Akun
guest@beritabali.com
Beritabali ID: —
Langganan
Beritabali Premium Aktif
Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium
- Rabu, 28 Oktober 2026
Jerman ke Netanyahu: Solusi 2 Negara Jalan Terbaik Israel-Palestina
BERITABALI.COM, DUNIA.
Kanselir Jerman Olaf Scholz mengatakan solusi dua negara menjadi satu-satunya jalan terbaik menyelesaikan konflik Israel dan Palestina yang telah berlangsung lebih dari setengah abad.
Hal itu diutarakan Scholz langsung kepada sekutunya, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu, melalui sambungan telepon pada Senin (5/2).
Scholz menilai solusi dua negara, di mana ada negara Palestina dan Israel yang masing-masing berdiri secara berdaulat berdampingan adalah satu-satunya jalan menuju perdamaian abadi di Timur Tengah.
"Dari pandangan pemerintah, hanya sebuah solusi dua negara yang akan membuka prospek solusi perdamaian yang berkelanjutan bagi konflik di Timur Tengah," ucap Scholz kepada Netanyahu seperti dikutip AFP.
"Ini (solusi dua negara) harus diterapkan mencakup Jalur Gaza dan Tepi Barat (Palestina)," paparnya menambahkan.
Sejumlah negara Barat yang semula lantang mendukung Israel kini mulai menjaga jarak menyusul agresi Tel Aviv yang kian brutal ke Jalur Gaza.
Per Selasa, sebanyak lebih dari 27.478 warga Palestina tewas imbas agresi brutal Israel ke Jalur Gaza dan Tepi Barat sejak 7 Oktober lalu.
Tak hanya Jerman, Inggris dan Amerika Serikat yang merupakan sekutu terdekat Israel juga mulai terus menggaungkan solusi dua negara dan kemerdekaan Palestina sebagai jalan keluar konflik berkepanjangan ini.
Inggris menyatakan bisa secara resmi mengakui Palestina sebagai sebuah negara berdaulat segera setelah gencatan senjata antara Israel dan Hamas di Jalur Gaza tercapai.
Menteri Luar Negeri Inggris David Cameron menuturkan negaranya dapat mendeklarasikan pengakuan itu tanpa perlu menunggu hasil dari perundingan damai Israel-Palestina soal solusi dua negara yang bisa memakan waktu hingga bertahun-tahun.
"Pengakuan Inggris atas negara merdeka Palestina termasuk di PBB tidak bisa terjadi pada awal proses, namun tidak harus menjadi akhir dari proses," ucap Cameron kepada kantor berita Associated Press pada Kamis (1/2).
"Ini (pengakuan) bisa menjadi sesuatu yang kami anggap sebagai proses, seiring dengan kemajuan menuju solusi, menjadi lebih nyata," paparnya menambahkan.(sumber: cnnindonesia.com)
Editor: Redaksi
Reporter: bbn/net
Berita Terpopuler
Mess di Panjer Diserang 19 Orang, Empat Pemuda Luka
Dibaca: 5936 Kali
Perempuan 36 Tahun Akhiri Hidup di Kamar Kos Tulikup Gianyar
Dibaca: 4650 Kali
Rem Blong, Dua Pria Tewas Kecelakaan di Sukasada
Dibaca: 2619 Kali
Telkom Resmi Spin-Off Infrastruktur Fiber ke InfraNexia
Dibaca: 2276 Kali
Menkum Dorong WIPO Buat Standar Global Royalti, Karya AI Tak Dilindungi
Dibaca: 2219 Kali
ABOUT BALI
Misteri Lontar Lombok yang Tersimpan di Museum Dukuh Penaban Karangasem
Nyenuk Ngingkup di Tampaksiring Kembali Digelar Setelah 48 Tahun
Guruh Sudah Meramal Overtourism Bali pada Lagu "Chopin Larung" 1975
Ban Truk Meledak, Sopir Tewas di Rest Area Pekutatan