Akun
guest@beritabali.com
Beritabali ID: —
Langganan
Beritabali Premium Aktif
Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium
- Selasa, 28 Juli 2026
Dua Bocah SD di Karangasem Idap Diabetes
BERITABALI.COM, KARANGASEM.
Kisah pilu datang dari Banjar Dinas Tihingan Kauh, Desa Bebandem, Karangasem. Dua anak dari pasangan Ni Luh Sukani (42) dan I Wayan Manis (44) harus berjuang melawan penyakit diabetes di usia yang masih sangat belia.
Gede Agus Sukmawan (13) dan adiknya Kadek Junartawan (9) didiagnosa mengidap diabetes tipe 1 sejak dua tahun lalu, sebuah kondisi yang mengharuskan mereka bergantung pada suntikan insulin setiap harinya.
Awalnya, orang tua tidak pernah menyangka bahwa kedua anak mereka akan terkena diabetes, lantaran di keluarga mereka tidak memiliki riwayat penyakit tersebut. Sampai akhirnya, Kadek Junartawan yang kala itu duduk di bangku kelas 2 SD menunjukkan gejala berat badan menurun drastis bahkan sempat tak sadarkan diri.
Dari sana, kemudian dilakukan pemeriksaan di Rumah Sakit, sempat diduga terkena cacingan namun setelah dilakukan tes darah akhirnya ditemukan bahwa kadar gula bocah yang kini sudah berusia 9 tahun itu di atas 1000 mg/dL.
Tak berselang lama, sang kakak Gede Agus Sukmawan yang saat itu duduk di bangku kelas 5 SD juga mengalami gejala yang hampir mirip. Setelah dites, kadar gulanya juga mencapai 500 mg/dL.
Kini, diduga akibat tingginya kadar gula darah tersebut, penglihatan Sukmawan pun terganggu dan dinyatakan mengarah ke penyakit glaukoma yang mengharuskannya rutin kontrol ke RS Bali Mandara.
"Keluhan sekarang cuma melihat kurang jelas, walaupun sudah pakai kacamata tapi masih kesulitan juga untuk membaca," kata Gede Agus Sukmawan yang sebentar lagi akan merayakan ulang tahun ke-13 pada bulan Agustus mendatang.
Keterbatasan ekonomi menambah beban keluarga kecil ini. Sang ayah hanya bekerja sebagai buruh harian membuat cetakan beton, dibantu istrinya yang bekerja sebagai ulat besi dengan penghasilan seadanya. Untuk kontrol rutin ke rumah sakit yang berjarak cukup jauh, mereka mengandalkan bantuan pinjaman kendaraan dari tetangga dan keluarga.
Kini, dua bersaudara yang sebelumnya cukup riang gembira bermain serta aktif latihan menari harus berhadapan dengan jarum suntik insulin setiap harinya. Tak hanya sekali atau dua kali, mereka harus disuntik insulin sebanyak lima kali dalam sehari, tentu saja hal ini menjadikannya sebuah rutinitas yang tidak mudah untuk dijalani oleh anak-anak seusianya.
"Saya tidak tahu kenapa bisa seperti ini. Kami orang tuanya tidak punya riwayat gula," ujar sang ibu, Ni Luh Sukani, dengan mata berkaca-kaca saat wartawan mengunjungi rumahnya, Sabtu (14/6/2025).
Ia mengakui bahwa anak-anak mereka memang cukup suka mengonsumsi jajanan sembarangan, seperti minuman kemasan yang manis, dan mie instan. Namun, siapa sangka kebiasaan tersebut bisa berdampak serius terhadap kehidupan kedua putra mereka.
Kisah Gede Agus dan Kadek Junartawan menjadi peringatan bagi orang tua untuk lebih mengawasi pola makan anak, terutama dalam mengonsumsi jajanan dan minuman tinggi gula yang beredar bebas di lingkungan sekitar.
Editor: Redaksi
Reporter: bbn/krs
Berita Terpopuler
Pemuda di Kintamani Ditemukan Tewas Tergantung di Kebun
Dibaca: 3878 Kali
Anggota DPRD Gianyar Wayan Gede Sudarta Meninggal di Malaysia
Dibaca: 2447 Kali
Guru SD di Singaraja Dilaporkan atas Dugaan Pencabulan Siswi
Dibaca: 2011 Kali
Klinik Polres Jembrana Raih FKTP Terbaik I di Bidokkes Award 2026
Dibaca: 1937 Kali
Polisi Tangkap Terduga Pelaku Pelecehan Siswi SD di Payangan
Dibaca: 1794 Kali
ABOUT BALI
Riset BRIN Ungkap Alasan Masyarakat Bali Mulai Memilih Krematorium untuk Ngaben
Tradisi Mepatung di Bangli, Penampahan Galungan yang Pererat Persaudaraan
Video Langka Calonarang dan Janger Pegok 1937 Ditemukan di Jerman
Tradisi Wadak di Mengani Tetap Lestari, Desa Batasi Satu Godel Setahun