Akun
guest@beritabali.com

Beritabali ID:


Langganan
logo
Beritabali Premium Aktif

Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium




Koster: Perkuat Dresta Bali Tangkal Sampradaya Asing-Ideologi Transnasional

Jumat, 3 April 2026, 16:21 WITA Follow
Beritabali.com

bbn/dok Humas Pemprov Bali/Koster: Perkuat Dresta Bali Tangkal Sampradaya Asing-Ideologi Transnasional.

IKUTI BERITABALI.COM DI GOOGLE NEWS

BERITABALI.COM, DENPASAR.

Menghadapi arus modernisasi dan digitalisasi, masyarakat Bali diingatkan untuk tetap menjaga Dresta Bali secara sistematis tanpa bersikap reaktif. Upaya tersebut dinilai penting untuk mencegah konflik horizontal yang dapat berdampak pada stabilitas pariwisata dan ekonomi daerah.

Hal ini disampaikan Gubernur Bali Wayan Koster saat membuka seminar nasional Mewali Ring Uluning Kertha bertema Strategi Penguatan Dresta Bali dalam mencegah dan menangkal intervensi Sampradaya Asing Ideologi Transnasional. Kegiatan ini digelar oleh Forum Gerakan Adat Se-Nusantara (FORGAS) Provinsi Bali di Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Provinsi Bali, Jumat (3/4) pagi.

Dalam sambutannya, Koster menegaskan bahwa seminar tersebut bukan sekadar forum diskusi, melainkan bagian dari langkah strategis dalam memperkuat ideologi bangsa yang berlandaskan Pancasila dengan akar kearifan lokal.

“Bali tidak memiliki kekayaan sumber daya alam tambang (seperti minyak, gas, atau batu bara). Anugerah terbesar Bali adalah kebudayaan, yang menjadi hulu atau penggerak utama sektor pariwisata dan ekonomi. Jika budaya rusak, maka daya tarik Bali akan hilang,” tegasnya.

Ia menekankan bahwa desa adat menjadi fondasi utama dalam menjaga keberlangsungan budaya Bali. Berbeda dengan desa dinas yang bersifat administratif, desa adat merupakan warisan leluhur yang memiliki nilai historis dan sosiologis kuat.

Penguatan desa adat sendiri telah dilakukan melalui Peraturan Daerah Nomor 4 Tahun 2019 tentang Desa Adat di Bali, termasuk regulasi turunan yang melindungi bahasa, aksara, dan busana Bali.

“Membangun atau mempertahankan budaya tidak bisa dibeli dengan uang. Ia membutuhkan rekayasa sosial, pemahaman ideologis, dan konsistensi, karena yang dihadapi adalah benda hidup (masyarakat) yang terus digempur oleh pengaruh eksternal,” terangnya.

Menurut Koster, sebagai destinasi global, Bali menghadapi berbagai kepentingan eksternal yang dapat membawa pengaruh positif maupun negatif. Oleh karena itu, kebijakan yang diambil harus dilakukan secara bijak dan tidak menimbulkan konflik baru.

“Ini yang menjadi tantangan besar Kita ke depan semuanya. Yang harus kita jaga sama-sama di Bali ini. Karena kita tengah menghadapi faktor eksternal yang ingin berkembang di Bali. Ingin tumbuh di Bali. Ada yang positif, ada yang enggak. Salah satu yang bisa mengancam kalau Kita enggak waspada, tidak kerja secara sistematis maka Bali ini akan rusak. Untuk itu, drasta Bali ini harus dijaga dengan kuat,” tambahnya.

Melalui seminar ini, diharapkan masyarakat, khususnya generasi muda dan tokoh adat, semakin memahami dan mengamalkan ajaran Hindu secara utuh berdasarkan Tattwa, Susila, dan Acara yang berlandaskan Dresta Bali.

Penguatan peran desa adat dan tokoh masyarakat dinilai menjadi kunci dalam menjaga keberlangsungan budaya Bali sekaligus menangkal pengaruh ideologi transnasional yang tidak sejalan dengan nilai-nilai lokal.

Beritabali.com

Berlangganan BeritaBali
untuk membaca cerita lengkapnya

Lanjutkan

Editor: Redaksi

Reporter: Humas Bali



Simak berita terkini dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Ikuti saluran Beritabali.com di WhatsApp Channel untuk informasi terbaru seputar Bali.
Ikuti kami