Akun
guest@beritabali.com
Beritabali ID: —
Langganan
Beritabali Premium Aktif
Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium
- Selasa, 27 Oktober 2026
Lirik Lagu 'Bandang' Dialog Dini Hari yang Terinspirasi Banjir Bali
BERITABALI.COM, DENPASAR.
Band folk asal Bali, Dialog Dini Hari, kembali menghadirkan karya yang penuh pesan melalui single terbaru mereka berjudul “Bandang”.
Lagu ini terinspirasi dari peristiwa banjir besar yang melanda sejumlah wilayah di Bali pada 10 September 2025, dengan Kota Denpasar menjadi daerah yang terdampak paling parah.
Baca juga:
Sederet Musisi dari Dialog Dini Hari hingga Pamungkas Siap Hibur Semeton di Jimbafest 2024
Dalam unggahan di akun Instagram resmi mereka, Dialog Dini Hari menyampaikan bahwa lagu ini bukan sekadar dokumentasi bencana, tetapi refleksi pedih tentang keadaan kota yang “menenggelamkan dirinya sendiri”.
"Bandang, single terbaru kami sudah rilis sejak beberapa hari lalu. Lagu ini menjadi catatan kecil dari kota yang menenggelamkan dirinya sendiri," ungkap mereka.
Melalui lirik dan narasi yang puitis, grup musik folk/blues yang dikenal dengan kritik sosialnya itu menegaskan bahwa bencana bukan semata akibat hujan, melainkan akibat pembangunan yang abai pada lingkungan.
"Pelan, tapi pasti. Air datang, membawa cerita dari kota yang tak pernah belajar. Sibuk membangun tinggi tanpa melihat ke tanah. Dan lagu ini bukan tentang hujan, tapi tentang keserakahan yang menenggelamkan kita," demikian kutipan lanjutan dari mereka.
Dialog Dini Hari selama ini dikenal sebagai band yang meleburkan musik akustik dengan lirik filosofis serta kritik sosial. Mereka terdiri Dadang Pranoto (Dankie/Pohon Tua) – vokal, gitar, penulis lirik utama dan Deny Surya (Deny “Surya” Shaniqua) – drum dan perkusi.
Lirik Lagu “Bandang” – Dialog Dini Hari
(Lirik sesuai sumber Musicxmatch)
Air datang sebagai cermin
Memantulkan wajah kota yang letih
Di balik gemerlap lampu malam
Tersimpan kekacauan yang tak diakui
Pohon diganti istana batu
Akar diganti fondasi rapuh
Hujan kan terus disalahkan
Dan kota-kota menangis tenggelam
Doa tak bisa menahan deras
Bila tanah tak lagi bernafas
Damai hanyalah layar jalanan
Sedang sungai bicara dengan lumpur
Mereka terlena menghitung laba
Sementara air menghitung luka
Dan di antara arus yang diam
Kebenaran muncul tanpa suara
Pohon diganti istana batu
Akar diganti fondasi rapuh
Air akan selalu datang
Menyingkap wajah palsu kebijakan
Doa tak bisa menahan deras
Bila tanah tak lagi bernafas
Damai hanyalah layar jalanan
Sedang sungai bicara dengan lumpur
Editor: Redaksi
Reporter: bbn/tim
Berita Terpopuler
Mess di Panjer Diserang 19 Orang, Empat Pemuda Luka
Dibaca: 5900 Kali
Perempuan 36 Tahun Akhiri Hidup di Kamar Kos Tulikup Gianyar
Dibaca: 4628 Kali
Rem Blong, Dua Pria Tewas Kecelakaan di Sukasada
Dibaca: 2593 Kali
Telkom Resmi Spin-Off Infrastruktur Fiber ke InfraNexia
Dibaca: 2238 Kali
Menkum Dorong WIPO Buat Standar Global Royalti, Karya AI Tak Dilindungi
Dibaca: 2210 Kali
ABOUT BALI
Misteri Lontar Lombok yang Tersimpan di Museum Dukuh Penaban Karangasem
Nyenuk Ngingkup di Tampaksiring Kembali Digelar Setelah 48 Tahun
Guruh Sudah Meramal Overtourism Bali pada Lagu "Chopin Larung" 1975
Ban Truk Meledak, Sopir Tewas di Rest Area Pekutatan