Akun
guest@beritabali.com
Beritabali ID: —
Langganan
Beritabali Premium Aktif
Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium
- Kamis, 29 Oktober 2026
28 Negara Jadi Pasien IMF, Krisis Lebih Besar dari 1998
BERITABALI.COM, NASIONAL.
Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengungkapkan saat ini sebanyak 28 negara sudah masuk daftar negara yang akan menjadi pasien International Monetery Financial (IMF).
Menanggapi hal ini, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan bahwa kondisi saat ini jauh lebih buruk dibandingkan dengan situasi krisis pada tahun 1998.
"Ini magnitudenya lebih besar dari krisis 1998 di mana itu di beberapa negara Asean," ucap Airlangga dalam konferensi persnya di Istana Negara, Jakarta, Selasa (11/10/2022).
Airlangga pun bilang sesuai dengan arahan Presiden Jokowi, agar para pembantunya untuk berhati-hati dalam setiap mengambil kebijakan agar tak senasib dengan negara yang sudah masuk daftar pasien IMF.
"Bapak Presiden mengingatkan untuk mengambil kebijakan secara hati hati, jangan seperti yang terjadi di Inggirs, kebijakan yang dibuat membuat pounds jatuh," katanya.
Sebelumnya, Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengatakan sebanyak 28 negara tengah mengantre untuk mendapatkan bantuan Dana Moneter Internasional (IMF) karena kondisi ekonomi yang tidak stabil.
"Saya dapat informasi dari pertemuan di Washington D.C, 28 negara sudah antre di markasnya IMF, menjadi pasien," kata Jokowi dalam acara Investor Daily Summit 2022 di Jakarta, Selasa (11/10/2022).
Jokowi mengatakan kondisi ekonomi global saat ini dipenuhi dengan ketidakpastian. Tidak hanya itu, konfrontasi geopolitik dan perubahan iklim juga membuat banyak negara terancam apabila tidak berhati-hati.
"Ini yang sekali lagi kita tetap harus menjaga optimisme tetapi yang lebih penting hati-hati dan waspada," ungkap mantan Walikota Solo ini.
Jokowi menyebutkan, prediksi pertumbuhan ekonomi global pada 2023 juga sudah direvisi dari sebelumnya 3 persen kini hanya 2,2 persen secara year on year.
Berbagai bank sentral negara lain juga sudah menaikkan suku bunga acuan untuk menarik investor. Meski demikian, tidak semuanya berhasil menggunakan suku bunga sebagai alat untuk keluar dari krisis dan inflasi yang tinggi.
"Dengan situasi yang ada sekarang ini, negara mana pun dapat terlempar dengan cepat keluar jalur dengan sangat mudahnya apabila tidak hati-hati dan tidak waspada," ucapnya.
Reporter: bbn/net
Berita Terpopuler
Mess di Panjer Diserang 19 Orang, Empat Pemuda Luka
Dibaca: 5948 Kali
Perempuan 36 Tahun Akhiri Hidup di Kamar Kos Tulikup Gianyar
Dibaca: 4658 Kali
Rem Blong, Dua Pria Tewas Kecelakaan di Sukasada
Dibaca: 2643 Kali
Telkom Resmi Spin-Off Infrastruktur Fiber ke InfraNexia
Dibaca: 2290 Kali
Menkum Dorong WIPO Buat Standar Global Royalti, Karya AI Tak Dilindungi
Dibaca: 2226 Kali
ABOUT BALI
Misteri Lontar Lombok yang Tersimpan di Museum Dukuh Penaban Karangasem
Nyenuk Ngingkup di Tampaksiring Kembali Digelar Setelah 48 Tahun
Guruh Sudah Meramal Overtourism Bali pada Lagu "Chopin Larung" 1975
Ban Truk Meledak, Sopir Tewas di Rest Area Pekutatan