Akun
guest@beritabali.com
Beritabali ID: —
Langganan
Beritabali Premium Aktif
Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium
- Selasa, 28 Juli 2026
Gelombang Panas Terjang Bangladesh, Suhu Melonjak 41 Derajat Celsius
beritabali.com/cnnindonesia.com/Gelombang Panas Terjang Bangladesh, Suhu Melonjak 41 Derajat Celsius
BERITABALI.COM, DUNIA.
Gelombang panas menerjang Bangladesh dan menyebabkan penutupan sejumlah Sekolah Dasar (SD) hingga ancaman pemadaman listrik.
Badan Meteorologi Bangladesh menyatakan suhu maksimal bisa mencapai 41 derajat celsius. Mereka memperingatkan cuaca panas tak menunjukkan segera berakhir, seperti dikutip Reuters, Selasa (6/6).
Sejumlah pengamat menduga krisis iklim berkontribusi terhadap lama waktu gelombang panas selama musim semi.
Merespons cuaca panas ini, Menteri Energi, Mineral, dan Sumber Daya Mineral, Nasrul Hamid, mengatakan Bangladesh akan menghadapi pemadaman listrik hingga lebih dari dua pekan.
Langkah itu ditempuh karena kekurangan bahan bakar memicu penghentian beberapa unit pembangkit listrik, termasuk pembangkit listrik tenaga batu bara terbesar Bangladesh.
"Karena krisis energi global dan lonjakan pasar uang yang belum pernah terjadi sebelumnya, kami menyampaikan hal yang tak diinginkan," kata Hamid di Facebook.
Gelombang panas muncul saat Bangladesh bergulat dengan pemadaman listrik dalam beberapa bulan terakhir.
Suhu yang tinggi dan pemadaman listrik membuat hidup warga yang hanya mampu mendinginkan diri dengan kipas angin, kian sengsara.
"Cuaca hari ini sangat panas tetapi pemadaman listrik dalam waktu lama menambah kesengsaraan kami," kata penjaga toko di Dhaka, Mizanur Rahman.
Cuaca panas juga membuat warga ramai-ramai mencari perawatan medis.
Salah satu petugas medis di timur laut Bangladesh, Shafiqul Islam, mengatakan mendapat banyak pasien yang mengalami heat stroke.
"Kami mendapat banyak pasien yang mengalami heat-stroke [serangan panas] atau masalah yang berkaitan dengan panas," kata Islam.
Menanggapi gelombang panas di Bangladesh, pihak berwenang mengimbau penduduk untuk tetap di rumah dan mengonsumsi air lebih banyak.
Namun, gelombang panas dalam jangka waktu lama diikuti pemadaman listrik menyebabkan kekurangan air di banyak tempat.
"Kekurangan air dan cuaca panas mencekik kami," kata Mohammad Sultan.(sumber: cnnindonesia.com)
Editor: Redaksi
Reporter: bbn/net
Berita Terpopuler
Pemuda di Kintamani Ditemukan Tewas Tergantung di Kebun
Dibaca: 3881 Kali
Anggota DPRD Gianyar Wayan Gede Sudarta Meninggal di Malaysia
Dibaca: 2514 Kali
Guru SD di Singaraja Dilaporkan atas Dugaan Pencabulan Siswi
Dibaca: 2014 Kali
Klinik Polres Jembrana Raih FKTP Terbaik I di Bidokkes Award 2026
Dibaca: 1943 Kali
Polisi Tangkap Terduga Pelaku Pelecehan Siswi SD di Payangan
Dibaca: 1796 Kali
ABOUT BALI
Riset BRIN Ungkap Alasan Masyarakat Bali Mulai Memilih Krematorium untuk Ngaben
Tradisi Mepatung di Bangli, Penampahan Galungan yang Pererat Persaudaraan
Video Langka Calonarang dan Janger Pegok 1937 Ditemukan di Jerman
Tradisi Wadak di Mengani Tetap Lestari, Desa Batasi Satu Godel Setahun