Akun
guest@beritabali.com
Beritabali ID: —
Langganan
Beritabali Premium Aktif
Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium
- Minggu, 13 September 2026
25 Ekor Babi di Tejakula Mati Mendadak Terserang ASF
BERITABALI.COM, BULELENG.
Virus African Swine Fever (ASF) kembali menghantui peternak babi di Kabupaten Buleleng. Sebanyak 25 ekor babi milik warga di Kecamatan Tejakula dilaporkan mati mendadak akibat terserang virus tersebut.
Kepala Dinas Pertanian, Ketahanan Pangan dan Perikanan (Distankan) Buleleng, I Gede Melandrat, mengatakan mayoritas babi yang mati merupakan ternak peliharaan warga dengan sistem kandang terbuka dan pengawasan terbatas. Kasus tersebut dilaporkan terjadi sekitar pekan lalu.
ASF kembali merebak karena hingga kini belum ditemukan obat maupun vaksin yang benar-benar efektif untuk menangani virus tersebut.
“Sudah ada temuan di wilayah timur. Ini yang membuat kami prihatin karena obatnya memang belum ada,” ujarnya, Kamis (28/5).
Menurut Melandrat, babi yang mati rata-rata berusia sekitar enam bulan atau mendekati masa jual sehingga kerugian yang dialami peternak cukup besar.
“Sekitar 25 ekor mati mendadak. Itu positif ASF. Cuma kami memang tidak mengambil sampelnya, karena ketika diambil, khawatir virusnya semakin menyebar,” katanya.
ASF dikenal sebagai penyakit menular ganas pada ternak babi dengan penyebaran sangat cepat. Dalam beberapa kasus, ternak terlihat sehat pada pagi hari namun mendadak lemas dan mati dalam waktu singkat. “Kadang pagi masih bagus, sebentar langsung drop,” terang Melandrat.
Ia menduga penyebaran virus dipicu tingginya interaksi antarpeternak. Aktivitas saling mengunjungi kandang disebut menjadi salah satu faktor penyebaran ASF dari satu lokasi ke lokasi lainnya.
Selain itu, sanitasi kandang yang kurang baik serta penggunaan pakan yang tidak steril juga meningkatkan risiko penularan virus. “Kalau ada babi mati lalu ditengok peternak lain, ini bisa cepat menyebar,” jelasnya.
Untuk mencegah penyebaran lebih luas, peternak diminta membatasi akses keluar masuk kandang dan rutin menjaga kebersihan area peternakan.
“Pencegahannya dengan menjaga sanitasi kandang dan pakan. Kalau bisa pakannya dari lokal,” terangnya.
Melandrat menambahkan peternakan skala besar cenderung lebih aman karena menerapkan sistem biosekuriti ketat. Sementara peternakan rumahan dinilai masih rentan karena kandang terbuka dan tingginya aktivitas warga di sekitar ternak.
Peternak juga diimbau tidak membuang bangkai babi sembarangan. Ternak yang mati mendadak diminta segera dikubur atau dibakar untuk mencegah penyebaran virus semakin meluas. Saat ini dokter hewan dan petugas Puskeswan telah diterjunkan untuk memberikan sosialisasi terkait pencegahan penularan ASF kepada masyarakat.
Editor: Redaksi
Reporter: bbn/rat
Berita Terpopuler
Habib Diciduk di Vila Dalung, 152 Gram Ganja Disita Polisi
Dibaca: 3337 Kali
Anak-anak Bakar Tisu, Rumah di Banyuning Buleleng Ludes Terbakar
Dibaca: 793 Kali
ABOUT BALI
Turis Australia Ditangkap Bawa 37 Paket Ganja di Denpasar
Kronologi Gudang Rongsokan di Jalan Nakula Denpasar Terbakar
Riset BRIN Ungkap Alasan Masyarakat Bali Mulai Memilih Krematorium untuk Ngaben
Tradisi Mepatung di Bangli, Penampahan Galungan yang Pererat Persaudaraan