Akun
guest@beritabali.com
Beritabali ID: —
Langganan
Beritabali Premium Aktif
Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium
- Selasa, 28 April 2026
De Gadjah Kenang Legenda Tinju Bali Adi Swandana
BERITABALI.COM, DENPASAR.
Dunia olahraga tinju Bali dan nasional berduka. Petinju legendaris Bali, I Gusti Agung Adi Swandana, meninggalkan jejak panjang prestasi dan dedikasi bagi perkembangan tinju Tanah Air.
Kenangan mendalam terhadap sosok almarhum disampaikan Ketua Persatuan Tinju Amatir Indonesia Bali, Made Muliawan Arya alias De Gadjah. Ia menilai Adi Swandana sebagai figur luar biasa yang mengabdikan seluruh hidupnya untuk kemajuan tinju Bali dan nasional.
Ketua Pengurus Besar Tinju Indonesia Bali sekaligus Dewan Penasihat Perbati Pusat itu menyebut wafatnya Adi Swandana pada Rabu (18/2/2026) akibat strok meninggalkan duka mendalam bagi insan olahraga.
Saking terinspirasinya, De Gadjah yang saat itu menjabat Ketua Pertina Denpasar mendirikan Yayasan Adi Swandana Boxing Camp (ASBC) pada 2017 bersama almarhum. Yayasan tersebut menjadi wadah pembinaan dan regenerasi petinju Bali agar mampu berprestasi di level nasional hingga internasional. Sasana ASBC sendiri berlokasi di rumah almarhum di Jalan Raya Waturenggong 119, Denpasar.
Baca juga:
Petinju Bali Raih 2 Emas di Kejurnas Palu
"Sekarang tugas kami yang wajib meneruskan cita-cita beliau untuk kemajuan tinju Bali dan nasional," ungkap De Gadjah.
Prestasi Buldoser dari Bali
Nama Adi Swandana mulai mencuat di kancah nasional usai kemenangan bersejarah pada Final Welter Ringan PON X 1981, saat mengandaskan petinju Syamsul Anwar. Penampilannya kala itu begitu mengesankan hingga dijuluki “buldoser”.
Wartawan senior tinju M Nigara mengenang gaya bertarung Adi Swandana yang agresif dan penuh serangan terus menerus.
"Adi sendiri baru pertama tampil di PON. Namun penampilannya sangat mengesankan. Sejak tampil pertama, Adi bak buldoser, maju dan maju terus. Ia seperti tahan pukul dan memiliki pukulan yang bobotnya sangat keras serta agak liar," kata Nigara mengenang Adi Swandana yang meninggal di usia 65 tahun.
Pada PON XI 1985 di Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta, Adi Swandana gagal mempertahankan emas setelah kandas di semifinal melawan Manimbul Silaban asal Jambi. Ia pun harus puas dengan medali perunggu kelas welter ringan.
Usai pensiun sebagai atlet, Adi Swandana tetap mengabdikan diri di dunia tinju sebagai pelatih Pertina Bali dan pembina di ASBC. Buah tangan dedikasinya terlihat dari prestasi Kornelis Kwangu Langu yang meraih emas untuk Indonesia pada SEA Games 2015, serta emas di PON XX Papua 2021.
Saat Indonesia menjadi tuan rumah Asian Games 2018, Adi Swandana dipercaya sebagai pelatih dan sukses mempersembahkan dua medali perunggu melalui Sunan Amoragam (kelas bantam putra) dan Huswatun Hasanah (kelas ringan putri).
Kini estafet perjuangan dunia tinju Bali diteruskan oleh putranya, I Gusti Agung Satrya Wiguna atau akrab disapa Gung De, yang selama ini aktif sebagai pelatih tinju Bali.
Editor: Redaksi
Reporter: Gerindra Bali
Berita Terpopuler
5 Pelaku Pembakaran ABK Benoa Ditangkap, Ini Motifnya
Dibaca: 3772 Kali
Koster Ungkap Rencana Akses Baru ke Besakih dari Klungkung-Bangli
Dibaca: 1712 Kali
ABOUT BALI
Perang Tipat Sayan, Tradisi Syukur Petani Jaga Kesuburan Sawah
Sakralnya Bale Gajah Pura Besakih, Tak Sembarangan Orang Bisa Naik
Menyambut Energi Baru Imlek Lewat Ritual Rupang