Akun
guest@beritabali.com
Beritabali ID: —
Langganan
Beritabali Premium Aktif
Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium
- Minggu, 27 September 2026
Resesi Dunia di Depan Mata, Lebih Baik Nabung atau Investasi?
BERITABALI.COM, NASIONAL.
Ekonomi global diwarnai risiko resesi yang diperkirakan bakal melanda dunia pada 2023. Resesi ini dipicu pengetatan moneter oleh banyak bank sentral, juga imbas perang Ukraina-Rusia, hingga kebijakan zero-Covid di China.
Baca juga:
BI Was-Was Resesi Global Kembali Hantam Bali
Menteri Keuangan Sri Mulyani juga sudah mengungkapkan resesi ini dipicu inflasi yang tinggi akibat melesatnya harga pangan dan energi di sejumlah negara, khususnya Eropa dan AS. Kondisi tersebut memicu bank sentral di negara maju menaikkan suku bunga dan mengetatkan likuiditas. Dampaknya akan dirasakan pertumbuhan ekonomi dunia, termasuk negara-negara berkembang.
Lantas, instrumen investasi apa yang harus dipilih di tengah situasi ekonomi global yang penuh tekanan?
Perencanaan Keuangan Advisor Alliance Group (AAG) Indonesia Dandy mengatakan kemungkinan resesi dalam waktu dekat bisa mempengaruhi market. Menurut dia, lebih baik jangan terlalu rakus mengambil keputusan, termasuk memilih instrumen investasi. Dia juga menyebut uang tunai bisa menjadi pilihan, karena tidak akan terlalu terpengaruh saat resesi.
"Karena cash sudah pasti uang nggak akan kemana mana dan bisa disiapkan saat resesi benar terjadi," kata Dandy.
Sedangkan untuk investasi obligasi bisa mengambil kupon tetap (seri FR-Fixed Rate), sehingga investasi tetap terjaga meski ada risiko resesi. Sementara untuk investasi saham harus memilih emiten yang tahan terhadap pelemahan ekonomi, seperti yang berada di jajaran LQ45.
"Emiten yang lebih tahan dampak resesi itu yang punya fundamental kuat, seperti di LQ45, misalnya," kata Dandy.
Dandy juga merekomendasikan investasi emas, karena dikenal sebagai aset safe haven. Umumnya saat ekonomi terpuruk harga emas malah cenderung naik seperti yang terjadi saat krisis pandemi Covid-19.
Sementara itu, perencana keuangan OneShildt Consulting Imelda Tarigan berpendapat reksadana juga masih bisa direkomendasikan sebagai instrumen investasi di tengah ancaman resesi. Dia merekomendasikan reksadana yang mendukung perputaran ekonomi domestik seperti reksadana pendapatan tetap.
"Less volatile, returnnya masih lebih tinggi dari inflasi, prospek setelah dua tahun lagi masih positif," katanya.(sumber: cnbcindonesia.com)
Editor: Redaksi
Reporter: bbn/net
Berita Terpopuler
Sopir Truk di Muncan Karangasem Dibakar Hidup-hidup, Diduga Soal Setoran
Dibaca: 8480 Kali
Tiga WNA Australia Ditemukan Tewas di Kontrakan Legian
Dibaca: 5829 Kali
Habib Diciduk di Vila Dalung, 152 Gram Ganja Disita Polisi
Dibaca: 3654 Kali
Bentrok di Mess Buruh Tunas Jaya Sanur di Benoa, Satu Orang Tewas
Dibaca: 2483 Kali
ABOUT BALI
Guruh Sudah Meramal Overtourism Bali pada Lagu "Chopin Larung" 1975
Ban Truk Meledak, Sopir Tewas di Rest Area Pekutatan
Menelusuri Jejak Arsitektur Taman Soekasada Ujung
Turis Australia Ditangkap Bawa 37 Paket Ganja di Denpasar