Akun
guest@beritabali.com
Beritabali ID: —
Langganan
Beritabali Premium Aktif
Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium
- Rabu, 1 Juli 2026
Koster: Perkuat Dresta Bali Tangkal Sampradaya Asing-Ideologi Transnasional
bbn/dok Humas Pemprov Bali/Koster: Perkuat Dresta Bali Tangkal Sampradaya Asing-Ideologi Transnasional.
BERITABALI.COM, DENPASAR.
Menghadapi arus modernisasi dan digitalisasi, masyarakat Bali diingatkan untuk tetap menjaga Dresta Bali secara sistematis tanpa bersikap reaktif. Upaya tersebut dinilai penting untuk mencegah konflik horizontal yang dapat berdampak pada stabilitas pariwisata dan ekonomi daerah.
Hal ini disampaikan Gubernur Bali Wayan Koster saat membuka seminar nasional Mewali Ring Uluning Kertha bertema Strategi Penguatan Dresta Bali dalam mencegah dan menangkal intervensi Sampradaya Asing Ideologi Transnasional. Kegiatan ini digelar oleh Forum Gerakan Adat Se-Nusantara (FORGAS) Provinsi Bali di Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Provinsi Bali, Jumat (3/4) pagi.
Baca juga:
Koster Tegas Tolak Sampradaya Asing di Bali
Dalam sambutannya, Koster menegaskan bahwa seminar tersebut bukan sekadar forum diskusi, melainkan bagian dari langkah strategis dalam memperkuat ideologi bangsa yang berlandaskan Pancasila dengan akar kearifan lokal.
“Bali tidak memiliki kekayaan sumber daya alam tambang (seperti minyak, gas, atau batu bara). Anugerah terbesar Bali adalah kebudayaan, yang menjadi hulu atau penggerak utama sektor pariwisata dan ekonomi. Jika budaya rusak, maka daya tarik Bali akan hilang,” tegasnya.
Ia menekankan bahwa desa adat menjadi fondasi utama dalam menjaga keberlangsungan budaya Bali. Berbeda dengan desa dinas yang bersifat administratif, desa adat merupakan warisan leluhur yang memiliki nilai historis dan sosiologis kuat.
Penguatan desa adat sendiri telah dilakukan melalui Peraturan Daerah Nomor 4 Tahun 2019 tentang Desa Adat di Bali, termasuk regulasi turunan yang melindungi bahasa, aksara, dan busana Bali.
“Membangun atau mempertahankan budaya tidak bisa dibeli dengan uang. Ia membutuhkan rekayasa sosial, pemahaman ideologis, dan konsistensi, karena yang dihadapi adalah benda hidup (masyarakat) yang terus digempur oleh pengaruh eksternal,” terangnya.
Menurut Koster, sebagai destinasi global, Bali menghadapi berbagai kepentingan eksternal yang dapat membawa pengaruh positif maupun negatif. Oleh karena itu, kebijakan yang diambil harus dilakukan secara bijak dan tidak menimbulkan konflik baru.
“Ini yang menjadi tantangan besar Kita ke depan semuanya. Yang harus kita jaga sama-sama di Bali ini. Karena kita tengah menghadapi faktor eksternal yang ingin berkembang di Bali. Ingin tumbuh di Bali. Ada yang positif, ada yang enggak. Salah satu yang bisa mengancam kalau Kita enggak waspada, tidak kerja secara sistematis maka Bali ini akan rusak. Untuk itu, drasta Bali ini harus dijaga dengan kuat,” tambahnya.
Melalui seminar ini, diharapkan masyarakat, khususnya generasi muda dan tokoh adat, semakin memahami dan mengamalkan ajaran Hindu secara utuh berdasarkan Tattwa, Susila, dan Acara yang berlandaskan Dresta Bali.
Penguatan peran desa adat dan tokoh masyarakat dinilai menjadi kunci dalam menjaga keberlangsungan budaya Bali sekaligus menangkal pengaruh ideologi transnasional yang tidak sejalan dengan nilai-nilai lokal.
Editor: Redaksi
Reporter: Humas Bali
Berita Terpopuler
ABOUT BALI
Tradisi Mepatung di Bangli, Penampahan Galungan yang Pererat Persaudaraan
Video Langka Calonarang dan Janger Pegok 1937 Ditemukan di Jerman
Tradisi Wadak di Mengani Tetap Lestari, Desa Batasi Satu Godel Setahun