Akun
guest@beritabali.com
Beritabali ID: —
Langganan
Beritabali Premium Aktif
Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium
- Selasa, 27 Oktober 2026
Hamas Desak Perjanjian Gencatan Senjata, Tak Perlu Negosiasi Baru
BERITABALI.COM, DUNIA.
Kelompok militan Palestina, Hamas, meminta ke mediator Amerika Serikat, Mesir dan Qatar pada Minggu (11/8) menyediakan rencana gencatan senjata sesuai usulan Presiden Amerika Serikat Joe Biden ketimbang menggelar acara negosiasi lagi.
Pekan lalu, para mediator meminta Israel dan Hamas bertemu pada 15 Agustus di Kairo atau Doha untuk finalisasi perjanjian gencatan senjata dan pembebasan sandera.
Israel mengatakan bakal mengirim perwakilannya ke pertemuan itu, tak lama setelah insiden pembunuhan pemimpin politik Hamas, Ismail Haniyeh, di Iran.
Sedangkan Hamas, yang menuduh Israel membunuh Haniyeh, menyatakan bakal mempelajari permintaan itu. Namun kini Hamas mengindikasikan tak perlu bernegosiasi lagi.
"Pergerakan kami meminta para mediator menyampaikan rencana mengimplementasikan apa yang sudah disepakati pada 2 Juli 2024, berdasarkan visi Biden dan resolusi Dewan Keamanan PBB," kata Hamas dalam pernyataannya, diberitakan Reuters.
"Para mediator harus memberlakukan ini pada pendudukan (Israel) alih-alih melanjutkan putaran negosiasi atau proposal baru yang akan memberi perlindungan bagi agresi pendudukan (Israel) dan memberi lebih banyak waktu melanjutkan genosida terhadap rakyat kami," tulis Hamas.
Biden pada 31 Mei mengungkap rencana gencatan senjata Israel dan Hamas yang terdiri dari tiga tahap.
Tahap pertama termasuk 'gencatan senjata sepenuhnya' selama enam pekan. Militer Israel menarik diri dari area berpenduduk di Gaza'.
Hamas akan membebaskan 'sejumlah' sandera yang ditangkap dalam serangan mereka ke Israel pada 7 Oktober, termasuk wanita, lansia dan orang cedera. Sandera yang sudah tewas juga akan dikembalikan.
Warga Palestina diizinkan kembali ke rumah di seluruh Gaza, termasuk di utara, yang telah hancur dihantam Israel berbulan-bulan.
Selama periode enam bulan ini Israel dan Hamas akan 'merundingkan pengaturan yang diperlukan untuk mencapai tahap kedua, yang merupakan akhir permanen bagi permusuhan'.
Biden mengatakan saat itu gencatan senjata bisa diperpanjang bila negosiasi berlanjut. Para mediator akan memastikan negosiasi ini terus berlanjut.
Tahap kedua juga berlangsung selama enam pekan. Pada masa ini militer Israel akan sepenuhnya mundur dari Gaza.
Hamas akan membebaskan 'semua sandera yang masih hidup', termasuk tentara pria Israel.
Biden mengatakan ketika itu jika kedua belah pihak menaati kesepakatan maka akan mengarah pada 'penghentian permusuhan secara permanen'.
Pada tahap ketiga atau terakhir berisi rencana rekonstruksi dan stabilisasi besar-besaran untuk Gaza yang didukung AS dan komunitas internasional. (sumber: cnnindonesia.com)
Editor: Redaksi
Reporter: bbn/net
Berita Terpopuler
Mess di Panjer Diserang 19 Orang, Empat Pemuda Luka
Dibaca: 5917 Kali
Perempuan 36 Tahun Akhiri Hidup di Kamar Kos Tulikup Gianyar
Dibaca: 4639 Kali
Rem Blong, Dua Pria Tewas Kecelakaan di Sukasada
Dibaca: 2604 Kali
Telkom Resmi Spin-Off Infrastruktur Fiber ke InfraNexia
Dibaca: 2260 Kali
Menkum Dorong WIPO Buat Standar Global Royalti, Karya AI Tak Dilindungi
Dibaca: 2215 Kali
ABOUT BALI
Misteri Lontar Lombok yang Tersimpan di Museum Dukuh Penaban Karangasem
Nyenuk Ngingkup di Tampaksiring Kembali Digelar Setelah 48 Tahun
Guruh Sudah Meramal Overtourism Bali pada Lagu "Chopin Larung" 1975
Ban Truk Meledak, Sopir Tewas di Rest Area Pekutatan