Akun
guest@beritabali.com
Beritabali ID: —
Langganan
Beritabali Premium Aktif
Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium
- Kamis, 11 Juni 2026
Lirik Lagu 'Bandang' Dialog Dini Hari yang Terinspirasi Banjir Bali
BERITABALI.COM, DENPASAR.
Band folk asal Bali, Dialog Dini Hari, kembali menghadirkan karya yang penuh pesan melalui single terbaru mereka berjudul “Bandang”.
Lagu ini terinspirasi dari peristiwa banjir besar yang melanda sejumlah wilayah di Bali pada 10 September 2025, dengan Kota Denpasar menjadi daerah yang terdampak paling parah.
Baca juga:
Sederet Musisi dari Dialog Dini Hari hingga Pamungkas Siap Hibur Semeton di Jimbafest 2024
Dalam unggahan di akun Instagram resmi mereka, Dialog Dini Hari menyampaikan bahwa lagu ini bukan sekadar dokumentasi bencana, tetapi refleksi pedih tentang keadaan kota yang “menenggelamkan dirinya sendiri”.
"Bandang, single terbaru kami sudah rilis sejak beberapa hari lalu. Lagu ini menjadi catatan kecil dari kota yang menenggelamkan dirinya sendiri," ungkap mereka.
Melalui lirik dan narasi yang puitis, grup musik folk/blues yang dikenal dengan kritik sosialnya itu menegaskan bahwa bencana bukan semata akibat hujan, melainkan akibat pembangunan yang abai pada lingkungan.
"Pelan, tapi pasti. Air datang, membawa cerita dari kota yang tak pernah belajar. Sibuk membangun tinggi tanpa melihat ke tanah. Dan lagu ini bukan tentang hujan, tapi tentang keserakahan yang menenggelamkan kita," demikian kutipan lanjutan dari mereka.
Dialog Dini Hari selama ini dikenal sebagai band yang meleburkan musik akustik dengan lirik filosofis serta kritik sosial. Mereka terdiri Dadang Pranoto (Dankie/Pohon Tua) – vokal, gitar, penulis lirik utama dan Deny Surya (Deny “Surya” Shaniqua) – drum dan perkusi.
Lirik Lagu “Bandang” – Dialog Dini Hari
(Lirik sesuai sumber Musicxmatch)
Air datang sebagai cermin
Memantulkan wajah kota yang letih
Di balik gemerlap lampu malam
Tersimpan kekacauan yang tak diakui
Pohon diganti istana batu
Akar diganti fondasi rapuh
Hujan kan terus disalahkan
Dan kota-kota menangis tenggelam
Doa tak bisa menahan deras
Bila tanah tak lagi bernafas
Damai hanyalah layar jalanan
Sedang sungai bicara dengan lumpur
Mereka terlena menghitung laba
Sementara air menghitung luka
Dan di antara arus yang diam
Kebenaran muncul tanpa suara
Pohon diganti istana batu
Akar diganti fondasi rapuh
Air akan selalu datang
Menyingkap wajah palsu kebijakan
Doa tak bisa menahan deras
Bila tanah tak lagi bernafas
Damai hanyalah layar jalanan
Sedang sungai bicara dengan lumpur
Editor: Redaksi
Reporter: bbn/tim
Berita Terpopuler
ABOUT BALI
Video Langka Calonarang dan Janger Pegok 1937 Ditemukan di Jerman
Tradisi Wadak di Mengani Tetap Lestari, Desa Batasi Satu Godel Setahun
Wali Panguangan, Tradisi Sakral Syukuran Panen di Desa Mengani Bangli