Akun
guest@beritabali.com
Beritabali ID: —
Langganan
Beritabali Premium Aktif
Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium
- Senin, 27 April 2026
Rhenald Kasali: Bisnis 2026 di Persimpangan AI dan Krisis Kepercayaan
BERITABALI.COM, JAKARTA.
Dunia bisnis Indonesia tengah memasuki fase perubahan paling radikal dalam beberapa dekade terakhir. Perubahan ini tidak semata dipicu perkembangan teknologi, tetapi juga pergeseran cara publik memaknai kebenaran, bekerja, dan mengambil keputusan ekonomi. Kondisi tersebut membuat politik, media, dan bisnis kian saling bertaut.
Gambaran itu disampaikan Guru Besar Ilmu Manajemen Universitas Indonesia sekaligus pendiri Rumah Perubahan, Rhenald Kasali, dalam Breakfast Talk bertajuk Business Outlook 2026 di Andaliman Resto & Cafe, Rumah Perubahan, Jakarta Escape, Sabtu, 17 Januari 2026.
Menurut Rhenald, pengambilan keputusan bisnis ke depan akan sangat ditentukan oleh pemanfaatan big data yang diolah menggunakan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI). Teknologi tidak hanya mempercepat proses bisnis, tetapi juga membentuk persepsi publik yang semakin emosional.
“Bagi Gen Z, apa yang ada di internet itu adalah kebenaran, nyata. Sementara bagi orang tua, yang real adalah apa yang mereka alami langsung. Bagi generasi tua, media sosial, kebenarannya mungkin hanya 20 persen,” kata Rhenald.
Perbedaan persepsi antargenerasi tersebut, lanjutnya, menciptakan ruang abu-abu yang rawan dimanfaatkan. Media sosial kini bukan lagi sekadar sarana komunikasi, melainkan medan baru kejahatan ekonomi dan potensi politik, mulai dari hoaks, disinformasi, hingga penipuan berbasis phishing yang semakin sulit dibedakan dari kenyataan.
“Dulu, AI bisa ditipu manusia. Tapi sekarang, AI-lah yang menipu manusia,” ujar Rhenald.
Ia menilai tantangan bisnis pada 2026 bukan hanya berkaitan dengan daya beli dan pertumbuhan ekonomi, tetapi juga krisis kepercayaan di ruang digital. Polarisasi antara media arus utama dan media sosial semakin tajam. Media konvensional terikat iklan dan regulasi, sementara media sosial bergerak cepat, emosional, dan sering kali tanpa proses verifikasi.
Dalam konteks ketenagakerjaan, Rhenald menyoroti perubahan sikap Generasi Z yang cenderung enggan bekerja kantoran dan menolak struktur kerja formal. Fenomena ini dikenal sebagai “conscious unbossing”, yakni keengganan generasi muda untuk menjadi manajer atau berada dalam hierarki kerja konvensional.
Ia merujuk sejumlah studi global yang menunjukkan kecenderungan tersebut bukan sekadar tren sesaat. Lembaga riset Robert Walters mencatat 52 persen Gen Z tidak memiliki keinginan menduduki posisi manajemen menengah, sementara 69 persen menilai peran middle management terlalu stres dengan imbalan yang tidak sepadan. Bahkan, 72 persen Gen Z lebih memilih jalur karier sebagai individual contributor dibanding mengelola orang lain.
“Anak muda hari ini melihat aset bukan kantor atau jabatan, tapi uang dan fleksibilitas. Mereka tidak mau kerja formal, tidak mau punya bos,” tutur Rhenald.
Perubahan ini memaksa perusahaan melakukan antisipasi serius. Otomatisasi dan robotisasi menjadi keniscayaan, bukan lagi pilihan. Industri padat karya berpotensi tertekan, sementara sektor yang sebelumnya dianggap sekunder justru menunjukkan pertumbuhan.
“Industri yang tumbuh sekarang justru yang dulu dianggap tidak utama. Contohnya makanan hewan peliharaan. Orang Indonesia itu sayang kucing,” ujar Rhenald.
Diskusi tersebut juga dihadiri Direktur Komunikasi Deep Intelligence Research (DIR), Neni Nur Hayati, yang menegaskan peran big data sebagai instrumen penting untuk membaca arah bisnis sekaligus peta politik.
“Big data menjadi bagian krusial untuk melihat peta bisnis dan politik secara lebih akurat. Dengan data, kebijakan dan strategi bisa lebih menjawab kebutuhan pasar dan masyarakat, bukan sekadar reaksi terhadap kegaduhan,” kata Neni.
Ia menilai tanpa pendekatan berbasis data, negara dan pelaku usaha akan tertinggal dalam merespons perubahan perilaku publik yang bergerak cepat dan emosional.
Di tengah situasi ketika kebenaran menjadi relatif dan emosi publik mudah digerakkan algoritma, batas antara strategi bisnis dan strategi politik kian menipis. Dalam kondisi tersebut, pelaku usaha dituntut tidak hanya membaca laporan keuangan.
“Bisnis hari ini harus membaca teknologi, perilaku sosial, dan arah politik sekaligus,” ujarnya.
Editor: Redaksi
Reporter: bbn/rls
Berita Terpopuler
5 Pelaku Pembakaran ABK Benoa Ditangkap, Ini Motifnya
Dibaca: 3746 Kali
Koster Ungkap Rencana Akses Baru ke Besakih dari Klungkung-Bangli
Dibaca: 1681 Kali
ABOUT BALI
Perang Tipat Sayan, Tradisi Syukur Petani Jaga Kesuburan Sawah
Sakralnya Bale Gajah Pura Besakih, Tak Sembarangan Orang Bisa Naik
Menyambut Energi Baru Imlek Lewat Ritual Rupang