Akun
guest@beritabali.com
Beritabali ID: —
Langganan
Beritabali Premium Aktif
Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium
- Selasa, 28 April 2026
WHO Wanti-Wanti Krisis Kesehatan Meningkat di Tepi Barat Palestina
BERITABALI.COM, DUNIA.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mewanti-wanti soal krisis kesehatan yang meningkat di Tepi Barat Palestina.
Infrastruktur kesehatan yang terus menjadi sasaran pembatasan, kekerasan, dan serangan Israel semakin menghambat akses warga terhadap layanan kesehatan.
Melalui pernyataan yang dikutip AFP, WHO menyerukan perlindungan segera dan aktif terhadap warga sipil dan layanan kesehatan di Tepi Barat.
Pasalnya tingkat kekerasan di Tepi Barat, termasuk di Yerusalem Timur, juga ikut meningkat sejak agresi brutal Israel ke Jalur Gaza berlangsung pada 7 Oktober 2023 lalu. Sejak itu, sebanyak 521 warga Tepi Barat tewas, termasuk 126 anak-anak.
Para pejabat Palestina bahkan mengatakan korban tewas di Tepi Barat sebenarnya lebih banyak lagi. Menurut mereka, setidaknya 545 warga Palestina telah dibunuh oleh pasukan Israel atau warga pendudukan sejak 7 Oktober lalu.
Selain kematian, lebih dari 5.200 orang di mana di antaranya 800 anak terluka. WHO mengatakan bahwa kondisi itu hanya menambah beban trauma dan perawatan darurat di fasilitas kesehatan yang sudah kewalahan.
Per Sabtu (15/6), sebanyak lebih dari 37 ribu warga Palestina di Jalur Gaza tewas dan lebih dari 80 ribu orang lainnya terluka imbas agresi Israel sejak 7 Oktober lalu. Sebagian besar korban merupakan anak-anak dan perempuan.
Tepi Barat, yang diduduki Israel sejak 1967, telah mengalami lonjakan kekerasan selama lebih dari setahun terakhir, terutama sejak perang Israel-Hamas di Gaza meletus delapan bulan lalu. Perang tersebut dimulai setelah serangan Hamas terhadap Israel pada 7 Oktober.
Perang telah berulang kali menyebabkan fasilitas kesehatan di Jalur Gaza diserang. WHO mengatakan bahwa layanan kesehatan di Tepi Barat juga menghadapi peningkatan serangan.
Mulai 7 Oktober 2023 hingga 28 Mei 2024, WHO telah mendokumentasikan 480 serangan serupa di Tepi Barat, termasuk terhadap fasilitas kesehatan dan ambulans, serta penahanan petugas kesehatan dan pasien.
Pada saat yang sama, penutupan pos pemeriksaan, meningkatnya ketidakamanan, pengepungan, serta penutupan seluruh komunitas membuat pergerakan di Tepi Barat semakin terbatas, sehingga membuat akses terhadap layanan kesehatan semakin sulit.
Pasien juga sulit mendapatkan perawatan medis di luar Tepi Barat di mana 44 persen permintaan untuk pergi ke fasilitas kesehatan di Yerusalem Timur dan Israel ditolak atau ditunda sejak 7 Oktober. (sumber: cnnindonesia.com)
Editor: Redaksi
Reporter: bbn/net
Berita Terpopuler
5 Pelaku Pembakaran ABK Benoa Ditangkap, Ini Motifnya
Dibaca: 3789 Kali
Koster Ungkap Rencana Akses Baru ke Besakih dari Klungkung-Bangli
Dibaca: 1732 Kali
ABOUT BALI
Perang Tipat Sayan, Tradisi Syukur Petani Jaga Kesuburan Sawah
Sakralnya Bale Gajah Pura Besakih, Tak Sembarangan Orang Bisa Naik
Menyambut Energi Baru Imlek Lewat Ritual Rupang