya Amerika Serikat (AS), sejumlah negara maju juga diperkirakan akan masuk ke jurang resesi dalam waktu dekat. Namun, ekonomi Indonesia diramal mampu tumbuh tinggi pada tahun ini dan 2023.
Baca juga:
Viral Polantas Bawa Galon Air Mineral
"Untuk Indonesia sepertinya kecil kemungkinan ekonomi kita kontraksi karena didorong konsumsi domestik dan investasi domestik," ungkap Ekonom Sucor Sekuritas, Ahmad Mikail.
Bank Dunia, meramal pertumbuhan ekonomi Indonesia bisa mencapai 5,1 persen pada tahun ini. Ramalan tersebut memang lebih rendah dari perkiraan sebelumnya yang sebesar 5,2 persen. Namun masih lebih tinggi dibandingkan realisasi 2021 yang mencapai 3,7 persen.
Sementara untuk 2023 mendatang, ekonomi Indonesia diperkirakan lebih tinggi, yaitu 5,3 persen.
Konsumsi domestik dan investasi memegang andil lebih dari separuh perekonomian tanah air. Sementara yang berhubungan dengan eksternal, yaitu ekspor impor hanya 30 persen.
Sehingga badai besar yang menghantam dunia saat ini tidak berdampak signifikan terhadap Indonesia, berbeda dengan kawasan Eropa hingga Amerika Selatan dan Afrika. Ditambah situasi pengelolaan fiskal yang tidak tepat, maka ada kecenderungan kena resesi dan stagflasi lebih tinggi.
Baca juga:
Gempa Magnitudo 5,3 Guncang Pacitan
"Ekonomi Indonesia tidak terlalu terhubung dengan ekonomi global," jelasnya.
Maka dari itu penting bagi pemerintah untuk menahan laju inflasi. Dengan demikian daya beli masyarakat terjaga dan pemulihan ekonomi dapat terus berlanjut.
"Data-data riil menunjukkan pemulihan ekonomi terus berlanjut dan bahkan terakselerasi," kata Ekonom Bank Mandiri Faisal Rachman.
"Inflasi juga walau meningkat tapi masih dalam taraf manageable. Kuncinya memang pada peran kebijakan pemerintah terutama dalam menjaga pasokan dan distribusi barang dalam mengendalikan harga, terlepas dari keputusan untuk menaikkan subsidi untuk energi dan bahan bakar," paparnya.
Meski begitu, pemerintah juga tetap harus waspada dengan berbagai kemungkinan. Apalagi perang Rusia - Ukraina sebagai pemicu pemburukan ekonomi dunia belum ada titik terang.
"Uncertainty memang masih tinggi. Tapi memang shock sudah diabsorb oleh pemerintah dengan peningkatan subsidi. Tapi seberapa kuat dan efektif juga akan bergantung juga pada seberapa lama dan intensif masalah global supply chain, energy crisis, dan perang Rusia Ukraina." pungkasnya.(sumber: cnbcindonesia.com)
Editor: Redaksi
Reporter: bbn/net
Berita Terpopuler
Remaja di Karangasem Ditemukan Tewas Tergantung di Pohon Jati
Dibaca: 880 Kali
Isu Duet dengan AWK di Pilgub 2030, Ini Respons De Gadjah
Dibaca: 747 Kali
Pemerintah Dorong KEK Kura Kura Bali Jadi Pusat Keuangan Global
Dibaca: 565 Kali
Polisi Bongkar Praktik LC di Bawah Umur di Kafe Gianyar
Dibaca: 532 Kali
ABOUT BALI
Wali Panguangan, Tradisi Sakral Syukuran Panen di Desa Mengani Bangli
Perang Tipat Sayan, Tradisi Syukur Petani Jaga Kesuburan Sawah
Sakralnya Bale Gajah Pura Besakih, Tak Sembarangan Orang Bisa Naik