Akun
guest@beritabali.com
Beritabali ID: —
Langganan
Beritabali Premium Aktif
Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium
- Selasa, 27 Oktober 2026
De Gadjah Kenang Legenda Tinju Bali Adi Swandana
BERITABALI.COM, DENPASAR.
Dunia olahraga tinju Bali dan nasional berduka. Petinju legendaris Bali, I Gusti Agung Adi Swandana, meninggalkan jejak panjang prestasi dan dedikasi bagi perkembangan tinju Tanah Air.
Kenangan mendalam terhadap sosok almarhum disampaikan Ketua Persatuan Tinju Amatir Indonesia Bali, Made Muliawan Arya alias De Gadjah. Ia menilai Adi Swandana sebagai figur luar biasa yang mengabdikan seluruh hidupnya untuk kemajuan tinju Bali dan nasional.
Ketua Pengurus Besar Tinju Indonesia Bali sekaligus Dewan Penasihat Perbati Pusat itu menyebut wafatnya Adi Swandana pada Rabu (18/2/2026) akibat strok meninggalkan duka mendalam bagi insan olahraga.
Saking terinspirasinya, De Gadjah yang saat itu menjabat Ketua Pertina Denpasar mendirikan Yayasan Adi Swandana Boxing Camp (ASBC) pada 2017 bersama almarhum. Yayasan tersebut menjadi wadah pembinaan dan regenerasi petinju Bali agar mampu berprestasi di level nasional hingga internasional. Sasana ASBC sendiri berlokasi di rumah almarhum di Jalan Raya Waturenggong 119, Denpasar.
Baca juga:
Petinju Bali Raih 2 Emas di Kejurnas Palu
"Sekarang tugas kami yang wajib meneruskan cita-cita beliau untuk kemajuan tinju Bali dan nasional," ungkap De Gadjah.
Prestasi Buldoser dari Bali
Nama Adi Swandana mulai mencuat di kancah nasional usai kemenangan bersejarah pada Final Welter Ringan PON X 1981, saat mengandaskan petinju Syamsul Anwar. Penampilannya kala itu begitu mengesankan hingga dijuluki “buldoser”.
Wartawan senior tinju M Nigara mengenang gaya bertarung Adi Swandana yang agresif dan penuh serangan terus menerus.
"Adi sendiri baru pertama tampil di PON. Namun penampilannya sangat mengesankan. Sejak tampil pertama, Adi bak buldoser, maju dan maju terus. Ia seperti tahan pukul dan memiliki pukulan yang bobotnya sangat keras serta agak liar," kata Nigara mengenang Adi Swandana yang meninggal di usia 65 tahun.
Pada PON XI 1985 di Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta, Adi Swandana gagal mempertahankan emas setelah kandas di semifinal melawan Manimbul Silaban asal Jambi. Ia pun harus puas dengan medali perunggu kelas welter ringan.
Usai pensiun sebagai atlet, Adi Swandana tetap mengabdikan diri di dunia tinju sebagai pelatih Pertina Bali dan pembina di ASBC. Buah tangan dedikasinya terlihat dari prestasi Kornelis Kwangu Langu yang meraih emas untuk Indonesia pada SEA Games 2015, serta emas di PON XX Papua 2021.
Saat Indonesia menjadi tuan rumah Asian Games 2018, Adi Swandana dipercaya sebagai pelatih dan sukses mempersembahkan dua medali perunggu melalui Sunan Amoragam (kelas bantam putra) dan Huswatun Hasanah (kelas ringan putri).
Kini estafet perjuangan dunia tinju Bali diteruskan oleh putranya, I Gusti Agung Satrya Wiguna atau akrab disapa Gung De, yang selama ini aktif sebagai pelatih tinju Bali.
Editor: Redaksi
Reporter: Gerindra Bali
Berita Terpopuler
Mess di Panjer Diserang 19 Orang, Empat Pemuda Luka
Dibaca: 5906 Kali
Perempuan 36 Tahun Akhiri Hidup di Kamar Kos Tulikup Gianyar
Dibaca: 4631 Kali
Rem Blong, Dua Pria Tewas Kecelakaan di Sukasada
Dibaca: 2595 Kali
Telkom Resmi Spin-Off Infrastruktur Fiber ke InfraNexia
Dibaca: 2240 Kali
Menkum Dorong WIPO Buat Standar Global Royalti, Karya AI Tak Dilindungi
Dibaca: 2210 Kali
ABOUT BALI
Misteri Lontar Lombok yang Tersimpan di Museum Dukuh Penaban Karangasem
Nyenuk Ngingkup di Tampaksiring Kembali Digelar Setelah 48 Tahun
Guruh Sudah Meramal Overtourism Bali pada Lagu "Chopin Larung" 1975
Ban Truk Meledak, Sopir Tewas di Rest Area Pekutatan