Akun
guest@beritabali.com

Beritabali ID:


Langganan
logo
Beritabali Premium Aktif

Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium




Tekanan Mental Usia Produktif di Balik Kasus Bundir di Tukad Bangkung

Jumat, 9 Januari 2026, 10:00 WITA Follow
Beritabali.com

bbn/dok beritabali/Tekanan Mental Usia Produktif di Balik Kasus Bundir di Tukad Bangkung.

IKUTI BERITABALI.COM DI GOOGLE NEWS

BERITABALI.COM, BADUNG.

Kasus percobaan bunuh diri di Jembatan Tukad Bangkung, Petang, Kabupaten Badung, menjadi perhatian serius. Sejak Januari 2026, tercatat satu orang meninggal dunia dan tiga percobaan bunuh diri (bundir) berhasil digagalkan dalam waktu yang nyaris bersamaan.

Data Polsek Petang menunjukkan, mayoritas pelaku berada pada rentang usia 20 hingga 30 tahun ke atas. Kelompok usia produktif ini dinilai paling rentan mengalami tekanan psikologis yang berujung pada keinginan mengakhiri hidup.

Dokter spesialis kejiwaan, dr Bagus Surya Kusuma Dewa menjelaskan, fenomena tersebut selaras dengan hasil riset nasional terkait kesehatan mental.

"Survei Kesehatan Indonesia tahun 2023, memang usia ini yang paling tinggi memiliki ide bunuh diri. Banyak tekanan yang didapat saat umur ini karena mereka sedang masa transisi dalam quarter-life crisis," ujarnya Kamis (8/1/2026).

Ia memaparkan, kelompok usia 20 hingga 30 tahun kerap menghadapi kebingungan arah hidup yang memicu gangguan kesehatan mental seperti depresi dan kecemasan. Tekanan itu datang dari berbagai aspek, mulai dari karier, hubungan personal, ekonomi, pengangguran, hingga konflik percintaan.

Tekanan media sosial juga disebut memperparah kondisi psikologis, karena individu cenderung membandingkan diri dengan orang lain yang tampak lebih sukses.

"Mereka itu rentan terhadap gangguan kesehatan mental, seperti depresi dan kecemasan, karena ada kebingungan dan kehilangan arah. Ditambah lagi, tekanan media sosial membuat mereka membandingkan diri dengan orang lain yang terlihat lebih sukses, ini yang memperburuk perasaan tidak berharga," bebernya.

Menurut dr Bagus, tanda-tanda peringatan risiko bunuh diri pada usia produktif sering kali tidak disadari oleh orang terdekat karena dianggap hal sepele. Perubahan suasana hati, perasaan putus asa, hingga ucapan yang mengarah pada keinginan mengakhiri hidup merupakan indikator awal yang harus diwaspadai.

"Perubahan perilaku juga jadi penting, seperti mereka menarik diri atau tidak lagi menjalankan hobi yang sangat disukai. Contoh satu kejadian pada anak SMP yang mencoba bunuh diri itu, dia sempat bilang sudah tidak kuat lagi di sekolah dan ingin pindah, tapi keluarga tidak mengindahkan kata-kata tersebut," bebernya.

Ia menekankan pentingnya sistem dukungan komunitas sebagai langkah pencegahan, baik di lingkungan kerja, kampus, maupun desa atau banjar. Sosialisasi serta pelatihan Pertolongan Pertama pada Luka Psikologis (P3LP) dinilai menjadi benteng awal dalam mendeteksi krisis mental.

"Di sekolah atau kampus itu, peran guru BP, dosen, dan dukungan teman sebaya sangat penting untuk mengetahui murid atau teman yang terjadi perubahan. Di desa atau banjar, sosialisasi kesehatan jiwa bisa dilakukan melalui PKK dan sekaa teruna teruni," ujarnya.

Saat seseorang berada dalam kondisi krisis akut atau menunjukkan niat bunuh diri, intervensi cepat dari orang terdekat menjadi faktor penentu keselamatan.

"Kita harus yakinkan mereka bahwa kita selalu ada untuk mereka dan segera arahkan mencari bantuan profesional kesehatan jiwa. Ingat, jangan biarkan mereka sendiri," cetusnya.

Untuk lokasi rawan seperti Jembatan Tukad Bangkung, dr Bagus juga menyarankan intervensi fisik dan psikologis secara bersamaan, seperti pemasangan hotline bantuan kesehatan mental serta pembatasan akses ke lokasi.

"Memasang rambu atau telepon pencarian bantuan kesehatan mental itu penting, karena bisa saja pelaku tidak tahu harus kemana saat itu. Selain itu, pembentukan satgas khusus untuk berpatroli juga akan mengurangi akses menuju tempat itu selain pemasangan pagar," sambung dia.

Ia menyoroti masih kuatnya stigma masyarakat terhadap masalah kesehatan mental yang kerap membuat penderita enggan mencari bantuan profesional.

"Banyak pasien merasa malu, takut dicap gila, diasingkan, atau bahkan dipecat dari pekerjaan jika ketahuan memiliki masalah kejiwaan," cetusnya.

Menurutnya, tantangan terbesar dalam penanganan pasien yang selamat dari percobaan bunuh diri adalah mencegah terjadinya pengulangan serta menghapus stigma yang melekat pada diri pasien.

"Peran keluarga sangat krusial dalam menciptakan lingkungan yang aman dan mendukung, serta memastikan pemulihan jangka panjang," pungkasnya.

Catatan redaksi: 

Hidup memang terkadang membuat individu goyah hingga berpikir untuk jalan pintas mengakhiri hidup. Namun percayalah ada jalan keluar yang lebih baik dari kematian. 

Jika Anda atau seseorang yang Anda kenal sedang mengalami masa sulit dan berkecenderungan bunuh diri, silakan menghubungi P3B (Pusat Pelayanan Pencegahan Bunuh Diri) Keluarga Compassion Tel: 082335555644, XL: 081999162555, IND: 08587536536

Beritabali.com

Berlangganan BeritaBali
untuk membaca cerita lengkapnya

Lanjutkan

Editor: Redaksi

Reporter: bbn/aga



Simak berita terkini dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Ikuti saluran Beritabali.com di WhatsApp Channel untuk informasi terbaru seputar Bali.
Ikuti kami