Akun
guest@beritabali.com
Beritabali ID: —
Langganan
Beritabali Premium Aktif
Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium
- Rabu, 28 Oktober 2026
Dorong Telur Bebas Sangkar, Peternak Bali Bahas Kesejahteraan Ayam
BERITABALI.COM, GIANYAR.
Upaya mendorong praktik peternakan ayam petelur yang lebih beretika dan berkelanjutan di Bali kembali diperkuat melalui Sarasehan Peternak bertema Penerapan Kesejahteraan Hewan dan Pengelolaan Peternakan Ayam Petelur Bebas Sangkar (cage-free).
Kegiatan ini digelar oleh Animals Don’t Speak Human pada Kamis (19/2/2026) di RV Hotel Kutus-Kutus, Gianyar.
Sarasehan tersebut menjadi forum lanjutan yang mempertemukan peternak ayam petelur konvensional dari berbagai kabupaten di Bali, perwakilan pemerintah daerah, asosiasi peternak, hingga pelaku industri hotel, restoran, dan kafe (HORECA). Diskusi difokuskan pada tantangan teknis, dukungan kebijakan, serta peluang pasar dalam transisi menuju sistem peternakan ayam petelur bebas sangkar.
Dalam sesi pemaparan, peserta memperoleh penjelasan mengenai prinsip dasar kesejahteraan hewan, perbandingan sistem kandang baterai dengan sistem cage-free, serta tahapan awal transisi yang mencakup manajemen pakan, biosekuriti, kesehatan ayam, dan pengelolaan lingkungan kandang.
“Sarasehan ini bertujuan memberi pemahaman praktis kepada peternak konvensional tentang prinsip kesejahteraan hewan, dasar hukum yang sudah berlaku, serta peluang transisi ke sistem cage-free sebagai pasar bernilai tambah,” ujar Abiel Syaputra selaku panitia acara.
Perspektif pasar turut dihadirkan melalui pelaku industri pariwisata. Perwakilan sektor HORECA memaparkan kebutuhan telur cage-free dalam rantai pasok hotel dan restoran yang semakin mengedepankan standar keberlanjutan global.
“Dialog antara pelaku HORECA dan peternak membuka ruang kolaborasi yang lebih kuat, juga menghubungkan kebutuhan pasar wisata global dengan praktik produksi yang beretika dan berkelanjutan,” tutur Wayan Kusuma Yasa selaku perwakilan dari Pullman Bali Legian Beach.
Selain itu, peternak yang telah lebih dulu menerapkan sistem bebas sangkar membagikan pengalaman mereka, mulai dari proses transisi, tantangan teknis, sertifikasi, hingga perbandingan biaya produksi dan pendapatan sebelum dan sesudah beralih ke sistem cage-free. Diskusi panel dan sesi tanya jawab menjadi ruang bagi peternak konvensional menyampaikan kebutuhan dukungan serta kesiapan mengikuti program lanjutan.
Sebagai daerah dengan industri pariwisata yang kuat, Bali dinilai memiliki potensi besar dalam memperkuat rantai pasok telur cage-free, khususnya untuk memenuhi kebutuhan hotel, resort, dan restoran yang berorientasi pada praktik berkelanjutan.
“Praktik peternakan ramah hewan di Bali harus selaras dengan regulasi dan komitmen kesejahteraan hewan. Implementasi 5 Freedom dan 5 Domain menjadi fondasi untuk memastikan produksi berkualitas tanpa mengorbankan kesejahteraan hewan diternak.” ujar Drh. Ni Ketut Aryani Parmeti selaku bagian dari Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi Bali.
Kolaborasi lintas sektor ini diharapkan dapat mempercepat adopsi sistem peternakan ayam petelur yang lebih berkelanjutan, meningkatkan kesejahteraan hewan, sekaligus memperkuat daya saing telur lokal Bali di tengah tuntutan pasar global yang semakin mengedepankan etika produksi pangan.
Editor: Redaksi
Reporter: bbn/adv
Berita Terpopuler
Mess di Panjer Diserang 19 Orang, Empat Pemuda Luka
Dibaca: 5933 Kali
Perempuan 36 Tahun Akhiri Hidup di Kamar Kos Tulikup Gianyar
Dibaca: 4649 Kali
Rem Blong, Dua Pria Tewas Kecelakaan di Sukasada
Dibaca: 2615 Kali
Telkom Resmi Spin-Off Infrastruktur Fiber ke InfraNexia
Dibaca: 2272 Kali
Menkum Dorong WIPO Buat Standar Global Royalti, Karya AI Tak Dilindungi
Dibaca: 2218 Kali
ABOUT BALI
Misteri Lontar Lombok yang Tersimpan di Museum Dukuh Penaban Karangasem
Nyenuk Ngingkup di Tampaksiring Kembali Digelar Setelah 48 Tahun
Guruh Sudah Meramal Overtourism Bali pada Lagu "Chopin Larung" 1975
Ban Truk Meledak, Sopir Tewas di Rest Area Pekutatan