Akun
guest@beritabali.com
Beritabali ID: —
Langganan
Beritabali Premium Aktif
Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium
- Selasa, 29 September 2026
Xi Jinping Belajar dari Keruntuhan Soviet: Militer Harus Loyal
BERITABALI.COM, DUNIA.
Presiden China, Xi Jinping, belajar satu hal besar dari keruntuhan Uni Soviet. Pelajaran mahal itu adalah loyalitas kekuatan militer dalam pemerintahan komunis.
Ini terungkap dalam dokumenter yang disiarkan media pemerintah China CCTV dengan judul 'Pursuit of Light.' Dokumenter ini terinspirasi dari salah satu prinsip Xi Jinping, yakni "negara yang kuat harus memiliki militer yang kuat."
Dokumenter ini juga mengangkat keinginan Xi untuk mengembalikan "semangat pasukan merah" di militer China di tengah perubahan kondisi geopolitik.
Xi diketahui mencoba menggabungkan Partai Komunis China (PKC) ke militer menggunakan filosofi "partai mengontrol senjata."
Seorang pengamat dalam dokumenter tersebut menilai kegagalan Uni Soviet menerapkan edukasi politik di dalam militernya menyebabkan keruntuhan negara itu.
"Sistem komando dari atas ke bawah dan terpadu adalah keharusan militer. Keputusan Partai Komunis Soviet untuk menghapus edukasi politik merupakan salah satu faktor kunci yang berujung pada keruntuhannya," kata pengamat militer Akademi Sains Militer (AMS) China, Jiang Tiejun, dikutip dari South China Morning Post.
"Pelajaran dari runtuhnya rezim Soviet dan partainya memperingatkan kami bahwa kepemimpinan mutlak partai terhadap militer merupakan isu fundamental, yang seharusnya diperkuat, bukan dilonggarkan," lanjutnya.
Sementara itu, pengamat politik yang berbasis di Chile Chen Daoyin berpendapat bahwa penting bagi partai komunis untuk menguasai militer suatu negara.
"Pelajaran yang diambil dari runtuhnya Uni Soviet adalah gerakannya untuk mengubah militer Soviet menjadi militer nasional, bukan militer partai," tutur Chen.
Xi 'Gaungkan' Kesetiaan Militer
Sementara itu, sejak Xi menjabat pada 2012, ia berkali-kali menegaskan kepada militer China untuk pentingnya "waspada" dan "setia."
Namun, profesor ilmu politik di Universitas Shanghai, Ni Lexiong, menilai apapun yang dilakukan Xi dan PKC menunjukkan militer China masih kekurangan kesetiaan.
Baca juga:
Dua Perempuan Tewas Jadi Tumbal Pesugihan
"Semua yang ditegaskan dan dipromosikan partai menunjukkan itu [militer] masih kekurangan [kesetiaan], mengingat partai menghadapi tekanan yang semakin meningkat dari masalah domestik yang muncul akibat pandemi dan tantangan global imbas perang di Ukraina," kata Ni.
"Desakan Xi untuk kesetiaan Tentara Pembebasan China [PLA] menunjukkan bahwa militer masih perlu meningkatkan moralitas mereka, yang terpengaruh akibat kampanye anti-korupsi Xi di militer dalam beberapa tahun terakhir," lanjutnya.
Kampanye tersebut menyingkirkan ratusan jenderal PLA, termasuk dua mantan Kepala Komisi Militer Pusat (CMC) dan beberapa jenderal top lainnya.
Sementara itu, pengamat lain dari AMS, Shen Zhihua, menilai kedudukan Xi saat ini sebagai sekretaris jenderal PKC dan kepala CMC merupakan langkah penting untuk meningkatkan kontrol PKC ke militer.
"Memegang dua posisi penting bakal memastikan PLA mengikuti partai selamanya," kata Shen.(sumber: cnnindonesia.com)
Editor: Redaksi
Reporter: bbn/net
Berita Terpopuler
Sopir Truk di Muncan Karangasem Dibakar Hidup-hidup, Diduga Soal Setoran
Dibaca: 8524 Kali
Tiga WNA Australia Ditemukan Tewas di Kontrakan Legian
Dibaca: 5871 Kali
Habib Diciduk di Vila Dalung, 152 Gram Ganja Disita Polisi
Dibaca: 3684 Kali
Bentrok di Mess Buruh Tunas Jaya Sanur di Benoa, Satu Orang Tewas
Dibaca: 2517 Kali
ABOUT BALI
Guruh Sudah Meramal Overtourism Bali pada Lagu "Chopin Larung" 1975
Ban Truk Meledak, Sopir Tewas di Rest Area Pekutatan
Menelusuri Jejak Arsitektur Taman Soekasada Ujung
Turis Australia Ditangkap Bawa 37 Paket Ganja di Denpasar